Ketika
Cinta Itu mati, Kamu Tidak Perlu Ikut Mati Bersamanya
Cinta pertama ini sebenarnya dimulai dari
keisenganku dengan sahabatku,
yang
bernama Desi. Kami selalu mengecengi bangku
belakang ketika ajaran baru dimulai, tepatnya bangku yang tengah ditempati Arie
dan Kiki.
Ritual ini sering kami lakukan sewaktu kami duduk dibangku SMP kelas IX. Desi
tentu saja punya alasan untuk melakukan ritual ini karena Desi menyukai Arie
yang duduk dengan Kiki,
sedangkan aku? Aku tidak punya alasan sama sekali untuk terus mengecengi
mereka.
Hari berganti dengan cepat seperti
ketika aku membalikkan lembaran buku yang sendari kemarin kubaca ini. Halus
namun kasar memperlihatkan goresan tinta
di buku tersebut. Kisahnyapun terukir dengan penuh warna. Ya, tentu saja penuh
warna agar aku bertah membacanya. Sampai akhirnya, lembaran buku yang kubaca
ini terpaksa kubuka dengan sangat kasar, karena tiba-tiba aku dikagetkan dengan
omongan Desi yang ngaur itu.
“Nina, kamu suka sama Kiki ya?”
“Hah?”
“Kamu
suka Kiki?”
ucapnya mendorong keras buku ini kearah wajahku yang berkerut.
“Oh
my god, kamu ngomong apa sih, ga ngerti...”
“Ya
ampun, masih ga ngaku!!”
“Ngaku
buat?”
“Ya
buat pandangan kamu yang selalu bersinar kalo ngeliat dia”
“Apa?
Emangnya dia pemandangan
yang
antik apa?”
“Tapi
kamu suka kan?”
“Apaan
sih, amit-amit deh.”
“Eh
jangan gitu, ntar malah suka. Rasain ke makan omongan sendiri.”
“Habisnya
kamu malah fitnah aku kayak gitu, amit-amit suka sama orang yang jutek dan sok cool kaya dia.”
“Tapi
kenapa kamu ngecengin terus bangkunya Arie, jangan bilang kamu juga suka sama Arie.”
“Itu
kan teori kamu”. Timbalku sambal melanjutkan membaca buku yang dari tadi aku
buka.
"Enggak apa-apa sih, asal jangan suka ke si Arie aja"
"Jangan sampai deh, aku suka sama
si jutek itu. Bisa mati gaya deh". Ucapku dalam hati.
Setelah percakapan yang tidak masuk
akal itu berlalu, beberapa hari kemudian aku termakan oleh omonganku sendiri.
Kuakui, teori sahabatku
ada benarnya, karena lambat laun aku mulai menyukai dia. Sisi jutek dan sok coolnya adalah sesuatu yang membuat dia
berbeda dengan laki-laki lain. Dia terkesan lebih misterius. Perasaan sukaku
datang saat dia mengembalikan pensilku yang tertinggal dibangkunya. Dia menghampiri
bangkuku untuk mengembalikan pensil tersebut. Matanya yang bulat dengan lensanya
abu-abu menatapku dengan tajam,
senyum
manis diguratan bibirnya
yang merah merona terasa begitu ramah, dan pipi chubby nya yang sedikit memerah entah karena apa. Ingin
rasanya aku mencubit pipinya waktu itu.
“Ini
pensil kamu ketinggalan”. Ucapnya dengan suara beratnya yang khas.
Dengan konyolnya, aku malah menutupi
wajah dengan kertas yang ku pegang tanpa mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku
langsung menunduk, pura-pura kalau kejadian itu tidak pernah terjadi. Dia memandang
tingkahku dengan kebingungan. Lalu dia kembali ke bangkunya karena guru Bahasa
Inggris telah memasuki kelas. Oh Tuhan, kenapa tingkahku jadi kikuk tak karuan begini? Apa aku jatuh cinta
pada orang sedingin dia? Cubit aku jika aku tengah bermimpi! Aku serasa ciut dan jadi mati gaya.
Sahabatku yang dari awal mencium
ketidak beresan tingkahku itu, malah tersenyum jahil. Meski mulutku membantah
hal itu, tapi sikapku terang-terangan mengakuinya. Ya, pada akhirnya aku menyerah dengan
dakwaan sahabatku itu karena, semenjak kejadian pensil itu, aku makin jarang
mengobrol dengan Kiki.
Aku semakin canggung padanya. Jangankan untuk sekedar mengobrol, ritual
mengecengi bangkunya sudah jarang kulakukan.
Esok harinya, dia main basket dengan
teman-teman laki-laki kelas kami. Aku yang tadinya mau jajan ke kantin,
langsung mengurungkan niat. Raanya tubuh ini bergerak tiba-tiba mendorongku nongkrong
di pinggir lapang basket hanya untuk melihat aksi dribblenya yang membuat hatiku terkesan (meski perutku sebenarnya
keroncongan). Dengan gesit, dia men-dribble
dan mengoper bola basket kepada Arie yang kebetulan se-group dengannya. Kulit putih dan rambut hitamnya terasa begitu
halus dan bersinar dikejauhan, mungkin karena basah oleh keringat. Dia seperti
pangeran berkuda putih (tapi masa, pangeran berkuda putih main basket? Emangnya
ini jaman cerita dongeng apa! Haduh.. Ngaco! Ngaco!).
Tak disangka, ketika aku asyik
menikmati tontonan ini, teman-teman sekelasku dengan heboh menyoraki aku dan Kiki. Mereka bertingkah ala para cheerleaders sambil jingkrak-jingkrak dan seperti badut yang tengah menghibur
penontonnya (malu-maluin
kan? Huh... ). Tapi tak mungkin teman-teman sekelasku tahu kalau aku suka
dia. (Pasti ada orang yang comel, dan sok tahu itu). Parahnya Desi ada
ditengah-tengah mereka. Ah...
ini pasti ulah si jahil Desi yang super duper nyebelin. Coba bayangkan, mukaku
merahnya seperti apa waktu itu? Pasti seperti udang yang direbus tujuh hari
tujuh malam deh. (Hemmh…harga
diriku terasa tercoreng-moreng). Apa yang harus aku lakukan? Apa aku kabur aja
ya? Atau bersikap seperti biasa, pura-pura kejadian memalukan itu tidak pernah
terjadi? Tapi terlambat, karena malah dengan gayanya yang cuek-cuek bebek, Kiki yang kabur duluan. (Ah.. Dasar
lelaki aneh! Ternyata orang yang sok cool
seperti dia punya rasa malu juga ya.. haha)
Aku ingin selalu menyimpan perasaan
ini. Mungkin teori tentang “Cinta Pertama” itu sulit untuk dilupakan itu memang
benar. Apa karena cinta pertama itu, cinta paling berkesan hingga susah untuk
dilupakan? (Rasanya
ibarat makan es krim saja, hehe). Tapi dia, si laki-laki yang memiliki pipi chubby itu malah tiap hari mengecengiku dengan gayanya yang cuek bebek.
Ketika aku melihat matahari yang
tenggelam dan bintang-bintang yang bersinar diawal bulan mendatang, aku
menengadah. Jika dia jodohku, ingin
rasanya Tuhan membiarkan diri ini untuk bermimpi disampingnya, melihat, dan menggenggam tanganku selamanya
seperti yang terjadi dimimpiku. Hingga mimpi ini tidak akan pernah berakhir,
walau sedetikpun. Tapi jika dia tak akan pernah menjadi milikku, aku tidak akan
menyesal menjadikannya cinta pertama, seperti yang dikatakan Kharil Gibran,
“Ketika Cinta Itu mati, Kamu Tidak Perlu Ikut Mati Bersamanya”.
Tapi, rasanya aku belum mau menjadikan dia jodohku. Toh aku masih notabene nya anak sekolah. Bisa-bisa kalau mama ku tahu, beliau bakalan bawa-bawa sapu lidi dan ngomel dari pagi sampai subuh. Hwaaaa... Membayangkannya saja aku sudah merinding.
_Anna Devara_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar