Sekilas
Mengenai Novel
Atheis Karya Achdiat Karta Mihardja
Kepuasan
telah berganti dengan kehampaan dan harapan telah berubah menjadi kekecewaan.
Agama dan ilmu pengetahuan harus bersatu. Jika tidak, agama maupun ilmu
pengetahuan bisa acak-acakan. Agama bisa kehilangan akal sehatnya, dianggap
ketinggalan zaman, bahkan antikemajuan. Sebaliknya, ilmu pengetahuan tanpa iman
kepada Tuhan Yang Maha Esa bisa lebih acak-acakan lagi. Beribadah bukanlah lantaran
kesadaran keimanan, melainkan karena ketakutan masuk neraka atau agar kelak
bisa masuk surga.
Tampak di sana, Achdiat Karta Mihardja menyikapi problem
kemasyarakatan masa itu. Bukan tahayul dan pengajaran agama yang kerap dihiasai
kisah surga dan neraka sampai kini masih dijumpai. Setiap kali menyebut namanya,
orang-orang cenderung mengidentikkan namanya dengan novelnya yang berjudul Atheis.
Novel Atheis merupakan salah satu karya terpenting Achdiat Karta Mihardja atau
AKM yang begitu kaya akan detail situasi, mengisahkan tentang pergeseran nilai
dalam masyarakat yang terus berubah dan pengaruhnya bagi pribadi-pribadi yang
terlibat.
Atheis adalah buku novel karya
Achdiat Karta Mihardja tahun 1949 yang mengambil setting
situasi sekitar tahun 1940-1942 di kota Bandung, tepatnya
di pedesaan sangat mendukung karakter tokoh utamanya karena pada umunya lingkungan
di daerah pedesaan sangat penuh dengan nilai-nilai ajaran agama dan adat
istiadat. Kita dapat sedikit memetik sikap baik dan menghindari atau mengurangi
sikap jelek dari tokoh dan penokohan novel ini yakni, Hasan yang dulunya seorang pemuda alim yang dididik teguh berpegang pada agama
dapat dikatakan mempunyai sikap pemberontak, karena menganggap paham,
pendirian dan kepercayaan yang ia ketahui adalah benar adanya.
Rusli salah seorang teman akrab
Hasan yang beraliran materialisme sejati, sangat berperan mempengaruhi pikiran
Hasan dalam hal filsafah kebendaan dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Orang tua Hasan yang taat beragama. Rukmini gadis baik-baik yang sangat dicintai Hasan. Kartini , perempuan kota yang modern,
bergaul bebas. Anwar
penganut aliran materialisme sejati, sangat anarkis atau tidak percaya dengan
keberadaan Tuhan, berhasil mempengaruhi pikiran Hasan.
Novelnya,
Atheis (1949) telah memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah RI tahun 1969
(R.J. Maguire menerjemahkan novel ini ke bahasa Inggris tahun 1972) dan Sjuman
Djaya mengangkatnya pula ke layar perak tahun 1974) dengan judul yang sama. Achdiat Karta Miharja mencoba keluar dari
ritme kebesaran novel-novel sebelumnya. Achdiat mencoba membuka babakan baru
yang tak pernah muncul sebelumnya. Novel ’’Atheis’’ jenis novel yang telah
keluar dari bentuk adat kebiasaan para pengarang-pengarang besar lainnya. Novel
ini telah jauh dari kawin paksa, tentang adat kampung yang mengungkung
kebebasan kaum muda atau yang membawa mudarat bagi masyarakat, juga tidak
berbicara tentang emansipasi wanita.
Achdiat
membuka pintu baru dalam novel ‘’Atheis’’ yang membicarakan tentang jiwa
manusia karena pengaruh ajaran ( isme ). Di sinilah yang menjadi ciri khas Achdiat
dalam novel ini. Sehingga novel ’’Atheis’’ menjadi besar dalam sastra
indonesia.Kebesaran novel ini terletak pada bentuk yang menggunakan teknik
berbingkai. Bingkaian cerita masih berlapis, di mana tokohnya diperkenalkan
lewat tokoh lain. Struktur novel ’’Atheis’’ juga sangat kompleks tampak pada
paparan para tokoh-tokohnya. Disamping itu, kebebasan novel ini terletak pada
isinya yang membicarakan persoalan kehidupan dan kematian dengan paparan yang
sangat simpatik Achdiat juga membuka kebebasan baru pada penulisan bentuk karya-karya
prosa. Ia tidak membatasi pada siapa kayanya dibahasa, pada siapa karyanya
dinikmati.
Suatu
karya yang baik untuk dibaca kembali oleh generasi muda masa kini. Selain
melestarikan karya salah satu maestro sastra bangsa ini, novel ini juga baik untuk
memberi contoh betapa berbahayanya lingkungan bagi mereka yang tidak
berhati-hati dalam memahami kehidupan. Terutama saat ini banyak paham dan
ajaran yang mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan
kehidupan. Novel ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan
sastra Indonesia, karena kedudukannya dalam sastra Indonesia sangat penting,
novel ini menjadi acuan para sarjana maupun peneliti, baik dalam bentuk buku,
skripsi, artikel, dan bentuk karya yang lain. Mengutip dari pepatah bijak
yakni, dalam setiap kelebihan pasti terdapat kekurangan, terutama manusia yang
jauh dari kesempurnaan. Begitu pula dalam novel Atheis karya AKM. Bahasa yang
digunakan sukar dimengerti.
Sebab lahir di zaman revolusi, maka
karya-karyanya juga mewakili suasana dan kehidupan revolusi di tanah air.
Pikiran-pikiran dan pesan yang ingin disampaikan Achdiat dalam karyanya
sebenarnya sangat sederhana, yakni bagaimana cara berpikir dan berbuat sebagaimana
layaknya manusia Indonesia? Penulis memberikan pesan moral yang
tersirat kepada pembaca agar selalu beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Amanat yang dapat diambil dari novel
ini yakni, agar kita mendapat bahan penghayatan dan pemahaman baru bagi jiwa,
disamping itu agar dapat melihat masa depan dengan tegar tidak akan tergoyang
apapun bentuk dan jenisnya serta oleh siapapun.
Anginpun sudah mati. Keimanan seseorang
itu bisa hilang seketika akibat akal dan nalar seorang manusia dipertanyakan
dan dicuci dengan teori-teori berupa ilmu pengetahuan dan teknologi oleh
manusia lain. Ketika Tuhan mencabut nyawa kita, bagaimanakah iman kita?
Siapakah yang mampu menolong kita di akhirat nanti? Apakah IPTEK atau keimanan
dan ketaqwaan kita? Ibarat jilatan api
diwaktu kekeringan. Jiwa kita akan kering tanpa keimanan dan ketakwaan.
Sinopsis
Novel
Hasan seorang pemeluk Islam yang taat beribadah,
begitu juga dengan orang tuanya adalah pemeluk Islam yang fanatik. Hasan
sekolah di MULO. Di sekolah itu dia bertemu dengan seorang gadis cantik yang
bernama Rukmini. Hubungan keduanya semakin akrab hingga akhirnya mereka saling
jatuh cinta. Rupanya kisah cinta mereka tidak bisa berlangsung lama. Oleh orang
tuanya, Rukmini disuruh kembali ke Jakarta karena akan dipinang oleh seorang
saudagar kaya. Ia lalu menuruti nasihat orang tuanya dengan menerima pinangan
suadagar kaya tersebut meski pernikahan itu tidak disertai rasa cinta.
Kejadian itu membuat hati Hasan
hancur. Ia menjadi frustasi, untuk menghilangkan
bayangan
Rukmini dari hidupnya, ia mengikuti aliran tarekat seperti yang telah lama
dianut
orang
tuanya. Walaupun dalam masa sulit, Hasan tidak meninggalkan ajaran agama,
bahkan ia
semakin
taat beribadah, tetapi kehidupanya berubah ketika dia bertemu teman lamanya,
yaitu
Rusli.
Rusli datang bersama seorang wanita cantik bernama Kartini. Ia adalah perempuan
modern dan pergaulanya bebas. Ia juga seorang janda. Ternyata sejak perjumpaan
itu, Hasan
menaruh
hati pada Kartini, alasanya Kartini memiliki karakter yang hampir sama dengan Rukmini.
Semenjak Hasan mencintai Kartini,
dia pun bergaul dengan teman-teman Kartini karena memiliki dasar agama yang
kuat. Hasan mencoba untuk menyadarkan Kartini dan Rusli dengan memberikan
ceramah-ceramahnya, tetapi karena Rusli juga pandai bicara. Kemudian dialah
yang berbalik menasihati Rusli. Tanpa disadari, pemikiran-pemikiran Rusli ternyata
melekat di kepala Hasan. Mulanya, Hasan tidak terpengaruh. Namun keyakinanya mulai
goyah ketika dia dikenalkan dengan seorang yang tidak percaya Tuhan, yaitu
Anwar. Pengetahuan Anwar tentang ketuhanan begitu luas. Sejak saat itulah
pemahaman Hasan tentang agama mulai berubah. Ia mulai meragukan keberadaan
Tuhan. Hasan semakin tersesat dari agama, pergaulanya semakin bebas. Ia
kemudian menikahi Kartini, tetapi pernikahan itu tidak diakui secara Islam
karena tidak sesuai dengan syariatnya.
Pernikahan mereka didasarkan atas
rasa suka sama suka. Pernikahan mereka ternyata tidak bahagia, kehidupan rumah
tangga mereka berantakan. Pergaulan Kartini semakin bebas. Lama-kelamaan Hasan
cemburu karena hubungan Kartini dengan Anwar semakin dekat. Hasan menganggap
Kartini telah selingkuh, tetapi kejadian itu telah menyadarkan kembali Hasan
tentang agama. Ia menyesal dan merasa berdosa atas apa yang telah diperbuat.
Pergaulan bebasnya dengan teman-teman yang tidak percaya Tuhan membuatnya
tersesat dan ragu dengan keberadaan Tuhan.
Hasan memutuskan bercerai dengan
Kartini dan ia pun pulang ke kampung halamana. Ia ingin meminta maaf pada
ayahnya. Sesampainya di kampung, ia menjumpai ayahnya sedang sakit keras.
Ternyata ayahnya tidak mau memaafkan Hasan, bahkan sampai maut menjemputnya,
ayah Hasan tetap berada pada pendirianya. Hasan merasa bahwa semua itu terjadi
karena perbuatan Anwar. Ia dendam pada Anwar dan berniat ingin membunuhnya. Suatu
malam, ia berencana ingin membunuh Anwar, kemudian ia mencari Anwar. Karena pada
waktu itu situasi sedang tidak aman, maka diberlakukan jam malam. Namun,
kejadian naas menimpa Hasan. Belum sempat ia membunuh Anwar, ia malah tertembak
peluru di punggungnya, tetapi sebelum
meninggal, ia masih sempat mengingat nama Allah dengan berkal-ikali menyebut Asma-Nya.
”Hasan jatuh
tersungkur. Darah menyerobot dari pahanya.ia jatuh pingsan. Peluru senapan
menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di
atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling- guling sebentar di atas aspal,
bermandikan darah. Kemudian dengan bibir melepaskan kata ”Allahu Akbar” tak
bergeriak lagi...” (halaman
250)
_Anna Devara_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar