Selasa, 23 Juni 2020

Cerpen semasa SMA, jadikanlah kenangan


Ketika Cinta Itu mati, Kamu Tidak Perlu Ikut Mati Bersamanya


            Cinta pertama ini sebenarnya dimulai dari keisenganku dengan sahabatku, yang bernama Desi. Kami  selalu mengecengi bangku belakang ketika ajaran baru dimulai, tepatnya bangku yang tengah ditempati Arie dan Kiki. Ritual ini sering kami lakukan sewaktu kami duduk dibangku SMP kelas IX. Desi tentu saja punya alasan untuk melakukan ritual ini karena Desi menyukai Arie yang duduk dengan Kiki, sedangkan aku? Aku tidak punya alasan sama sekali untuk terus mengecengi mereka.
            Hari berganti dengan cepat seperti ketika aku membalikkan lembaran buku yang sendari kemarin kubaca ini. Halus namun  kasar memperlihatkan goresan tinta di buku tersebut. Kisahnyapun terukir dengan penuh warna. Ya, tentu saja penuh warna agar aku bertah membacanya. Sampai akhirnya, lembaran buku yang kubaca ini terpaksa kubuka dengan sangat kasar, karena tiba-tiba aku dikagetkan dengan omongan Desi yang ngaur itu.

 “Nina, kamu suka sama Kiki ya?”
“Hah?”
“Kamu suka Kiki?” ucapnya mendorong keras buku ini kearah wajahku yang berkerut.
“Oh my god, kamu ngomong apa sih, ga ngerti...
“Ya ampun, masih ga ngaku!!”
“Ngaku buat?”
“Ya buat pandangan kamu yang selalu bersinar kalo ngeliat dia”
“Apa? Emangnya dia pemandangan yang antik apa?”
“Tapi kamu suka kan?”
“Apaan sih, amit-amit deh.”
“Eh jangan gitu, ntar malah suka. Rasain ke makan omongan sendiri.”
“Habisnya kamu malah fitnah aku kayak gitu, amit-amit suka sama orang yang jutek dan sok cool kaya dia.”
“Tapi kenapa kamu ngecengin terus bangkunya Arie, jangan  bilang kamu juga suka sama Arie.”
“Itu kan teori kamu”. Timbalku sambal melanjutkan membaca buku yang dari tadi aku buka.
 "Enggak apa-apa sih, asal jangan suka ke si Arie aja"
"Jangan sampai deh, aku suka sama  si jutek itu. Bisa mati gaya deh". Ucapku dalam hati.
            Setelah percakapan yang tidak masuk akal itu berlalu, beberapa hari kemudian aku termakan oleh omonganku sendiri. Kuakui, teori sahabatku ada benarnya, karena lambat laun aku mulai menyukai dia. Sisi jutek dan sok coolnya adalah sesuatu yang membuat dia berbeda dengan laki-laki lain. Dia terkesan lebih misterius. Perasaan sukaku datang saat dia mengembalikan pensilku yang tertinggal dibangkunya. Dia menghampiri bangkuku untuk mengembalikan pensil tersebut. Matanya yang bulat dengan lensanya abu-abu menatapku dengan tajam, senyum manis diguratan bibirnya yang merah merona terasa begitu ramah, dan pipi chubby nya yang sedikit memerah entah karena apa. Ingin rasanya aku mencubit pipinya waktu itu.

“Ini pensil kamu ketinggalan”. Ucapnya dengan suara beratnya yang khas.

            Dengan konyolnya, aku malah menutupi wajah dengan kertas yang ku pegang tanpa mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku langsung menunduk, pura-pura kalau kejadian itu tidak pernah terjadi. Dia memandang tingkahku dengan kebingungan. Lalu dia kembali ke bangkunya karena guru Bahasa Inggris telah memasuki kelas. Oh Tuhan, kenapa tingkahku jadi  kikuk tak karuan begini? Apa aku jatuh cinta pada orang sedingin dia? Cubit aku jika aku tengah bermimpi! Aku serasa ciut dan jadi mati gaya.
            Sahabatku yang dari awal mencium ketidak beresan tingkahku itu, malah tersenyum jahil. Meski mulutku membantah hal itu, tapi sikapku terang-terangan mengakuinya. Ya, pada akhirnya aku menyerah dengan dakwaan sahabatku itu karena, semenjak kejadian pensil itu, aku makin jarang mengobrol dengan Kiki. Aku semakin canggung padanya. Jangankan untuk sekedar mengobrol, ritual mengecengi bangkunya sudah jarang kulakukan.
            Esok harinya, dia main basket dengan teman-teman laki-laki kelas kami. Aku yang tadinya mau jajan ke kantin, langsung mengurungkan niat. Raanya tubuh ini bergerak tiba-tiba mendorongku nongkrong di pinggir lapang basket hanya untuk melihat aksi dribblenya yang membuat hatiku terkesan (meski perutku sebenarnya keroncongan). Dengan gesit, dia men-dribble dan mengoper bola basket kepada Arie yang kebetulan se-group dengannya. Kulit putih dan rambut hitamnya terasa begitu halus dan bersinar dikejauhan, mungkin karena basah oleh keringat. Dia seperti pangeran berkuda putih (tapi masa, pangeran berkuda putih main basket? Emangnya ini jaman cerita dongeng apa! Haduh.. Ngaco! Ngaco!).
            Tak disangka, ketika aku asyik menikmati tontonan ini, teman-teman sekelasku dengan heboh menyoraki aku dan Kiki. Mereka bertingkah ala para cheerleaders sambil jingkrak-jingkrak dan seperti badut yang tengah menghibur penontonnya (malu-maluin kan? Huh... ). Tapi tak mungkin teman-teman sekelasku tahu kalau aku suka dia. (Pasti ada orang yang comel, dan sok tahu itu). Parahnya Desi ada ditengah-tengah mereka. Ah... ini pasti ulah si jahil Desi yang super duper nyebelin. Coba bayangkan, mukaku merahnya seperti apa waktu itu? Pasti seperti udang yang direbus tujuh hari tujuh malam deh. (Hemmh…harga diriku terasa tercoreng-moreng). Apa yang harus aku lakukan? Apa aku kabur aja ya? Atau bersikap seperti biasa, pura-pura kejadian memalukan itu tidak pernah terjadi? Tapi terlambat, karena malah dengan gayanya yang cuek-cuek bebek, Kiki yang kabur duluan. (Ah.. Dasar lelaki aneh! Ternyata orang yang sok cool seperti dia punya rasa malu juga ya.. haha)
            Aku ingin selalu menyimpan perasaan ini. Mungkin teori tentang “Cinta Pertama” itu sulit untuk dilupakan itu memang benar. Apa karena cinta pertama itu, cinta paling berkesan hingga susah untuk dilupakan? (Rasanya ibarat makan es krim saja, hehe). Tapi dia, si laki-laki yang memiliki pipi chubby itu malah tiap hari mengecengiku dengan gayanya yang cuek bebek.
            Ketika aku melihat matahari yang tenggelam dan bintang-bintang yang bersinar diawal bulan mendatang, aku menengadah.  Jika dia jodohku, ingin rasanya Tuhan membiarkan diri ini untuk bermimpi disampingnya,  melihat, dan menggenggam tanganku selamanya seperti yang terjadi dimimpiku. Hingga mimpi ini tidak akan pernah berakhir, walau sedetikpun. Tapi jika dia tak akan pernah menjadi milikku, aku tidak akan menyesal menjadikannya cinta pertama, seperti yang dikatakan Kharil Gibran, “Ketika Cinta Itu mati, Kamu Tidak Perlu Ikut Mati Bersamanya”.
 Tapi, rasanya aku belum mau menjadikan dia jodohku. Toh aku masih notabene nya anak sekolah. Bisa-bisa kalau mama ku tahu, beliau bakalan bawa-bawa sapu lidi dan ngomel dari pagi sampai subuh. Hwaaaa... Membayangkannya saja aku sudah merinding.

_Anna Devara_https://s-static.ak.facebook.com/rsrc.php/v1/y4/r/-PAXP-deijE.gif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Wacana Sastra Melalui Kegiatan Membaca Puisi

Membaca Puisi diartikan sebagai kegiatan menyampaikan puisi didepan hadirin dengan sepenuhnya membaca teks puisi. Unsur gerak anggota tu...