Sinopsis
Cerita
Giovanni berdansa dengan
gadis-gadis paling belia berkaki indah di lantai dansa. Ia membuat mereka
melayang indah berwarna-warni seperti kupu-kupunmeriah di tengah lantai dansa
paling pikuk sekalipun. Tak ada yang menolak uluran tangannya untuk menari.
Rambutnya yang mulai menipis dan bentuk perutnya yang tak rata, matanya memang
masih biru. Danielle juga sudah tidak muda lagi, rambutnya yang berkuncir
mencoba menutup rambutnya yang mulai menipisdan gaya dandannya jauh lebih muda
dari usia yang sebenarnya. Tak ada gadis yang luput dari pandangannya, tak ada
juga yang tak ingin berdansa dengannya, kecuali mungkin penari-penari lain yang
kadang iri hati karena gayanya yang simpatik membuatnya memiliki banyak teman.
Danielle tak hanya membuat
gadis-gadis itu menari, tapi juga membuat mereka tertawa dan jadi teman
baiknya, walaupun ia tak pernah maembawa kekasih sebenarnya ke lantai dansa. Ia
hanya bilang, kalau aula itu adalah ruang pribadinya. Ruang mimpinya dimana ia
bisa jadi raja.
Allesio mungkin yang paling
sepuh diantara mereka, rambutnya putih seperti merica, walau kaki-kakinya masih
lincah seperti kijang, walaupun berdansa di luar birama, taka da gadis yang tak
akan melupakan pandangan darinya. Matanya yang tajam membuat mereka seperti
yang ketagihan.
Satu, dua, sepuluh, lima
puluh, seatus dan terus, hamper samuanya seperti memiliki sebuah hidup
parallel. Yang bagi mereka yang tidak berdansa akan sulit untuk jadi nyata.
Hanya sebuah mimpi yang menjelang di saat mereka menutup mata di malam hari.
Sebuah dunia dimana laki-laki paling membosankan bisa jadi dewa, laki-laki
paling buruk bisa memeluk dan membuat gadis-gadis cantik itu bertekuk lutut dan
melayang. Sepanjang ia bisa menari seperti ia seorang pangeran. Sepanjang
sebuah dansa.
2.1 Analisis Tango
Dalam kumpulan cerpen di bab
Tango ini, terdapat beberapa analisis yang saya temukan. Analisis tersebut berupa Implikatur Percakapan.
Secara hemat saya, implikatur percakapan yaitu adanya suatu keterkaitan
antara ujaran dari seorang penutur dan lawan tutrnya yang tampak dipahami
secara tersirat. Kutipan di bawah ini merupakan wujud implikatur percakapan
dalam sebuah cerita Tango yang saya analisis.
Aku bertanya kepadanya, “Apakah
engkau sudah jatuh cinta kepadaku?” Di tengah ochos yang harus
kutempuh, disela lantunan lagu sedih Astor Piazzola……. Kepalakupun akhirnya
tertunduk lagi. Berpura-pura memandang sedih kearah lipit-lipit gaun bawahku
yang seperti melayang terhembus ngina.
“angkat kepalamu!” serunya pedas.
(kutipan halaman 3 paragraf
pertama dan kedua).
Pada kutipan tersebut,
ungkapan dari si penutur kepada lawan tutur tidak bisa dipahami jelas apa
maknanya secara literal, karena makna literalnya tidak disebutkan atau
diungkapkan dalam pertuturan itu. Namun, makna dalam potongan dialog itu dapat
dipahami secara tersira. Si penutur sebenarnya ingin mengetahui bagaimana
perasaan lawan tuturnya, tapi si lawan tutur tidak menjawab pertanyaan si
petutur hingga si penutur menundukan kepalanya entah karena kecewa atau apa.
Kemudian si lawan tutur meminta si penutur untuk menatapnya, tidak menundukan
kepalanya. Jika percakapan tersebut didengar oleh orang lain, mereka tentu
tidak akan mengerti konteks pembicaraan mereka itu apa.
“Mengapa harus begitu merayu
lagu-lagu itu?” tanyaku suatu hari ditengah-tengah latihan kami di ruang bawah tanah
rumah mungilnya.
“Tango adalah sebuah pikiran
sedih dimana dengannya kita bisa berdansa” katanya suatu hari mengutip
kata-kata Pizzalo. (Halaman 6
paragraf 3).
Dari kutipan tersebut, ungkapan si penutur
dengan lawan tutur tidak begitu jelas maknanya secara literal, tapi tuturan
tersebut dapat dipahami secara tersirat bahwa si petutur menanyakan kenapa
lagu-lagu Tango begitu menyedihkan. Lalu si lawan tutur menjawab Tango adalah sebuah pikiran sedih dimana
dengannya kita bisa berdansa. Hal tersebut tentunya dapat dipahami oleh si
penutur dan lawan tutur (implikatur percakapan).
Kemudian, untuk maksim
kualitas yang menghendaki setiap peserta tuturnya hanya memberikan konsentrasi
secukupnya dan tidak berlebihan dapat dilihat dalam kutipan tersebut:
“Pandang aku, pandang aku! Serunya membenarkan setiap
pandanganku lari ketempat lain. Membiarkan wajahku seakan bertambah dekat.
“Jangan biarkan matamu lari ketempat lain,
biarkan aku saja yang harus melihat manusia-manusia lain yang berdansa
diblakangmu, biarkan aku jaga kaki-kakimu agar tidak terpeleset…” (halaman
7 paragraf ke-2).
Kata yang diucapkan oleh si
penutur pada “Jangan biarkna matamu lari ketempat lain” itu terasa
berlebihan, alangkah enak didengarnya jika kalimat tersebut “Jangan
biarkan matamu ketempat lain” itu artinya mata si lawan tutur harus
tetap terfokus pada si penutur, karena si penutur akan menutur lawan tutur untuk
menari Tango dengan baik.
2.2 Analisis Muerte Del Angel (Kematian Seorang Malaikat)
“wahai manusia untuk permintaanmu itu, apa
yang membuatmu begitu yakin bahwa sebagai gantinya kau bisa memberikanku sebuah
kebahagiaan seperti yang kau janjikan?”
“aku bisa mengajarimu
menari, menari tango.” (Halaman 33).
Dalam kutipan tersebut,
ungkapan si penutur dan lawan tutur tidak bisa dipahami dengan jelas apa makna
linear (makna sesungguhnya). Tapi, ungkapan tersebut bisa dipahami secara
tersirat maknanya, bahwa sipenutur bertanya kepada lawan tutur tentang
janji-janji kebahagiaan apa yang hendak ditawarkan oleh si lawan tutur.
Kemudian si lawan tutur memberikan kebahagiaan/ kenikmatan untuk berdansa
tango.
“Tolong, tolonglah aku,
sekali ini saja, aku berjanji akan mengembalikan kebaikanmu ini berkali lipat
yang tak terkira. Membuatmu malaikat cantik paling bahagia dibelahan dunia yang
satu ini.”
(Halaman 32 paragraf 1).
Pada kutipan tersebut
terdapat adanya maksim kuantitas (yang berlebihan) yakni ketika si penutur meminta tolong kepada si
lawan tutur. Ia akan berjanji mengambilkan kebaikanmu ini berkali lipat yang terkira.
Sudah jelas kalau berkali lipat itu jumlahnya tak terkira. Jadi tidak perlu
diungkapkan lagi. Itu hanya membuat ungkapan itu terasa berlebihan.
“Ah tak tahu, saya kebetulan
sedang berdansa weaktu itu jadi saya tidak terlalu memperhatikan mereak,
lagipula kalau berdansa biasanya saya pejamkan mata, jadi ya tidak lihat
apa-apa. Mungkin sudah bisa tanyakan partner saya. “hik hik hik …tak tahu..tak
tahu…saya tak tahu.” (Halaman 40 paragraf terakhir).
Kutipan tersebut jenis
penuturan yang gagal, karena si lawan tutur tidak berkenan untuk mengungkapkan
apa yang diinginkan oleh si penutur karena karena si lawan tutur mengungkapkan “tidak tahu, saya tidak tahu…”
“Ia seorang bidadari, saya
melihat sayap-sayap mungilnya bergerak selalu ketika ia berdansa” seorang
tangoero menjelaskan dengan sia-sia. Beberapa detektif tampak menahan tawa
ketika mendengar keterangan itu.
“Benar-benar saya tidak
bohong, maka dari itu kalian tidak bisa menemukan tubuhnya lagi, ia pasti sudah
terbang ke awng-awang membawa lukanya, pasti, pasti saya yakin sekali.”
Tanguero it uterus mengejar detektif yang beranjak ke mobilnya. Wajahnya tampak
begitu lelah, wajahnya tampak basah lembab berkeringat.
“Mengapa kalian tak percaya
pada saya? Saya tak bohong. Kali ini benar saya tak bohong…” laki-laki yang
putus asa itu tiba-tiba berhenti dan menyerah, membiarkan laki-laki gendut yang
tak peduli itu berjalan menuju kendaraannya yang terparkir. (Halaman 41 paragraf 4 dan
5).
Ketiga kalimat yang
diucapkan oleh seorang tanguero itu (si penutur) pada detektif (si lawan tutur)
merupakan pertuturan yang gagal, karena si detektif (si lawan tutur) tidak
tertarik oleh apa yang diungkapkan si penutur tersebut, sehingga proses
percakapan tersebut tidak berjalan dengan baik.
2.3 Analisis Milanga Del Angel (Dansa Seorang Penari)
“Dolores, dimana kau
sekarang?”
“Kamar 547”
“Engkau di hotel?”
Aku tak mendengar jawaban,
hanya desah tangis.
“Bukankah kau seharusnya
menginap dirumah Alma?”
Ia masih terdengah
sesenggukan. Aku mengernyitkan dahiku. Tak mengerti…
“Di hotel mana?”
Hotel Savoia”
“Yang mana? Yang dekat
pantai?”
“Iya”
“Tunggu aku kesitu, jangan
kemana-mana”
(halaman 45-46).
Pada kutipan dialog tersebut,
terlihat memenuhi maksim cara yang mana si penutur menanyakan dengan runtut
tentang keberadaan si lawan tutur. Kata Hotel Savoia dan Kamar
547 sudah menjelaskan dengan runtut keberadaan si lawan tutur dan di
pertegas lagi dengan kata …Yang Dekat Pantai.
“Lorenzo, aku tahu ia bukan
tanggung jawabmu, tapi aku hanya minta tolong kalau kau sempat sesekali
memperhatikannya” ibunya meneleponku pagi itu sebelum aku berangkat.
“Oke” jawabku singkat sibuk
membenahi koper mungilku.
“Ah ada Alma dan sepupu yang
lain. Ah kau masih ingat Alma kan?”
Dari kutipan tersebut, dapat
ditarik pernyataan bahwa si lawan tutur (aku) tidak tertarik pada pembicaraan
si penutur (ibu) hal ini terlihat karena si lawan tutur hanya merespon “oke”
dan senyuman saja. Hal ini jelas menjadikan pertuturan gagal.
2.4 Analisis Kutukan Jengkol
“Aduh mas, Safinah kangen
deh sama mas…”
“Mas” rengek Safina lagi
“Eh…”kata Hardiman setengah terkejut,
terbangun dari lamunannya.
“Mikiran apa sih, mas? kok
melamun?”
“Ah enggak,, capek aja”
(Halaman 72).
Dari kutipan dialog tersebut
dapat dinyatakan bahwa dialog itu termasuk kedalam pertuturan yang gagal,
karena si lawan tutur (Hardiman) tidak fokus atau konsentrasi pada pembicaraan
si penutur (Safina).
_Anna Devara_