Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Haji Abdul Malik bin Abdul
Karim Amrullah (Hamka)
Sinopsis
Novel ini menceritakan
tentang kisah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat
kuat. Zainuddin adalah seorang pemuda dari perkawinan campuran Minangkabau dan
Makasar, ayahnya Zainuddin yang berdarah Minangkabau mengalami masa pembuangan
ke makasar dan menikah dengan ibunya Zainuddin yang berdarah asli makasar.
Zainuddin mempunyai mempunyai seorangkekasih asal Batipun bernama Hayati, namun
hubunga mereka harus berakhir karenaadat karena berdasarkan sebuah rapat, ibu
Zainuddin tidak dianggap manusia penuh.
Akhirnya Hayati menikah
dengan seorang pemuda bangsawan asli Minangkabau bernama Aziz. Mendengar
pernikahan itu Zainuddin jatuh sakit, akan tetapi berkat dorongan semangat dari
Muluk sahabatnya yang paling setia, kondisi Zainuddin berangsur-angsur mambaik
dan pada akhirnya Zainuddin menjadi seorang pengarang yang sangat terkenal dan
Zainuddin tinggal di Surabaya. Di Surabayainilah Zainuddin bertemu dengan
hayati yag diantar oleh suaminya sendiri yaitu Aziz,untuk dititipkan padanya,
kemudian Aziz mengakhiri hidupnya dengan cara bunuhdiri.
Rasa cinta Zainuddin pada
Hayati sebenarnya masih membara, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah
bersuami, ia berusaha meghilangkan cinta itu, kemudaian Hayati dibiayai untuk
pulang ke Batipun. Tetapi nasib malang menimpa Hayati, dalam perjalanan pulang
ke Batipun itu, Kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam. Hayati
meninggal dunia dirumah sakit Cirebon. Disaat akhir hayatnya, Hayati masih
sempat mendengar dan meliahat bahwa sebenarnya Zainuddin masih sangat
mencintainya, namun semua itu sudah terlambat. Tidak berselang lama, Zainuddin
menyusul Hayati ke alam baka, jenazah Zainuddin dimakamkan persis di samping
makam mantan kekasihnya.
Analisis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka)
Cinta sebuah kata yang bisa jadi misterius.
Kehadirannya dapat mengubah kehidupan dan prilaku seseorang dalam sekejab mata.
Hanya dalam hitungan detik, cinta membuat tangis dan tawa seolah tak ada
bedanya. Cinta pun bisa membuat hidup mati seseorang terlihat sama. Cinta
memang sengaja diciptakan oleh Tuhan kepada manusia sebagai anugerah terindah
untuk membuat hidup mereka lebih berwarna, tidak monoton dan dinamis. Terkadang
cinta bisa membuat seseorang gelap mata, mampu melakukan apapun meski hal itu
tidak boleh ia lakukan, karena satu dan lain hal. Sering kali karena putus
cinta muncul amarah, sakit hati, atau dendam terhadapnya. Meskipun begitu
manusia harus bangkit dan tetap menjalankan hidupnya.
Gambaran tersebut diceritakan dalam novel
berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Haji Abdul Malik bin Abdul
Karim Amrullah (Hamka) dengan tema
mengenai cinta. Latar cerita
novel ini dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang
berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa.
Latar tempat terjadi di daerah Minangkabau, Makasar, Padang Panjang,
Jakarta, Lamongan, dan Surabaya. Latar suasananya sedih dan mengharukan.
Sedangkan latar waktu pada siang dan malam hari.
Tempat dimana seorang pengarang melihat sesuatu itu disebut dengan
sudut pandang. Pada novel ini, Hamka menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal karena menyebutkan dan
menceritakan secara langsung karakter pelakunya secara gamblang. Penggalan
cerita pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka sebagai berikut:
“Mula-mula datang, sangatlah gembira hati Zainuddin telah sampai ke negeri yang
selama ini jadi kenang-kenagannya.” Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku
tokoh-tokohnya berikut wataknya. Pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
karya Hamka terdapat beberapa karakter diantaranya: Karakter utama (mayor
karakter, protagonis) adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel
yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik
sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.Tokoh karakter utama yang
ada dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tokoh
Zainuddin, yang memiliki sopan santun dan kebaikan pada semua orang. Sedangkan
yang lainnya yang menjadi tokoh protagonisnya adalah tokoh Hayati yang menjadi
kekasih Zainuddin. Penggalan cerita yang menunjukkan Zainuddin adalah karakter
yang baik adalah: “Zainuddin seorang yang terdidik lemah lembut, didikan ahli
seni, ahli sya ir, yanglebih suka mengalah untuk kepentingan orang lain”.
Karakter pendukung (minor karakter, antagonis) sosok tokoh antagonis dalam
novel adalah tokoh Aziz, karena “tokoh Aziz di sini mempunyai sikap yang kasar
dan sering menyakiti istrinya, dan tidak mempunyai tanggung jawab dalam
keluarga dan selalu berbuat kejahatan karena sering main judi dan main
perempuan, ketika akan meninggalakan rumah itu masih sempat juga Aziz
menikamkan kata-kata yang tajam kesudut hati Hayati “..sial”. (halaman 180).
Sedangkan
yang menjadi karakter pelengkap adalah Muluk dan Mak Base karena keduanya
adalah sosok yang bijak dan selalu berada di samping tokoh utama untuk memberi
nasehat dan sangat setia menemani tokoh utama sampai akhir cerita.
Gaya Bahasa Dalam novel Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan kalimat yang sangat kompleks karena
menggunakan bahasa melayu yang baku. Seperti dalam penggalan cerita berikut
ini: “Lepaskan Mak, jangan bermenung juga, bagaimana Mamak tidak akan bermenung,
bagaimana hati mamak tidak akan berat.”, (halaman 7).
Di
dalam sebuah cerita, gagasan atau pokok persoalan dituangkan sedemikian rupa
oleh pengarangnya sehingga gagasan itu mendasari seluruh cerita. Gagasan yang
mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi
pokok persoalan itu. Dengan kata lain, solusi yang dimunculkan pengaranng
dimaksudkan untuk memecahkan pokok persoalan yang didalamnya akan terlibat
pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan dengan
amanat. Dengan demkian, amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan
pesan atau nasihat kepada pembacanya.
Dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka
mengandung nilai moral yang tinggi
ini terlihat dari para tokoh yang ada seperti Zainuddin. Hal tersebut bisa kita
lihat dari panggilan cerita berikut ini: “Demikian penghabisan kehidupan orang
besar itu. Seorang di antara Pembina yang menegakkan batu pertama dari
kemuliaan bangsanya yang hidup didesak oleh cinta. Dan sampai matipun dalam
penuh cinta. Tetapi mmeskipun dia meninggal, riwayat tanah air tidaklah akan
dapat melupakan namanya dan tidak akan sanggup menghilangkan jasanya, karena
demikian nasib tiap-tiap orangyang bercita-cita tinggi kesenangannya buat orang
lain. Buat dirinya sendiri tidak.”(halaman 223)
Novel ini memiliki kelebihan
dari segi bahasa. Kata-kata yang terjalin begitu halus dan menyenangkan hati.
Emosi yang dibangun terasa nyata. Luapan kemarahan, perasaan sedih, kegembiraan
dan cinta semuanya melebur jadi satu. Kita akan menyadari bahwa bahasa itu
sangat indah, terutama lahir dari sastra lama. Ada dua hal yang menjadi kekurangan, seperti adanya penggalan
surat cinta yang terlalu banyak. Hal itu menyebabkan pembaca menjadi cepat
jenuh, walaupun sejujurnya surat cinta itu menarik hati dan penulis tidak
menjelaskan watak tokoh dengan baik sehingga pembaca diharuskan menerka-nerka
karakter tokoh. Secara keseluruhan novel ini amat bagus untuk dibaca
agar kita senantiasa mencari jalan keluar dari setiap masalah. Bukan sekadar
percintaan biasa yang ditampilkan, melainkan ikatan suci dari dua insan yang
tak terhapuskan oleh waktu sampai ajal menjemput.
Identitas Novel Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck” karya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka)
Judul Roman
Yang Diresensi : Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck
Penulis : Haji Abdul Malik Bin Abdul Karimamrullah (Hamka)
Penerbit : Bulan Bintang
Diterbitkan : Tahun 19391
Gambar Kulit Cerita : Sebuah Kapal Penumpang Yang Tenggelam Di Laut Lepas
Tebal Halaman : 232 Halaman
Penulis : Haji Abdul Malik Bin Abdul Karimamrullah (Hamka)
Penerbit : Bulan Bintang
Diterbitkan : Tahun 19391
Gambar Kulit Cerita : Sebuah Kapal Penumpang Yang Tenggelam Di Laut Lepas
Tebal Halaman : 232 Halaman
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan sebagai
berikut: 1. Struktur novel terdiri dari tema, alur/plot, setting/latar, sudut
pandang, karakter,gaya bahasa, dan amanat, di mana hubungan antar unsur dalam
novel ini menunjukkan hubungan yang begitu padu sehinggga menghasilkan jalinan
cerita yang sangat menarik. 2. Unsur religiusitas novel Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck karya Hamka mengandung aspek aqidah, syariah, dan akhlak yang
tergambar dalam setiap perilaku tokoh yang dimainkan, di samping itu pengarang
sendiri sebagai seorang agamawan yang begitu kental memasukkan unsur-unsur
agama ke dalam novel ini.
_ Anna Devara_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar