Senin, 22 September 2014

AKM


Sekilas Mengenai Novel Atheis Karya Achdiat Karta Mihardja


Kepuasan telah berganti dengan kehampaan dan harapan telah berubah menjadi kekecewaan. Agama dan ilmu pengetahuan harus bersatu. Jika tidak, agama maupun ilmu pengetahuan bisa acak-acakan. Agama bisa kehilangan akal sehatnya, dianggap ketinggalan zaman, bahkan antikemajuan. Sebaliknya, ilmu pengetahuan tanpa iman kepada Tuhan Yang Maha Esa bisa lebih acak-acakan lagi. Beribadah bukanlah lantaran kesadaran keimanan, melainkan karena ketakutan masuk neraka atau agar kelak bisa masuk surga.
            Tampak di sana, Achdiat Karta Mihardja menyikapi problem kemasyarakatan masa itu. Bukan tahayul dan pengajaran agama yang kerap dihiasai kisah surga dan neraka sampai kini masih dijumpai. Setiap kali menyebut namanya, orang-orang cenderung mengidentikkan namanya dengan novelnya yang berjudul Atheis. Novel Atheis merupakan salah satu karya terpenting Achdiat Karta Mihardja atau AKM yang begitu kaya akan detail situasi, mengisahkan tentang pergeseran nilai dalam masyarakat yang terus berubah dan pengaruhnya bagi pribadi-pribadi yang terlibat.
            Atheis adalah buku novel karya Achdiat Karta Mihardja tahun 1949 yang mengambil setting situasi sekitar tahun 1940-1942 di kota Bandung, tepatnya di pedesaan sangat mendukung karakter tokoh utamanya karena pada umunya lingkungan di daerah pedesaan sangat penuh dengan nilai-nilai ajaran agama dan adat istiadat. Kita dapat sedikit memetik sikap baik dan menghindari atau mengurangi sikap jelek dari tokoh dan penokohan novel ini yakni, Hasan yang dulunya seorang pemuda alim yang dididik teguh berpegang pada agama dapat dikatakan mempunyai sikap pemberontak, karena menganggap paham, pendirian dan kepercayaan yang ia ketahui adalah benar adanya. Rusli salah seorang teman akrab Hasan yang beraliran materialisme sejati, sangat berperan mempengaruhi pikiran Hasan dalam hal filsafah kebendaan dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Orang tua Hasan  yang taat beragama. Rukmini gadis baik-baik yang sangat dicintai Hasan. Kartini , perempuan kota yang modern, bergaul bebas. Anwar penganut aliran materialisme sejati, sangat anarkis atau tidak percaya dengan keberadaan Tuhan, berhasil mempengaruhi pikiran Hasan.
            Novelnya, Atheis (1949) telah memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah RI tahun 1969 (R.J. Maguire menerjemahkan novel ini ke bahasa Inggris tahun 1972) dan Sjuman Djaya mengangkatnya pula ke layar perak tahun 1974) dengan judul yang sama.  Achdiat Karta Miharja mencoba keluar dari ritme kebesaran novel-novel sebelumnya. Achdiat mencoba membuka babakan baru yang tak pernah muncul sebelumnya. Novel ’’Atheis’’ jenis novel yang telah keluar dari bentuk adat kebiasaan para pengarang-pengarang besar lainnya. Novel ini telah jauh dari kawin paksa, tentang adat kampung yang mengungkung kebebasan kaum muda atau yang membawa mudarat bagi masyarakat, juga tidak berbicara tentang emansipasi wanita.
            Achdiat membuka pintu baru dalam novel ‘’Atheis’’ yang membicarakan tentang jiwa manusia karena pengaruh ajaran ( isme ).  Di sinilah yang menjadi ciri khas Achdiat dalam novel ini. Sehingga novel ’’Atheis’’ menjadi besar dalam sastra indonesia.Kebesaran novel ini terletak pada bentuk yang menggunakan teknik berbingkai. Bingkaian cerita masih berlapis, di mana tokohnya diperkenalkan lewat tokoh lain. Struktur novel ’’Atheis’’ juga sangat kompleks tampak pada paparan para tokoh-tokohnya. Disamping itu, kebebasan novel ini terletak pada isinya yang membicarakan persoalan kehidupan dan kematian dengan paparan yang sangat simpatik Achdiat juga membuka kebebasan baru pada penulisan bentuk karya-karya prosa. Ia tidak membatasi pada siapa kayanya dibahasa, pada siapa karyanya dinikmati.
            Suatu karya yang baik untuk dibaca kembali oleh generasi muda masa kini. Selain melestarikan karya salah satu maestro sastra bangsa ini, novel ini juga baik untuk memberi contoh betapa berbahayanya lingkungan bagi mereka yang tidak berhati-hati dalam memahami kehidupan. Terutama saat ini banyak paham dan ajaran yang mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan kehidupan. Novel ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan sastra Indonesia, karena kedudukannya dalam sastra Indonesia sangat penting, novel ini menjadi acuan para sarjana maupun peneliti, baik dalam bentuk buku, skripsi, artikel, dan bentuk karya yang lain. Mengutip dari pepatah bijak yakni, dalam setiap kelebihan pasti terdapat kekurangan, terutama manusia yang jauh dari kesempurnaan. Begitu pula dalam novel Atheis karya AKM. Bahasa yang digunakan sukar dimengerti.
            Sebab lahir di zaman revolusi, maka karya-karyanya juga mewakili suasana dan kehidupan revolusi di tanah air. Pikiran-pikiran dan pesan yang ingin disampaikan Achdiat dalam karyanya sebenarnya sangat sederhana, yakni bagaimana cara berpikir dan berbuat sebagaimana layaknya manusia Indonesia? Penulis memberikan pesan moral yang tersirat kepada pembaca agar selalu beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Amanat yang dapat diambil dari novel ini yakni, agar kita mendapat bahan penghayatan dan pemahaman baru bagi jiwa, disamping itu agar dapat melihat masa depan dengan tegar tidak akan tergoyang apapun bentuk dan jenisnya serta oleh siapapun.
            Anginpun sudah mati. Keimanan seseorang itu bisa hilang seketika akibat akal dan nalar seorang manusia dipertanyakan dan dicuci dengan teori-teori berupa ilmu pengetahuan dan teknologi oleh manusia lain. Ketika Tuhan mencabut nyawa kita, bagaimanakah iman kita? Siapakah yang mampu menolong kita di akhirat nanti? Apakah IPTEK atau keimanan dan ketaqwaan kita? Ibarat  jilatan api diwaktu kekeringan. Jiwa kita akan kering tanpa keimanan dan ketakwaan.





Sinopsis Novel

Hasan seorang pemeluk Islam yang taat beribadah, begitu juga dengan orang tuanya adalah pemeluk Islam yang fanatik. Hasan sekolah di MULO. Di sekolah itu dia bertemu dengan seorang gadis cantik yang bernama Rukmini. Hubungan keduanya semakin akrab hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta. Rupanya kisah cinta mereka tidak bisa berlangsung lama. Oleh orang tuanya, Rukmini disuruh kembali ke Jakarta karena akan dipinang oleh seorang saudagar kaya. Ia lalu menuruti nasihat orang tuanya dengan menerima pinangan suadagar kaya tersebut meski pernikahan itu tidak disertai rasa cinta.
            Kejadian itu membuat hati Hasan hancur. Ia menjadi frustasi, untuk menghilangkan
bayangan Rukmini dari hidupnya, ia mengikuti aliran tarekat seperti yang telah lama dianut
orang tuanya. Walaupun dalam masa sulit, Hasan tidak meninggalkan ajaran agama, bahkan ia
semakin taat beribadah, tetapi kehidupanya berubah ketika dia bertemu teman lamanya, yaitu
Rusli. Rusli datang bersama seorang wanita cantik bernama Kartini. Ia adalah perempuan modern dan pergaulanya bebas. Ia juga seorang janda. Ternyata sejak perjumpaan itu, Hasan
menaruh hati pada Kartini, alasanya Kartini memiliki karakter yang hampir sama dengan Rukmini.
            Semenjak Hasan mencintai Kartini, dia pun bergaul dengan teman-teman Kartini karena memiliki dasar agama yang kuat. Hasan mencoba untuk menyadarkan Kartini dan Rusli dengan memberikan ceramah-ceramahnya, tetapi karena Rusli juga pandai bicara. Kemudian dialah yang berbalik menasihati Rusli. Tanpa disadari, pemikiran-pemikiran Rusli ternyata melekat di kepala Hasan. Mulanya, Hasan tidak terpengaruh. Namun keyakinanya mulai goyah ketika dia dikenalkan dengan seorang yang tidak percaya Tuhan, yaitu Anwar. Pengetahuan Anwar tentang ketuhanan begitu luas. Sejak saat itulah pemahaman Hasan tentang agama mulai berubah. Ia mulai meragukan keberadaan Tuhan. Hasan semakin tersesat dari agama, pergaulanya semakin bebas. Ia kemudian menikahi Kartini, tetapi pernikahan itu tidak diakui secara Islam karena tidak sesuai dengan syariatnya.
            Pernikahan mereka didasarkan atas rasa suka sama suka. Pernikahan mereka ternyata tidak bahagia, kehidupan rumah tangga mereka berantakan. Pergaulan Kartini semakin bebas. Lama-kelamaan Hasan cemburu karena hubungan Kartini dengan Anwar semakin dekat. Hasan menganggap Kartini telah selingkuh, tetapi kejadian itu telah menyadarkan kembali Hasan tentang agama. Ia menyesal dan merasa berdosa atas apa yang telah diperbuat. Pergaulan bebasnya dengan teman-teman yang tidak percaya Tuhan membuatnya tersesat dan ragu dengan keberadaan Tuhan.
            Hasan memutuskan bercerai dengan Kartini dan ia pun pulang ke kampung halamana. Ia ingin meminta maaf pada ayahnya. Sesampainya di kampung, ia menjumpai ayahnya sedang sakit keras. Ternyata ayahnya tidak mau memaafkan Hasan, bahkan sampai maut menjemputnya, ayah Hasan tetap berada pada pendirianya. Hasan merasa bahwa semua itu terjadi karena perbuatan Anwar. Ia dendam pada Anwar dan berniat ingin membunuhnya. Suatu malam, ia berencana ingin membunuh Anwar, kemudian ia mencari Anwar. Karena pada waktu itu situasi sedang tidak aman, maka diberlakukan jam malam. Namun, kejadian naas menimpa Hasan. Belum sempat ia membunuh Anwar, ia malah tertembak  peluru di punggungnya, tetapi sebelum meninggal, ia masih sempat mengingat nama Allah dengan berkal-ikali menyebut Asma-Nya.
”Hasan jatuh tersungkur. Darah menyerobot dari pahanya.ia jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling- guling sebentar di atas aspal, bermandikan darah. Kemudian dengan bibir melepaskan kata ”Allahu Akbar” tak bergeriak lagi...” (halaman 250)

 

_Anna Devara_


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Wacana Sastra Melalui Kegiatan Membaca Puisi

Membaca Puisi diartikan sebagai kegiatan menyampaikan puisi didepan hadirin dengan sepenuhnya membaca teks puisi. Unsur gerak anggota tu...