Sepintas
kilasan mengenai Instalasi Rindu
Assalamualaikum…..
Apa
kabar pembaca? Semoga pembaca selalu dilindungi dan dirahmati Tuhan Yang Maha
Esa. Pembaca, saya sebagai penulis riview mengenai drama Instalasi Rindu ini
mengucapkan selamat membaca mengenai review yang tidak seberapa ini. Penulis
(saya) sangat bangga dan merasa terhormat karena diijinkan oleh Kang Ocky untuk
menulis riview atau beberapa catatan yang merupakan perwakilan beberapa
pemikiran, pertanyaan, dan perasaan dari diri para penonton mengenai sajian
drama Instalasi Rindu yang sangat penuh makna ini.
Pembaca
pasti sangat penasaran mengenai, kanapa sih saya membuat riview mengenai
Instalasi Rindu? Hal ini karena, saya sebagai penulis review sekaligus sebagai penonton
Instalasi Rindu merasa sangat perlu untuk mencoba membuat riview ini. Saya tidak
merasa diri saya ‘sok’ tapi, saya ingin mencoba untuk berbagi penafsiran saya
(dari segi penonton Instalasi Rindu) dengan pembaca yang tentu lebih pintar
daripada saya. Saya juga sangat senang dan menikmati suguhan drama yang
berjudul Intalasi Rindu yang sebetulnya adalah interpretasi dari naskah Waiting for Godot karya Samuel Beckett . Instalasi Rindu digarap oleh Ocky Sandilemon yang telah
dipentaskan pada tanggal 20 Agustus 2013 oleh para aktor (kak aciel, bang aray,
kak dhika, kak hakim, dan kak angga) dapur seni hima diksatrasia FKIP
Universitas Pakuan-Bogor. Saya juga berterima kasih kepada kang ocky yang telah
dengan lapang dada mengijinkan saya untuk menulis review “Instalasi Rindu” ini
dan membantu penulis (dengan berdialog mengenai Instalasi Rindu dan Waiting for Godot) dalam menyelesaikan
riview mengenai Instalasi Rindu.
Seperti
yang telah penulis katakan dimuka bahwa, Waiting
for Godot adalah ide utama pembentukan naskah Instalasi Rindu (yang
sebetulnya Instalasi Rindu tidak memiliki naskah yang utuh, melainkan hanya
berisi kerangka-kerangka garis besar adegan-adegannya saja). Penantian dan
harapan terkadang menimbulkan kekecewaan yang sia-sia, tetapi terkadang juga
menimbulkan sesuatu yang manis dan bahagia dari ujung penantian tersebut karena
si penanti meyakini bahwa apa yang dinantikan akan hadir dan akan bermakna. Ini
yang sekiranya penulis (saya) memaknai gagasan utama dari Instalasi Rindu.
Secara gamblang, manusia disuguhi tentang kehidupan manusia yang sebenarnya
hidup dalam lingkaran dunia absurditas dan diluar jangkauan hukum akal sehat.
Waiting for Godot, intinya
mengisahkan kelima aktor utama dalam cerita dengan setia terus menunggu
kedatangan Godot. Mereka terus membicarakan Godot dan terus menunggu. Mereka
yakin bahwa Godot akan hadir dan datang ditengah-tengah mereka, walau
sebenarnya diakhir cerita Godot tidak pernah hadir. Ia tak akan pernah menjadi
penyelamat (juru selamat), karena sang Godot ada dalam diri tiap pribadi manusia
dan bukan diluar diri manusia tersebut.
Lalu,
bagaimana dengan Instalasi Rindu? Apa saja perbedaan Waiting for Godot dengan Instalasi Rindu? Kang
Ocky menjelaskan secara gamblang dan jelas mengenai Instalasi Rindu bahwa,
“Untuk sebagai bahan dasar semangat Instalasi Rindu adalah manusia sebenarnya
hidup dalam lingkaran dunia absurd dan di luar jangkauan hukum akal sehat..
Hidup tak pernah sempurna, selalu ada selisih antara kenyataan dan harapan. Nah,
ketika ada selisih antara harapan dan kenyataan, di situlah masalah lahir.
Salah satu masalahnya adalah lahirnya Rindu. Jadi persoalan hidup adalah
persoalan bagaimana mengolah selisih tersebut. Selisih yang juga menawarkan
berjuta kemungkinan yang akan terjadi (kemudian juga menimbulkan
selisih-selisih baru). Begitu dan begitu seterusnya. Perasaan rindu pun
demikian, selalu hadir dan hadir meski telah terjadi pertemuan. Lalu untuk
'melipur lara' dirinya, manusia harus masuk dalam ruang hidup selanjutnya:
setelah mengolah adalah menerima, sabar dan pasrah, diekspresikan menjadi
Instalasi. Instalasi Rindu. Ekspresi rindu yang diinstalasikan ini salah satu
upaya dialog antar manusia dan menegaskan bahwa selisih dalam hidup adalah
nyata dan niscaya. Tak ada jalan lain, Terimalah! Akhirnya, hidup adalah seni
mengolah kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan dari yang ter-purba sampai yang
tak tahu belum terjamah manusia karena itu gaya dan kecenderungan saya dalam
ekspresi artistik pasti akan lebih mengolah kemungkinan-kemungkina itu, tanpa
solusi dan tanpa akhir. Pertunjukan sesungguhnya baru dimulai ketika layar
ditutup dan penonton pulang”. Hal ini sungguh menjelaskan bahwa adanya unsur
absurditas yang tidak mungkin bisa terjamah oleh manusia untuk melihat atau
mengetahui tentang Yang Maha Gaib. Kemudian manusia meraskan kerinduan terhadap
Yang Maha Gaib, lalu terbentuklah Instalasi Rindu yang merupakan buah rindu
manusia pada Tuhan.
Seperti
yang dikatakan oleh kang ocky bahwa “Naskah Waiting
for Godot adalah puncak dari keputusasaan manusia (filsafat barat) dalam memahami
eksistensi Tuhan. Sedangkan Instalasi Rindu adalah lawan dari pemikiran Godot.
Pada hakikatnya perwakilan pemikiran filsafat timur yang tidak mengenal kata ‘menunggu’
tapi ‘menuju-bertemu-menyatu’. Dalam konteks ini adalah rindu. Instalasi Rindu
berupaya menuju yang abstrak secara pikiran tapi masuk ke akal, perasaan, dan
keyakinan. Kata ‘silahkan sentuh’ adalah salah satu pencapaian bahwa katanya,
Yang Maha Gaib itu tak terdefinisikan, tapi ternyata Dia hadir nyata
dikehidupan kita.” Pernyataan Kang Ocky tersebut menegaskan bahwa adanya unsur
perbedaan keyakinan agama yang disuguhkan dalam kedua naskah tersebut. Selain
itu, Yang Maha Gaib itu bisa dirasakan dan nyata dalam hidup manusia.
Waiting for Godot
menurut penulis (saya) merupakan perwakilan hasil dari kekecewaan umat Kristen
yang menunggu Tuhannya (Judas Iskariot) yang akan hadir ditengah-tengah mereka,
tapi nyatanya tidak pernah hadir meski para pengikutnya sebetulnya meyakini
Tuhannya akan hadir menemui mereka sesuai dengan janji yang telah Tuhan mereka
katakan, tapi di sisi lain para pengikutnya merasa kecewa karena menunggu
Tuhannya yang tak kunjung hadir. Waiting
for Godot merupakan perwakilan dari dunia barat yang mempertentangkan Yang
Maha Gaib dengan akal sehat. Godot disini adalah Tuhan. Unsur keyakinan kepada
Sang Maha Gaib dipertentangkan dengan pikiran manusia yang rasional. Untuk apa
sih menunggu Tuhan? Jangankan untuk menunggu, bertemu saja belum, melihat saja
belum, berbicara saja belum. Jadi, apa yang harus ditunggu? Yang Gaib itu
adalah tidak kelihatan; tersembunyi; tidak nyata, yang ada jika terus-terusan
menunggu, perasaan kecewa dan sia-sia akan meliputi diri manusia dan tentu saja
manusia akan merasa bingung serta terombang-ambing (pengaruh pertentangan
keyakinan dan akal sehat atau logika). Dengan kata lain, Godot adalah
keberadaan dari ketiadaan.
Sedangkan, dalam Instalasi Rindu, seperti yang telah
dikatakan oleh Kang Ocky, Instalasi Rindu adalah perwakilan dari keyakinan
dunia timur tentang sesuatu Yang Gaib, termasuk Tuhan. Adanya paham timur yang
seutuhnya meyakini dan tidak pernah mempertentangkan keberadaan Yang Maha Gaib,
bahwa kita dapat bertemu dengan Tuhan yaitu dengan cara beribadah dengan tulus
dan ikhlas dan selalu melakukan segala perbuatan dan kebajikan terhadap sesama
umat. Adanya hubungan dimensi transidental atau horizontal atau Hablumminallah atau hubungan antara
Tuhan dengan manusia atau hubungan manusia dengan Tuhan dan adanya hubungan
dimensi transendensi
vertikal atau Hablumminannas atau
hubungan manusia dengan manusia. Hakekat sebenarnya adalah proses
yang selalu terkait dengan nilai-nilai transendensi vertikal (ketauhidan). Jadi,
manusia tidak boleh hanya menunggu tanpa melakukan sesuatu. Artinya, manusia
harus berusaha “menuju-bertemu-menyatu”, seperti yang dikatakan oleh Kang Ocky.
Sekali lagi, penulis (saya) setuju bahwa paham ini merupakan paham dari dunia
timur. Paham dunia timur percaya bahwa, ketika kita ingin bertemu dengan Tuhan,
kita harus ‘menuju’ kearah kebaikan dengan cara beribadah dan beramal.
Beribadah dan beramal adalah jalan manusia ‘menuju’ kepada Tuhan (Hablumminallah dan Hablumminannas). Arti kata ‘bertemu’ bukan diartikan secara harfiah
bersua; berjumpa, melainkan ketika manusia beribadah dan beramal, manusia tanpa
disadari telah bertemu dengan Tuhannya (yakni dirasakan dengan keyakinan). Kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan
realitas mutlak (Allah) yang dapat diperoleh dengan melalui beberapa usaha
tertentu. Tingkat
pemahaman sesorang tentang Tuhan, juga menentukan tingkat kecerdasan secara
spritual terhadap Tuhan. Dalam diri manusia itu sendiri ada berbagai kecerdasan
yang menyangkut hal-hal seperti keilmuan, spritualitas, kejiwaan, dan ekonomi sosial.
Tingkat kecerdasan ini, juga tidak selalu dilambangkan Kualitas pemahaman kita
atas sesuatu hal, menentukan tingkat kecerdasan kita pada hal tersebut dengan
kejeniusan otak atau kemampuan menganalisa sesuatu, karena ia melibatkan
kedalaman hati (deep insight),
pemahaman, dan kearifan.
Dengan
beramal, manusia bisa merasakan nikmatnya beramal yang merupakan nikmat cinta
kasih Tuhan. Sebenarnya, butiran kasih Tuhan sudah ada dalam diri setiap
manusia dan setiap makhluk lainnya. Kemudian arti kata ‘bersatu’, penulis
(saya) maknai bahwa ketika manusia beribadah kepada Tuhan dan berbuat baik
terhadap sesama makhluk hidup, tanpa disadari kita sudah bersatu dengan Tuhan,
karena seklai lagi dapat dikatakan bahwa keeksistensian Tuhan dapat dirasakan
dari ciptaanNya. Zat
Tuhan seolah-olah bersatu di dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan
dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya. Persatuannya
merupakan persatuan zat sifat, ruh
bersatu dengan zat sifat Tuhan
dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Paham timur juga memberi gambaran optimisme, jarang yang
menunjukkan pesimisme atau rasa putus asa, dalam menghadapi berbagai persoalan
kehidupan, bahkan sering menyuarakan kegembiraan spiritual dan kearifan dalam
menghadapi pesona dunia. Tapi, tak jarang pula manusia
mempertentangkan tentang hakikat Tuhan beserta keberadaanNya. Contohnya saja
dalam Waiting for Godot yang
seringkali membikin asumsi bahkan sampai membuat hipotesis tentang Tuhan yang
seakan begitu pasti tapi pada akhirnya, manusia tidak mampu dengan logis
menyikap tabir tentang Tuhan dan keberadaanNya.
Penulis
(saya sebagai penonton Instalasi Rindu) melihat dan merasakan adanya perbedaan
dan adanya unsur kebalikan antara Waiting
for Godot dengan Instalasi Rindu. Penulis (saya) menyadari bahwa, adanya
dialog-dialog yang disajikan secara gamblang dan dialog-dialog tersebut dibuat
bertele-tele, berputar-putar, dan membingungkan tapi dialog-dialog tersebuat
penyajiannya dibuat lucu, unik, dan komikal. Hal ini konon dibuat sengaja oleh Samuel Beckett bahwa irama bahasa
tidak harus membosankan pada naskah Waiting for Godot, sedangkan dalam Instalasi Rindu tidak ada
dialog-dialog yang disajikan oleh sang sutradara, Kang Ocky sengaja membuat
gebrakan yang berbeda dan unik. Ya, unik sekali dimana tidak dihadirkannya
dialog-dialog. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Kang Ocky bahwa “Di Instalasi
Rindu, tak ada dialog-dialog teks verbal. Para aktor (Aciel, dkk) hanya
bermain-main di wilayah verbal untuk mengingatkan bahwa hakikat dialog bukanlah
oleh kata-kata yang sudah terlalu kaku, formal, dan melembaga. Kemurnian
komunikasi harus dulu keluar dari lembaga-lembaga bahasa”. Hal ini berati
bahwa, keeksistensian bahasa sebagai lambing bahasa tidak selamanya harus
diucapkan. Terkadang hanya dengan lambang vokal (A-I-U-E-O) orang dapat
berkomunikasi dengan baik, karena bahasa itu arbitler atau mana suka atau
suka-suka. Yang perlu diingat bahwa, keeksistensian bahasa sebagai lambang
komunikasi tidak harus selamanya terkungkung oleh keformalan yang kaku, karena
sekali lagi menimbulkan keunikan tersendiri dalam memaknai maksud atau pesan
yang ingin disampaikan oleh sang sutradara agar si penonton atau penikmat
sajian dibuat untuk berpikir pintar dan kritis dalam menerka-nerka dan
memaknai makna tersurat isi dan pesan
Instalasi Rindu. Penulis (saya) setuju dengan gebrakan Kang Ocky.
Instalasi
Rindu adalah sajian drama yang penuh emosional. Para aktor dibuat sangat
mempesona dan penuh kharismatik (dengan didandani memakai kain samping dan
memegang bunga mawar yang sebetulnya saya sebagai penonton tidak terlalu
memaknai kain samping sebagai lampang apa, hehe tapi yang jelas para aktor
sangat mempesona). Kemudian, aura kerinduan yang melekat pada diri
masing-masing aktor (selama pementasan) begitu melekat bak para aktor
seakan-akan dilingkupi oleh rasa kegalauan dan kerinduan yang begitu menyiksa.
Sehingga timbul perasaan haru dari saya (sebagai penonton Instalasi Rindu) dan
timbul pula pertanyaan “Kok sampai segitunya sih ketika perasaan rindu itu
timbul dan menyiksa hati mereka?”. Saya juga sempat berpikir bahwa, pendalaman
yang mendalam bahwa penghayatan yang mendalam dalam diri para aktor tentu
didukung oleh pengalaman perasaan yang campur aduk. Sampai-sampai ketika para
aktor menangis akibat gejolak rindu, saya (penonton Instalasi Rindu) seakan
merasakan hal yang serupa yaitu rasa kegalauan dan kesedihan akibat rindu.
Penulis
(saya) juga menyadari bahwa adanya simbol yang terdapat dalam drama Instalasi
Rindu yakni simbol dari tangan-tangan pada kain layar hitam. Tangan-tangan
tersebut merupakan simbol dari gemuruh untuk menggapai rindu, tetapi sayangnya
simbol tangan sangat sedikit, sehingga mungkin tidak terlalu disadari oleh
penonton lain bahwa tangan di layar hitam adalah simbol. Hal ini disetujui oleh
Kang Ocky bahwa, “Iya, tangan juga harusnya banyak, karena tangan adalah
penanda riuhnya hidu ingin menggapai rindu”. Selain itu, pada konsep lampu,
saya (penonton Instalasi Rindu) merasakan bahwa lampu atau lighting tidak terang, apa hal ini sengaja dibuat sedikit
remang-remang atau mungkin fkip tidak punya lampu? Tapi ternyata konsep lampu
harus terang atau white color. Hal
ini juga diungkapkan sendiri oleh Kang Ocky bahwa, “Instalasi Rindu adalah
emosional drama, konsep lampu harusnya dibuat terang atau white color biar pesona para aktor benar-benar terlihat”. Meski
begitu, menurut saya (penonton Instalasi Rindu) sekali lagi ditekankan bahwa,
pesona aktor berhasil disajikan dan benar-benar mempesona, meski dibawah lampu
remang-remang dan perasaan para aktor juga dirasakan oleh saya (penonton dan
penikmat Instalasi Rindu). Dan penyajian lagu ‘Rapuh’ yang dinyanyikan Agnes
Monica terasa cocok dihadirkan dalam drama Instalasi Rindu, bukan semata-mata menjadi
lagu yang penuh kegalauan, tapi penuh makna. Saya juga setuju bahwa ketika
layar ditutup, petunjukan yang sebenarnya baru dimulai.
Penyajian
riview tentang kupasan drama Instalasi Rindu hanya sampai disini, karena ilmu
dan pandangan yang dimiliki oleh saya hanya sedikit. Tapi, alangkah lebih baik
jika seseorang bisa dengan terbuka dan secara kritis untuk bertukar ilmu dan
pandangan mengenai beberapa hal, termasuk mengenai drama yang mengagumkan ini.
Tapi, sekali lagi, penulis (saya) tidak bermaksud untuk sok tahu atau untuk
mengkritik tentang drama yang mengagumkan ini. Saya ucapkan terima kasih kepada
Kang Ocky yang begitu baik dan hebat memberi kesempatan yang luar biasa kepada
saya dalam membuat review Instalasi Rindu. Saya meminta maaf apabila ada
kata-kata yang tidak berkenan ketika membaca riview tersebut. Kritik dan saran
sangat penulis (saya) tunggu. Terima kasih atas kebaikan pembaca yang enggan
membaca kupasan sederhana ini.
Wassalamualaikum……
Sukabumi-Bogor, Agustus 2014
Anna devara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar