Senin, 22 September 2014

Hamka



Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka)

Sinopsis


Novel ini menceritakan tentang kisah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat kuat. Zainuddin adalah seorang pemuda dari perkawinan campuran Minangkabau dan Makasar, ayahnya Zainuddin yang berdarah Minangkabau mengalami masa pembuangan ke makasar dan menikah dengan ibunya Zainuddin yang berdarah asli makasar. Zainuddin mempunyai mempunyai seorangkekasih asal Batipun bernama Hayati, namun hubunga mereka harus berakhir karenaadat karena berdasarkan sebuah rapat, ibu Zainuddin tidak dianggap manusia penuh.
Akhirnya Hayati menikah dengan seorang pemuda bangsawan asli Minangkabau bernama Aziz. Mendengar pernikahan itu Zainuddin jatuh sakit, akan tetapi berkat dorongan semangat dari Muluk sahabatnya yang paling setia, kondisi Zainuddin berangsur-angsur mambaik dan pada akhirnya Zainuddin menjadi seorang pengarang yang sangat terkenal dan Zainuddin tinggal di Surabaya. Di Surabayainilah Zainuddin bertemu dengan hayati yag diantar oleh suaminya sendiri yaitu Aziz,untuk dititipkan padanya, kemudian Aziz mengakhiri hidupnya dengan cara bunuhdiri.
Rasa cinta Zainuddin pada Hayati sebenarnya masih membara, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah bersuami, ia berusaha meghilangkan cinta itu, kemudaian Hayati dibiayai untuk pulang ke Batipun. Tetapi nasib malang menimpa Hayati, dalam perjalanan pulang ke Batipun itu, Kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam. Hayati meninggal dunia dirumah sakit Cirebon. Disaat akhir hayatnya, Hayati masih sempat mendengar dan meliahat bahwa sebenarnya Zainuddin masih sangat mencintainya, namun semua itu sudah terlambat. Tidak berselang lama, Zainuddin menyusul Hayati ke alam baka, jenazah Zainuddin dimakamkan persis di samping makam mantan kekasihnya.





Analisis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka)

Cinta sebuah kata yang bisa jadi misterius. Kehadirannya dapat mengubah kehidupan dan prilaku seseorang dalam sekejab mata. Hanya dalam hitungan detik, cinta membuat tangis dan tawa seolah tak ada bedanya. Cinta pun bisa membuat hidup mati seseorang terlihat sama. Cinta memang sengaja diciptakan oleh Tuhan kepada manusia sebagai anugerah terindah untuk membuat hidup mereka lebih berwarna, tidak monoton dan dinamis. Terkadang cinta bisa membuat seseorang gelap mata, mampu melakukan apapun meski hal itu tidak boleh ia lakukan, karena satu dan lain hal. Sering kali karena putus cinta muncul amarah, sakit hati, atau dendam terhadapnya. Meskipun begitu manusia harus bangkit dan tetap menjalankan hidupnya.
Gambaran tersebut diceritakan dalam novel berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka) dengan tema mengenai cinta. Latar cerita novel ini dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa.
Latar tempat terjadi di daerah Minangkabau, Makasar, Padang Panjang, Jakarta, Lamongan, dan Surabaya. Latar suasananya sedih dan mengharukan. Sedangkan latar waktu pada siang dan malam hari.
Tempat dimana seorang pengarang melihat sesuatu itu disebut dengan sudut pandang. Pada novel ini, Hamka menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal karena menyebutkan dan menceritakan secara langsung karakter pelakunya secara gamblang. Penggalan cerita pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka sebagai berikut: “Mula-mula datang, sangatlah gembira hati Zainuddin telah sampai ke negeri yang selama ini jadi kenang-kenagannya.” Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya. Pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka terdapat beberapa karakter diantaranya: Karakter utama (mayor karakter, protagonis) adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.Tokoh karakter utama yang ada dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tokoh Zainuddin, yang memiliki sopan santun dan kebaikan pada semua orang. Sedangkan yang lainnya yang menjadi tokoh protagonisnya adalah tokoh Hayati yang menjadi kekasih Zainuddin. Penggalan cerita yang menunjukkan Zainuddin adalah karakter yang baik adalah: “Zainuddin seorang yang terdidik lemah lembut, didikan ahli seni, ahli sya ir, yanglebih suka mengalah untuk kepentingan orang lain”. Karakter pendukung (minor karakter, antagonis) sosok tokoh antagonis dalam novel adalah tokoh Aziz, karena “tokoh Aziz di sini mempunyai sikap yang kasar dan sering menyakiti istrinya, dan tidak mempunyai tanggung jawab dalam keluarga dan selalu berbuat kejahatan karena sering main judi dan main perempuan, ketika akan meninggalakan rumah itu masih sempat juga Aziz menikamkan kata-kata yang tajam kesudut hati Hayati “..sial”. (halaman 180).
Sedangkan yang menjadi karakter pelengkap adalah Muluk dan Mak Base karena keduanya adalah sosok yang bijak dan selalu berada di samping tokoh utama untuk memberi nasehat dan sangat setia menemani tokoh utama sampai akhir cerita.
Gaya Bahasa Dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan kalimat yang sangat kompleks karena menggunakan bahasa melayu yang baku. Seperti dalam penggalan cerita berikut ini: “Lepaskan Mak, jangan bermenung juga, bagaimana Mamak tidak akan bermenung, bagaimana hati mamak tidak akan berat.”, (halaman 7).
Di dalam sebuah cerita, gagasan atau pokok persoalan dituangkan sedemikian rupa oleh pengarangnya sehingga gagasan itu mendasari seluruh cerita. Gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. Dengan kata lain, solusi yang dimunculkan pengaranng dimaksudkan untuk memecahkan pokok persoalan yang didalamnya akan terlibat pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. Dengan demkian, amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya.
Dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka mengandung nilai moral yang tinggi ini terlihat dari para tokoh yang ada seperti Zainuddin. Hal tersebut bisa kita lihat dari panggilan cerita berikut ini: “Demikian penghabisan kehidupan orang besar itu. Seorang di antara Pembina yang menegakkan batu pertama dari kemuliaan bangsanya yang hidup didesak oleh cinta. Dan sampai matipun dalam penuh cinta. Tetapi mmeskipun dia meninggal, riwayat tanah air tidaklah akan dapat melupakan namanya dan tidak akan sanggup menghilangkan jasanya, karena demikian nasib tiap-tiap orangyang bercita-cita tinggi kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak.”(halaman 223)
Novel ini memiliki kelebihan dari segi bahasa. Kata-kata yang terjalin begitu halus dan menyenangkan hati. Emosi yang dibangun terasa nyata. Luapan kemarahan, perasaan sedih, kegembiraan dan cinta semuanya melebur jadi satu. Kita akan menyadari bahwa bahasa itu sangat indah, terutama lahir dari sastra lama. Ada dua hal yang menjadi kekurangan, seperti adanya penggalan surat cinta yang terlalu banyak. Hal itu menyebabkan pembaca menjadi cepat jenuh, walaupun sejujurnya surat cinta itu menarik hati dan penulis tidak menjelaskan watak tokoh dengan baik sehingga pembaca diharuskan menerka-nerka karakter tokoh. Secara keseluruhan novel ini amat bagus untuk dibaca agar kita senantiasa mencari jalan keluar dari setiap masalah. Bukan sekadar percintaan biasa yang ditampilkan, melainkan ikatan suci dari dua insan yang tak terhapuskan oleh waktu sampai ajal menjemput.







Identitas Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka)


Judul Roman Yang Diresensi : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penulis                                     : Haji Abdul Malik Bin Abdul Karimamrullah (Hamka)
Penerbit                                   : Bulan Bintang
Diterbitkan                              : Tahun 19391
Gambar Kulit Cerita               : Sebuah Kapal Penumpang Yang Tenggelam Di Laut Lepas
Tebal Halaman                        : 232 Halaman


Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Struktur novel terdiri dari tema, alur/plot, setting/latar, sudut pandang, karakter,gaya bahasa, dan amanat, di mana hubungan antar unsur dalam novel ini menunjukkan hubungan yang begitu padu sehinggga menghasilkan jalinan cerita yang sangat menarik. 2. Unsur religiusitas novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka mengandung aspek aqidah, syariah, dan akhlak yang tergambar dalam setiap perilaku tokoh yang dimainkan, di samping itu pengarang sendiri sebagai seorang agamawan yang begitu kental memasukkan unsur-unsur agama ke dalam novel ini.



_ Anna Devara_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Wacana Sastra Melalui Kegiatan Membaca Puisi

Membaca Puisi diartikan sebagai kegiatan menyampaikan puisi didepan hadirin dengan sepenuhnya membaca teks puisi. Unsur gerak anggota tu...