Senin, 22 September 2014

Esai tentang penulis : N. H. Dhini




Pertemuan Dua Hati Karya N.H. Dhini

Cinta terbentuk ketika Allah mempertemukan kedua hati manusia, kemudian menyatukannya dengan kasih dan sayang, disitulah manusia akan menemukan arti cinta yang sebenarnya. Cinta mempertemukan dan menjadikan manusia yang hatinya hampa menjadi damai dan penuh warna. Cinta yang sesungguhnya memberikan kasih sayang yang tulus kepada setiap pasangan dan orang disekitarnya. Cinta adalah kebutuhan dan kelengkapan manusia untuk menjalani hidup.
Novel karangan N.H. Dhini yang berjudul Pertemuan Dua Hati, dikemas sedemikian rupa oleh pengarang yang terdiri dari tokoh-tokoh dan penokohannya, seperti tokoh Ibu Suci yang mempunyai watak penyayang, penyabar, pengertian, dan profesional. Tokoh waskito yang mempunyai watak pemarah, penurut. Tokoh Kakek Waskito berwatak pendiam, penyayang, tegas. Tokoh Nenek Waskito yang mempunyai sikap penyayang, pengertian. Ayah Waskito berwatak tegas. Selain itu, alur cerita yang digunakan penulis yaitu alur maju. Adapun Latar ceritanya di Purwodadi, di sekolah, rumah, rumah nenek dan kakek Waskito, dan alur waktunya yaitu pagi hari, siang hari, dan malam hari. Sebuah cerita yang ditulis oleh N.H. Dhini ini mempunyai beberapa kelebihan yang membuat pembaca berdecak kagum jika membaca novel ini. Kenapa begitu? Karena novel ini bercerita tentang seorang guru yang membangun psikologis anak yang bermasalah akibat didikan orang tua yang salah yang membuat emosi anak tidak stabil.
Menurut kami, pengarang ingin menegur orang tua yang selalu memberikan dan menyelesaikan segala sesuatu dengan materi seperti uang, tanpa memberikan kasih sayang yang sesungguhnya kepada anaknya, orang tua tidak memperhatikan keinginan anak dan selalu memaksakan kehendaknya itu bukannya memberikan didikan yang baik untuk anak malah membuat anak menjadi tidak mengerti apa yang baik dan tidak baik untuk diri dan orang lain. Pengarang membuktikan keahlian dan keintelektualannya dalam menulis cerita terutama objek ceritanya adalah anak nakal dan guru pengarangnya menjelma menjadi guru yang profesional lewat karakter Ibu Suci yang telaten mendidik siswanya, Waskito.
Pepatah bijak mengatakan setiap kelebihan pasti ada kekurangan. Begitu juga pada novel Pertemuan Dua Hati ini. Pada gaya penulisannya terdapat kalimat yang tidak efektif yang dapat merusak tatanan gramatik, pada halaman dua puluh tujuh yaitu, Tatapan pandanganku, tetapi rupa-rupanya dia pun ragu-ragu bersikap terbuka. Seharusnya pandanganku atau pendapatku rupanya dia pun ragu bersikap atau untuk bersikap terbuka. Selain itu, penempatan tanda baca seperti titik dan koma kurang tepat, bisa dilihat di halaman dua puluh tiga dan halaman dua puluh empat.
Menurut kami, pengungkapan atau penulisan cerita oleh penulis terkesan bertele-tele. Kebanyakan penulis menarasikan atau menggambarkan suatu hal bertele-tele mungkin agar pembaca bisa berimajinasi jika penulis menggambarkannya dengan gambling dan agar terkesan indah, seperti pada bab Pindah, bab Waskito, dan bab Tugas yang terkesan penulisan ceritanya menjemukan pembaca. Pengenalan dituliskan pada bab Pindah dan bab Waskito. Padahal menurut kami jika permasalahan awal ditulis pada bab Waskito tidak akan membuat pembaca jenuh dan akan membuat pembaca penasaran untuk membaca bab berikutnya.
Penulis memberikan pesan moral pada novel ini secara tersirat, yakni jangan memaksakan kehendak diri sendiri sebagai orang tua agar  anak mengikuti dan mematuhi apa yang diberikannya. Pentingnya berkomunikasi dari hati ke hati adalah jalan terbaik agar kita nengetahui keinginan anak. Penulis pada novel ini mengajarkan pada pembaca untuk menjadi orang tua yang baik sekaligus guru yang baik dan profesional.
Kami merasa di setiap penulisan cerita baik itu penggambaran atau penjelmaan tokoh yang kebanyakan di paparkan oleh  penulis melalui dialog-dialog antar tokoh, tokoh utama Ibu Suci statis wataknya artinya tidak berubah-ubah yang selalu pengertian, sabar, dan professional. Hal ini menurut kami kurang baik, karena novel pada umumnya menceritakan kehidupan seorang manusia yang mempunyai watak berubah-ubah, sehingga orang yang baik tidak hanya memiliki watak baik tapi juga mempunyai watak buruk yang merupakan kodrati manusia yang telah diberikan Allah.
Pendidikan dengan mendepankan perasaan tatkala penting. Anak akan mudah dibimbing dan diarahkan jika dididik dengan ilmu pengetahuan berupa akal dan perasaan berupa naluri yang penuh kasih dan saling mengerti, karena pendidikan utama dan pertama yang akan membentuk karakter anak yaitu pendidikan yang dilakukan oleh orang tua di rumah. Jika orang tua tidak mempunyai sikap terbuka maka anak akan selalu membantah dan tidak mendengarkan manusia.   


_Anna Devara_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Wacana Sastra Melalui Kegiatan Membaca Puisi

Membaca Puisi diartikan sebagai kegiatan menyampaikan puisi didepan hadirin dengan sepenuhnya membaca teks puisi. Unsur gerak anggota tu...