Jumat, 19 September 2014

Riview Mengenai Instalasi Rindu Karya Ocky Sandilemon



Sepintas kilasan mengenai Instalasi Rindu

Assalamualaikum…..


Apa kabar pembaca? Semoga pembaca selalu dilindungi dan dirahmati Tuhan Yang Maha Esa. Pembaca, saya sebagai penulis riview mengenai drama Instalasi Rindu ini mengucapkan selamat membaca mengenai review yang tidak seberapa ini. Penulis (saya) sangat bangga dan merasa terhormat karena diijinkan oleh Kang Ocky untuk menulis riview atau beberapa catatan yang merupakan perwakilan beberapa pemikiran, pertanyaan, dan perasaan dari diri para penonton mengenai sajian drama Instalasi Rindu yang sangat penuh makna ini.
Pembaca pasti sangat penasaran mengenai, kanapa sih saya membuat riview mengenai Instalasi Rindu? Hal ini karena, saya sebagai penulis review sekaligus sebagai penonton Instalasi Rindu merasa sangat perlu untuk mencoba membuat riview ini. Saya tidak merasa diri saya ‘sok’ tapi, saya ingin mencoba untuk berbagi penafsiran saya (dari segi penonton Instalasi Rindu) dengan pembaca yang tentu lebih pintar daripada saya. Saya juga sangat senang dan menikmati suguhan drama yang berjudul Intalasi Rindu yang sebetulnya adalah interpretasi dari naskah Waiting for Godot karya Samuel Beckett . Instalasi Rindu digarap oleh Ocky Sandilemon yang telah dipentaskan pada tanggal 20 Agustus 2013 oleh para aktor (kak aciel, bang aray, kak dhika, kak hakim, dan kak angga) dapur seni hima diksatrasia FKIP Universitas Pakuan-Bogor. Saya juga berterima kasih kepada kang ocky yang telah dengan lapang dada mengijinkan saya untuk menulis review “Instalasi Rindu” ini dan membantu penulis (dengan berdialog mengenai Instalasi Rindu dan Waiting for Godot) dalam menyelesaikan riview mengenai Instalasi Rindu. 
Seperti yang telah penulis katakan dimuka bahwa, Waiting for Godot adalah ide utama pembentukan naskah Instalasi Rindu (yang sebetulnya Instalasi Rindu tidak memiliki naskah yang utuh, melainkan hanya berisi kerangka-kerangka garis besar adegan-adegannya saja). Penantian dan harapan terkadang menimbulkan kekecewaan yang sia-sia, tetapi terkadang juga menimbulkan sesuatu yang manis dan bahagia dari ujung penantian tersebut karena si penanti meyakini bahwa apa yang dinantikan akan hadir dan akan bermakna. Ini yang sekiranya penulis (saya) memaknai gagasan utama dari Instalasi Rindu. Secara gamblang, manusia disuguhi tentang kehidupan manusia yang sebenarnya hidup dalam lingkaran dunia absurditas dan diluar jangkauan hukum akal sehat.
Waiting for Godot, intinya mengisahkan kelima aktor utama dalam cerita dengan setia terus menunggu kedatangan Godot. Mereka terus membicarakan Godot dan terus menunggu. Mereka yakin bahwa Godot akan hadir dan datang ditengah-tengah mereka, walau sebenarnya diakhir cerita Godot tidak pernah hadir. Ia tak akan pernah menjadi penyelamat (juru selamat), karena sang Godot ada dalam diri tiap pribadi manusia dan bukan diluar diri manusia tersebut.
Lalu, bagaimana dengan Instalasi Rindu? Apa saja perbedaan Waiting for Godot dengan Instalasi Rindu? Kang Ocky menjelaskan secara gamblang dan jelas mengenai Instalasi Rindu bahwa, “Untuk sebagai bahan dasar semangat Instalasi Rindu adalah manusia sebenarnya hidup dalam lingkaran dunia absurd dan di luar jangkauan hukum akal sehat.. Hidup tak pernah sempurna, selalu ada selisih antara kenyataan dan harapan. Nah, ketika ada selisih antara harapan dan kenyataan, di situlah masalah lahir. Salah satu masalahnya adalah lahirnya Rindu. Jadi persoalan hidup adalah persoalan bagaimana mengolah selisih tersebut. Selisih yang juga menawarkan berjuta kemungkinan yang akan terjadi (kemudian juga menimbulkan selisih-selisih baru). Begitu dan begitu seterusnya. Perasaan rindu pun demikian, selalu hadir dan hadir meski telah terjadi pertemuan. Lalu untuk 'melipur lara' dirinya, manusia harus masuk dalam ruang hidup selanjutnya: setelah mengolah adalah menerima, sabar dan pasrah, diekspresikan menjadi Instalasi. Instalasi Rindu. Ekspresi rindu yang diinstalasikan ini salah satu upaya dialog antar manusia dan menegaskan bahwa selisih dalam hidup adalah nyata dan niscaya. Tak ada jalan lain, Terimalah! Akhirnya, hidup adalah seni mengolah kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan dari yang ter-purba sampai yang tak tahu belum terjamah manusia karena itu gaya dan kecenderungan saya dalam ekspresi artistik pasti akan lebih mengolah kemungkinan-kemungkina itu, tanpa solusi dan tanpa akhir. Pertunjukan sesungguhnya baru dimulai ketika layar ditutup dan penonton pulang”. Hal ini sungguh menjelaskan bahwa adanya unsur absurditas yang tidak mungkin bisa terjamah oleh manusia untuk melihat atau mengetahui tentang Yang Maha Gaib. Kemudian manusia meraskan kerinduan terhadap Yang Maha Gaib, lalu terbentuklah Instalasi Rindu yang merupakan buah rindu manusia pada Tuhan.

Seperti yang dikatakan oleh kang ocky bahwa “Naskah Waiting for Godot adalah puncak dari keputusasaan manusia (filsafat barat) dalam memahami eksistensi Tuhan. Sedangkan Instalasi Rindu adalah lawan dari pemikiran Godot. Pada hakikatnya perwakilan pemikiran filsafat timur yang tidak mengenal kata ‘menunggu’ tapi ‘menuju-bertemu-menyatu’. Dalam konteks ini adalah rindu. Instalasi Rindu berupaya menuju yang abstrak secara pikiran tapi masuk ke akal, perasaan, dan keyakinan. Kata ‘silahkan sentuh’ adalah salah satu pencapaian bahwa katanya, Yang Maha Gaib itu tak terdefinisikan, tapi ternyata Dia hadir nyata dikehidupan kita.” Pernyataan Kang Ocky tersebut menegaskan bahwa adanya unsur perbedaan keyakinan agama yang disuguhkan dalam kedua naskah tersebut. Selain itu, Yang Maha Gaib itu bisa dirasakan dan nyata dalam hidup manusia.
Waiting for Godot menurut penulis (saya) merupakan perwakilan hasil dari kekecewaan umat Kristen yang menunggu Tuhannya (Judas Iskariot) yang akan hadir ditengah-tengah mereka, tapi nyatanya tidak pernah hadir meski para pengikutnya sebetulnya meyakini Tuhannya akan hadir menemui mereka sesuai dengan janji yang telah Tuhan mereka katakan, tapi di sisi lain para pengikutnya merasa kecewa karena menunggu Tuhannya yang tak kunjung hadir. Waiting for Godot merupakan perwakilan dari dunia barat yang mempertentangkan Yang Maha Gaib dengan akal sehat. Godot disini adalah Tuhan. Unsur keyakinan kepada Sang Maha Gaib dipertentangkan dengan pikiran manusia yang rasional. Untuk apa sih menunggu Tuhan? Jangankan untuk menunggu, bertemu saja belum, melihat saja belum, berbicara saja belum. Jadi, apa yang harus ditunggu? Yang Gaib itu adalah tidak kelihatan; tersembunyi; tidak nyata, yang ada jika terus-terusan menunggu, perasaan kecewa dan sia-sia akan meliputi diri manusia dan tentu saja manusia akan merasa bingung serta terombang-ambing (pengaruh pertentangan keyakinan dan akal sehat atau logika). Dengan kata lain, Godot adalah keberadaan dari ketiadaan.
Sedangkan, dalam Instalasi Rindu, seperti yang telah dikatakan oleh Kang Ocky, Instalasi Rindu adalah perwakilan dari keyakinan dunia timur tentang sesuatu Yang Gaib, termasuk Tuhan. Adanya paham timur yang seutuhnya meyakini dan tidak pernah mempertentangkan keberadaan Yang Maha Gaib, bahwa kita dapat bertemu dengan Tuhan yaitu dengan cara beribadah dengan tulus dan ikhlas dan selalu melakukan segala perbuatan dan kebajikan terhadap sesama umat. Adanya hubungan dimensi transidental atau horizontal atau Hablumminallah atau hubungan antara Tuhan dengan manusia atau hubungan manusia dengan Tuhan dan adanya hubungan dimensi transendensi vertikal atau Hablumminannas atau hubungan manusia dengan manusia. Hakekat sebenarnya adalah proses yang selalu terkait dengan nilai-nilai transendensi vertikal (ketauhidan). Jadi, manusia tidak boleh hanya menunggu tanpa melakukan sesuatu. Artinya, manusia harus berusaha “menuju-bertemu-menyatu”, seperti yang dikatakan oleh Kang Ocky. Sekali lagi, penulis (saya) setuju bahwa paham ini merupakan paham dari dunia timur. Paham dunia timur percaya bahwa, ketika kita ingin bertemu dengan Tuhan, kita harus ‘menuju’ kearah kebaikan dengan cara beribadah dan beramal. Beribadah dan beramal adalah jalan manusia ‘menuju’ kepada Tuhan (Hablumminallah dan Hablumminannas). Arti kata ‘bertemu’ bukan diartikan secara harfiah bersua; berjumpa, melainkan ketika manusia beribadah dan beramal, manusia tanpa disadari telah bertemu dengan Tuhannya (yakni dirasakan dengan keyakinan). Kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan realitas mutlak (Allah) yang dapat diperoleh dengan melalui beberapa usaha tertentu. Tingkat pemahaman sesorang tentang Tuhan, juga menentukan tingkat kecerdasan secara spritual terhadap Tuhan. Dalam diri manusia itu sendiri ada berbagai kecerdasan yang menyangkut hal-hal seperti keilmuan, spritualitas, kejiwaan, dan ekonomi sosial. Tingkat kecerdasan ini, juga tidak selalu dilambangkan Kualitas pemahaman kita atas sesuatu hal, menentukan tingkat kecerdasan kita pada hal tersebut dengan kejeniusan otak atau kemampuan menganalisa sesuatu, karena ia melibatkan kedalaman hati (deep insight), pemahaman, dan kearifan.
Dengan beramal, manusia bisa merasakan nikmatnya beramal yang merupakan nikmat cinta kasih Tuhan. Sebenarnya, butiran kasih Tuhan sudah ada dalam diri setiap manusia dan setiap makhluk lainnya. Kemudian arti kata ‘bersatu’, penulis (saya) maknai bahwa ketika manusia beribadah kepada Tuhan dan berbuat baik terhadap sesama makhluk hidup, tanpa disadari kita sudah bersatu dengan Tuhan, karena seklai lagi dapat dikatakan bahwa keeksistensian Tuhan dapat dirasakan dari ciptaanNya. Zat Tuhan seolah-olah bersatu di dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya. Persatuannya merupakan persatuan zat sifat, ruh bersatu dengan zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Paham timur juga memberi gambaran optimisme, jarang yang menunjukkan pesimisme atau rasa putus asa, dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, bahkan sering menyuarakan kegembiraan spiritual dan kearifan dalam menghadapi pesona dunia. Tapi, tak jarang pula manusia mempertentangkan tentang hakikat Tuhan beserta keberadaanNya. Contohnya saja dalam Waiting for Godot yang seringkali membikin asumsi bahkan sampai membuat hipotesis tentang Tuhan yang seakan begitu pasti tapi pada akhirnya, manusia tidak mampu dengan logis menyikap tabir tentang Tuhan dan keberadaanNya.
Penulis (saya sebagai penonton Instalasi Rindu) melihat dan merasakan adanya perbedaan dan adanya unsur kebalikan antara Waiting for Godot dengan Instalasi Rindu. Penulis (saya) menyadari bahwa, adanya dialog-dialog yang disajikan secara gamblang dan dialog-dialog tersebut dibuat bertele-tele, berputar-putar, dan membingungkan tapi dialog-dialog tersebuat penyajiannya dibuat lucu, unik, dan komikal. Hal ini konon dibuat sengaja oleh Samuel Beckett bahwa irama bahasa tidak harus membosankan pada naskah Waiting for Godot, sedangkan dalam Instalasi Rindu tidak ada dialog-dialog yang disajikan oleh sang sutradara, Kang Ocky sengaja membuat gebrakan yang berbeda dan unik. Ya, unik sekali dimana tidak dihadirkannya dialog-dialog. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Kang Ocky bahwa “Di Instalasi Rindu, tak ada dialog-dialog teks verbal. Para aktor (Aciel, dkk) hanya bermain-main di wilayah verbal untuk mengingatkan bahwa hakikat dialog bukanlah oleh kata-kata yang sudah terlalu kaku, formal, dan melembaga. Kemurnian komunikasi harus dulu keluar dari lembaga-lembaga bahasa”. Hal ini berati bahwa, keeksistensian bahasa sebagai lambing bahasa tidak selamanya harus diucapkan. Terkadang hanya dengan lambang vokal (A-I-U-E-O) orang dapat berkomunikasi dengan baik, karena bahasa itu arbitler atau mana suka atau suka-suka. Yang perlu diingat bahwa, keeksistensian bahasa sebagai lambang komunikasi tidak harus selamanya terkungkung oleh keformalan yang kaku, karena sekali lagi menimbulkan keunikan tersendiri dalam memaknai maksud atau pesan yang ingin disampaikan oleh sang sutradara agar si penonton atau penikmat sajian dibuat untuk berpikir pintar dan kritis dalam menerka-nerka dan memaknai  makna tersurat isi dan pesan Instalasi Rindu. Penulis (saya) setuju dengan gebrakan Kang Ocky.
Instalasi Rindu adalah sajian drama yang penuh emosional. Para aktor dibuat sangat mempesona dan penuh kharismatik (dengan didandani memakai kain samping dan memegang bunga mawar yang sebetulnya saya sebagai penonton tidak terlalu memaknai kain samping sebagai lampang apa, hehe tapi yang jelas para aktor sangat mempesona). Kemudian, aura kerinduan yang melekat pada diri masing-masing aktor (selama pementasan) begitu melekat bak para aktor seakan-akan dilingkupi oleh rasa kegalauan dan kerinduan yang begitu menyiksa. Sehingga timbul perasaan haru dari saya (sebagai penonton Instalasi Rindu) dan timbul pula pertanyaan “Kok sampai segitunya sih ketika perasaan rindu itu timbul dan menyiksa hati mereka?”. Saya juga sempat berpikir bahwa, pendalaman yang mendalam bahwa penghayatan yang mendalam dalam diri para aktor tentu didukung oleh pengalaman perasaan yang campur aduk. Sampai-sampai ketika para aktor menangis akibat gejolak rindu, saya (penonton Instalasi Rindu) seakan merasakan hal yang serupa yaitu rasa kegalauan dan kesedihan akibat rindu.
Penulis (saya) juga menyadari bahwa adanya simbol yang terdapat dalam drama Instalasi Rindu yakni simbol dari tangan-tangan pada kain layar hitam. Tangan-tangan tersebut merupakan simbol dari gemuruh untuk menggapai rindu, tetapi sayangnya simbol tangan sangat sedikit, sehingga mungkin tidak terlalu disadari oleh penonton lain bahwa tangan di layar hitam adalah simbol. Hal ini disetujui oleh Kang Ocky bahwa, “Iya, tangan juga harusnya banyak, karena tangan adalah penanda riuhnya hidu ingin menggapai rindu”. Selain itu, pada konsep lampu, saya (penonton Instalasi Rindu) merasakan bahwa lampu atau lighting tidak terang, apa hal ini sengaja dibuat sedikit remang-remang atau mungkin fkip tidak punya lampu? Tapi ternyata konsep lampu harus terang atau white color. Hal ini juga diungkapkan sendiri oleh Kang Ocky bahwa, “Instalasi Rindu adalah emosional drama, konsep lampu harusnya dibuat terang atau white color biar pesona para aktor benar-benar terlihat”. Meski begitu, menurut saya (penonton Instalasi Rindu) sekali lagi ditekankan bahwa, pesona aktor berhasil disajikan dan benar-benar mempesona, meski dibawah lampu remang-remang dan perasaan para aktor juga dirasakan oleh saya (penonton dan penikmat Instalasi Rindu). Dan penyajian lagu ‘Rapuh’ yang dinyanyikan Agnes Monica terasa cocok dihadirkan dalam drama Instalasi Rindu, bukan semata-mata menjadi lagu yang penuh kegalauan, tapi penuh makna. Saya juga setuju bahwa ketika layar ditutup, petunjukan yang sebenarnya baru dimulai.
Penyajian riview tentang kupasan drama Instalasi Rindu hanya sampai disini, karena ilmu dan pandangan yang dimiliki oleh saya hanya sedikit. Tapi, alangkah lebih baik jika seseorang bisa dengan terbuka dan secara kritis untuk bertukar ilmu dan pandangan mengenai beberapa hal, termasuk mengenai drama yang mengagumkan ini. Tapi, sekali lagi, penulis (saya) tidak bermaksud untuk sok tahu atau untuk mengkritik tentang drama yang mengagumkan ini. Saya ucapkan terima kasih kepada Kang Ocky yang begitu baik dan hebat memberi kesempatan yang luar biasa kepada saya dalam membuat review Instalasi Rindu. Saya meminta maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan ketika membaca riview tersebut. Kritik dan saran sangat penulis (saya) tunggu. Terima kasih atas kebaikan pembaca yang enggan membaca kupasan sederhana ini.

Wassalamualaikum……



Sukabumi-Bogor,   Agustus 2014
Anna devara


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Wacana Sastra Melalui Kegiatan Membaca Puisi

Membaca Puisi diartikan sebagai kegiatan menyampaikan puisi didepan hadirin dengan sepenuhnya membaca teks puisi. Unsur gerak anggota tu...