Pertemuan Dua Hati Karya N.H.
Dhini
Cinta terbentuk ketika Allah mempertemukan kedua
hati manusia, kemudian menyatukannya dengan kasih dan sayang, disitulah manusia
akan menemukan arti cinta yang sebenarnya. Cinta mempertemukan dan menjadikan manusia
yang hatinya hampa menjadi damai dan penuh warna. Cinta yang sesungguhnya
memberikan kasih sayang yang tulus kepada setiap pasangan dan orang disekitarnya.
Cinta adalah kebutuhan dan kelengkapan manusia untuk menjalani hidup.
Novel
karangan N.H. Dhini yang berjudul Pertemuan Dua Hati, dikemas sedemikian rupa
oleh pengarang yang terdiri dari tokoh-tokoh dan penokohannya, seperti tokoh Ibu
Suci yang mempunyai watak penyayang, penyabar, pengertian, dan profesional.
Tokoh waskito yang mempunyai watak pemarah, penurut. Tokoh Kakek Waskito berwatak
pendiam, penyayang, tegas. Tokoh Nenek Waskito yang mempunyai sikap penyayang,
pengertian. Ayah Waskito berwatak tegas. Selain itu, alur cerita yang digunakan
penulis yaitu alur maju. Adapun Latar ceritanya di Purwodadi, di sekolah,
rumah, rumah nenek dan kakek Waskito, dan alur waktunya yaitu pagi hari, siang
hari, dan malam hari. Sebuah cerita yang ditulis oleh N.H. Dhini ini mempunyai
beberapa kelebihan yang membuat pembaca berdecak kagum jika membaca novel ini.
Kenapa begitu? Karena novel ini bercerita tentang seorang guru yang membangun
psikologis anak yang bermasalah akibat didikan orang tua yang salah yang
membuat emosi anak tidak stabil.
Menurut
kami, pengarang ingin menegur orang tua yang selalu memberikan dan
menyelesaikan segala sesuatu dengan materi seperti uang, tanpa memberikan kasih
sayang yang sesungguhnya kepada anaknya, orang tua tidak memperhatikan
keinginan anak dan selalu memaksakan kehendaknya itu bukannya memberikan
didikan yang baik untuk anak malah membuat anak menjadi tidak mengerti apa yang
baik dan tidak baik untuk diri dan orang lain. Pengarang membuktikan keahlian
dan keintelektualannya dalam menulis cerita terutama objek ceritanya adalah
anak nakal dan guru pengarangnya menjelma menjadi guru yang profesional lewat
karakter Ibu Suci yang telaten mendidik siswanya, Waskito.
Pepatah
bijak mengatakan setiap kelebihan pasti ada kekurangan. Begitu juga pada novel Pertemuan
Dua Hati ini. Pada gaya penulisannya terdapat kalimat yang tidak efektif yang dapat
merusak tatanan gramatik, pada halaman dua puluh tujuh yaitu, Tatapan pandanganku, tetapi rupa-rupanya dia
pun ragu-ragu bersikap terbuka. Seharusnya pandanganku atau pendapatku
rupanya dia pun ragu bersikap atau untuk bersikap terbuka. Selain itu, penempatan
tanda baca seperti titik dan koma kurang tepat, bisa dilihat di halaman dua
puluh tiga dan halaman dua puluh empat.
Menurut
kami, pengungkapan atau penulisan cerita oleh penulis terkesan bertele-tele. Kebanyakan
penulis menarasikan atau menggambarkan suatu hal bertele-tele mungkin agar
pembaca bisa berimajinasi jika penulis menggambarkannya dengan gambling dan
agar terkesan indah, seperti pada bab Pindah, bab Waskito, dan bab Tugas yang
terkesan penulisan ceritanya menjemukan pembaca. Pengenalan dituliskan pada bab
Pindah dan bab Waskito. Padahal menurut kami jika permasalahan awal ditulis
pada bab Waskito tidak akan membuat pembaca jenuh dan akan membuat pembaca
penasaran untuk membaca bab berikutnya.
Penulis
memberikan pesan moral pada novel ini secara tersirat, yakni jangan memaksakan
kehendak diri sendiri sebagai orang tua agar
anak mengikuti dan mematuhi apa yang diberikannya. Pentingnya
berkomunikasi dari hati ke hati adalah jalan terbaik agar kita nengetahui
keinginan anak. Penulis pada novel ini mengajarkan pada pembaca untuk menjadi
orang tua yang baik sekaligus guru yang baik dan profesional.
Kami
merasa di setiap penulisan cerita baik itu penggambaran atau penjelmaan tokoh
yang kebanyakan di paparkan oleh penulis
melalui dialog-dialog antar tokoh, tokoh utama Ibu Suci statis wataknya artinya
tidak berubah-ubah yang selalu pengertian, sabar, dan professional. Hal ini
menurut kami kurang baik, karena novel pada umumnya menceritakan kehidupan
seorang manusia yang mempunyai watak berubah-ubah, sehingga orang yang baik tidak
hanya memiliki watak baik tapi juga mempunyai watak buruk yang merupakan
kodrati manusia yang telah diberikan Allah.
Pendidikan
dengan mendepankan perasaan tatkala penting. Anak akan mudah dibimbing dan diarahkan
jika dididik dengan ilmu pengetahuan berupa akal dan perasaan berupa naluri yang
penuh kasih dan saling mengerti, karena pendidikan utama dan pertama yang akan
membentuk karakter anak yaitu pendidikan yang dilakukan oleh orang tua di
rumah. Jika orang tua tidak mempunyai sikap terbuka maka anak akan selalu
membantah dan tidak mendengarkan manusia.
_Anna
Devara_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar