Senin, 22 September 2014

Sekilas Mengenai Novel Tango karya Avi Basuki




Sinopsis Cerita

Giovanni berdansa dengan gadis-gadis paling belia berkaki indah di lantai dansa. Ia membuat mereka melayang indah berwarna-warni seperti kupu-kupunmeriah di tengah lantai dansa paling pikuk sekalipun. Tak ada yang menolak uluran tangannya untuk menari. Rambutnya yang mulai menipis dan bentuk perutnya yang tak rata, matanya memang masih biru. Danielle juga sudah tidak muda lagi, rambutnya yang berkuncir mencoba menutup rambutnya yang mulai menipisdan gaya dandannya jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Tak ada gadis yang luput dari pandangannya, tak ada juga yang tak ingin berdansa dengannya, kecuali mungkin penari-penari lain yang kadang iri hati karena gayanya yang simpatik membuatnya memiliki banyak teman.
Danielle tak hanya membuat gadis-gadis itu menari, tapi juga membuat mereka tertawa dan jadi teman baiknya, walaupun ia tak pernah maembawa kekasih sebenarnya ke lantai dansa. Ia hanya bilang, kalau aula itu adalah ruang pribadinya. Ruang mimpinya dimana ia bisa jadi raja.
Allesio mungkin yang paling sepuh diantara mereka, rambutnya putih seperti merica, walau kaki-kakinya masih lincah seperti kijang, walaupun berdansa di luar birama, taka da gadis yang tak akan melupakan pandangan darinya. Matanya yang tajam membuat mereka seperti yang ketagihan.
Satu, dua, sepuluh, lima puluh, seatus dan terus, hamper samuanya seperti memiliki sebuah hidup parallel. Yang bagi mereka yang tidak berdansa akan sulit untuk jadi nyata. Hanya sebuah mimpi yang menjelang di saat mereka menutup mata di malam hari. Sebuah dunia dimana laki-laki paling membosankan bisa jadi dewa, laki-laki paling buruk bisa memeluk dan membuat gadis-gadis cantik itu bertekuk lutut dan melayang. Sepanjang ia bisa menari seperti ia seorang pangeran. Sepanjang sebuah dansa.








2.1 Analisis Tango
Dalam kumpulan cerpen di bab Tango ini, terdapat beberapa analisis yang saya temukan. Analisis tersebut berupa Implikatur Percakapan. Secara hemat saya, implikatur percakapan yaitu adanya suatu keterkaitan antara ujaran dari seorang penutur dan lawan tutrnya yang tampak dipahami secara tersirat. Kutipan di bawah ini merupakan wujud implikatur percakapan dalam sebuah cerita Tango yang saya analisis.
Aku bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah jatuh cinta kepadaku?” Di tengah ochos yang harus kutempuh, disela lantunan lagu sedih Astor Piazzola……. Kepalakupun akhirnya tertunduk lagi. Berpura-pura memandang sedih kearah lipit-lipit gaun bawahku yang seperti melayang terhembus ngina.
“angkat kepalamu!” serunya pedas.
(kutipan halaman 3 paragraf pertama dan kedua).
Pada kutipan tersebut, ungkapan dari si penutur kepada lawan tutur tidak bisa dipahami jelas apa maknanya secara literal, karena makna literalnya tidak disebutkan atau diungkapkan dalam pertuturan itu. Namun, makna dalam potongan dialog itu dapat dipahami secara tersira. Si penutur sebenarnya ingin mengetahui bagaimana perasaan lawan tuturnya, tapi si lawan tutur tidak menjawab pertanyaan si petutur hingga si penutur menundukan kepalanya entah karena kecewa atau apa. Kemudian si lawan tutur meminta si penutur untuk menatapnya, tidak menundukan kepalanya. Jika percakapan tersebut didengar oleh orang lain, mereka tentu tidak akan mengerti konteks pembicaraan mereka itu apa.
“Mengapa harus begitu merayu lagu-lagu itu?” tanyaku suatu hari ditengah-tengah latihan kami di ruang bawah tanah rumah mungilnya.
“Tango adalah sebuah pikiran sedih dimana dengannya kita bisa berdansa” katanya suatu hari mengutip kata-kata Pizzalo. (Halaman 6 paragraf 3).
 Dari kutipan tersebut, ungkapan si penutur dengan lawan tutur tidak begitu jelas maknanya secara literal, tapi tuturan tersebut dapat dipahami secara tersirat bahwa si petutur menanyakan kenapa lagu-lagu Tango begitu menyedihkan. Lalu si lawan tutur menjawab Tango adalah sebuah pikiran sedih dimana dengannya kita bisa berdansa. Hal tersebut tentunya dapat dipahami oleh si penutur dan lawan tutur (implikatur percakapan).
Kemudian, untuk maksim kualitas yang menghendaki setiap peserta tuturnya hanya memberikan konsentrasi secukupnya dan tidak berlebihan dapat dilihat dalam kutipan tersebut:
“Pandang aku, pandang aku! Serunya membenarkan setiap pandanganku lari ketempat lain. Membiarkan wajahku seakan bertambah dekat.
 “Jangan biarkan matamu lari ketempat lain, biarkan aku saja yang harus melihat manusia-manusia lain yang berdansa diblakangmu, biarkan aku jaga kaki-kakimu agar tidak terpeleset…” (halaman 7 paragraf ke-2).
Kata yang diucapkan oleh si penutur pada “Jangan biarkna matamu lari ketempat lain” itu terasa berlebihan, alangkah enak didengarnya jika kalimat tersebut “Jangan biarkan matamu ketempat lain” itu artinya mata si lawan tutur harus tetap terfokus pada si penutur, karena si penutur akan menutur lawan tutur untuk menari Tango dengan baik.    

2.2 Analisis Muerte Del Angel (Kematian Seorang Malaikat)
 “wahai manusia untuk permintaanmu itu, apa yang membuatmu begitu yakin bahwa sebagai gantinya kau bisa memberikanku sebuah kebahagiaan seperti yang kau janjikan?”
“aku bisa mengajarimu menari, menari tango.” (Halaman 33).
Dalam kutipan tersebut, ungkapan si penutur dan lawan tutur tidak bisa dipahami dengan jelas apa makna linear (makna sesungguhnya). Tapi, ungkapan tersebut bisa dipahami secara tersirat maknanya, bahwa sipenutur bertanya kepada lawan tutur tentang janji-janji kebahagiaan apa yang hendak ditawarkan oleh si lawan tutur. Kemudian si lawan tutur memberikan kebahagiaan/ kenikmatan untuk berdansa tango.
“Tolong, tolonglah aku, sekali ini saja, aku berjanji akan mengembalikan kebaikanmu ini berkali lipat yang tak terkira. Membuatmu malaikat cantik paling bahagia dibelahan dunia yang satu ini.” (Halaman 32 paragraf 1).
Pada kutipan tersebut terdapat adanya maksim kuantitas (yang berlebihan) yakni  ketika si penutur meminta tolong kepada si lawan tutur. Ia akan berjanji mengambilkan kebaikanmu ini berkali lipat yang terkira. Sudah jelas kalau berkali lipat itu jumlahnya tak terkira. Jadi tidak perlu diungkapkan lagi. Itu hanya membuat ungkapan itu terasa berlebihan.
“Ah tak tahu, saya kebetulan sedang berdansa weaktu itu jadi saya tidak terlalu memperhatikan mereak, lagipula kalau berdansa biasanya saya pejamkan mata, jadi ya tidak lihat apa-apa. Mungkin sudah bisa tanyakan partner saya. “hik hik hik …tak tahu..tak tahu…saya tak tahu.” (Halaman 40 paragraf terakhir).
Kutipan tersebut jenis penuturan yang gagal, karena si lawan tutur tidak berkenan untuk mengungkapkan apa yang diinginkan oleh si penutur karena karena si lawan tutur mengungkapkan “tidak tahu, saya tidak tahu…”
“Ia seorang bidadari, saya melihat sayap-sayap mungilnya bergerak selalu ketika ia berdansa” seorang tangoero menjelaskan dengan sia-sia. Beberapa detektif tampak menahan tawa ketika mendengar keterangan itu.
“Benar-benar saya tidak bohong, maka dari itu kalian tidak bisa menemukan tubuhnya lagi, ia pasti sudah terbang ke awng-awang membawa lukanya, pasti, pasti saya yakin sekali.” Tanguero it uterus mengejar detektif yang beranjak ke mobilnya. Wajahnya tampak begitu lelah, wajahnya tampak basah lembab berkeringat.
“Mengapa kalian tak percaya pada saya? Saya tak bohong. Kali ini benar saya tak bohong…” laki-laki yang putus asa itu tiba-tiba berhenti dan menyerah, membiarkan laki-laki gendut yang tak peduli itu berjalan menuju kendaraannya yang terparkir. (Halaman 41 paragraf 4 dan 5).
Ketiga kalimat yang diucapkan oleh seorang tanguero itu (si penutur) pada detektif (si lawan tutur) merupakan pertuturan yang gagal, karena si detektif (si lawan tutur) tidak tertarik oleh apa yang diungkapkan si penutur tersebut, sehingga proses percakapan tersebut tidak berjalan dengan baik.
2.3 Analisis Milanga Del Angel (Dansa Seorang Penari)
“Dolores, dimana kau sekarang?”
“Kamar 547”
“Engkau di hotel?”
Aku tak mendengar jawaban, hanya desah tangis.
“Bukankah kau seharusnya menginap dirumah Alma?”
Ia masih terdengah sesenggukan. Aku mengernyitkan dahiku. Tak mengerti…
“Di hotel mana?”
Hotel Savoia”
“Yang mana? Yang dekat pantai?”
“Iya”
“Tunggu aku kesitu, jangan kemana-mana”
(halaman 45-46).
Pada kutipan dialog tersebut, terlihat memenuhi maksim cara yang mana si penutur menanyakan dengan runtut tentang keberadaan si lawan tutur. Kata Hotel Savoia dan Kamar 547 sudah menjelaskan dengan runtut keberadaan si lawan tutur dan di pertegas lagi dengan kata …Yang Dekat Pantai.
“Lorenzo, aku tahu ia bukan tanggung jawabmu, tapi aku hanya minta tolong kalau kau sempat sesekali memperhatikannya” ibunya meneleponku pagi itu sebelum aku berangkat.
“Oke” jawabku singkat sibuk membenahi koper mungilku.
“Ah ada Alma dan sepupu yang lain. Ah kau masih ingat Alma kan?”
Dari kutipan tersebut, dapat ditarik pernyataan bahwa si lawan tutur (aku) tidak tertarik pada pembicaraan si penutur (ibu) hal ini terlihat karena si lawan tutur hanya merespon “oke” dan senyuman saja. Hal ini jelas menjadikan pertuturan gagal.
2.4 Analisis Kutukan Jengkol
“Aduh mas, Safinah kangen deh sama mas…”
“Mas” rengek Safina lagi
“Eh…”kata Hardiman setengah terkejut, terbangun dari lamunannya.
“Mikiran apa sih, mas? kok melamun?”
“Ah enggak,, capek aja”
(Halaman 72).
Dari kutipan dialog tersebut dapat dinyatakan bahwa dialog itu termasuk kedalam pertuturan yang gagal, karena si lawan tutur (Hardiman) tidak fokus atau konsentrasi pada pembicaraan si penutur (Safina). 


_Anna Devara_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Wacana Sastra Melalui Kegiatan Membaca Puisi

Membaca Puisi diartikan sebagai kegiatan menyampaikan puisi didepan hadirin dengan sepenuhnya membaca teks puisi. Unsur gerak anggota tu...