Selasa, 23 Juni 2020

Contoh Pragmatik Implikatur Percakapan:

Berikut adalah contoh Implikatur Percakapan pada Pragmatik!

A               : Nasi gorengnya kok enak banget ya?
B               : Iyalah…Pak Kumis…
Percakapan tersebut secara literal tidak dapat dipahami karena tidak disebutkan dalam penuturan itu, tapi secara tersirat bisa dipahami pada waktu sekarang kita tahu kalau nasi goreng buatan Pak Kumis memang enak.
Prinsip kerja sama dalam penuturan:
o   Maksim Kuantitas:
1.      A   : Makanannya sudah disajikan, ayo!
B   : Sekarang?
C   : Nggak..tahun depan aja!
2.      A   : Istri saya wanita yang cantik sebentar lagi melahirkan
B   : Istri saya sebentar lagi melahirkan.
3.      A   : Ayo, kita berangkat jenguk Nina!
B   : Ayo bu…
A   : Emang rumahnya jauh nggak?
B   : Dekat bu, naik motor nggak nyampe 5 jam kok.
Ketiga Penuturan tersebut tidak menaati maksim kuantitas, karena adanya kata, pada (1) /sekarang? nggak tahun depan aja!/ selain itu (2) /dekat bu, naik motor gak nyampe 5 jam/ juga (3) / Istri saya yang wanita cantik / Merupakan kata-kata yang berlebihan untuk memberikan informasi.
o   Maksim Kualitas:
1.      A   : Lambang bunga sakura merupakan ciri khas Negara mana?
B   : Negara  Jepang bu
2.      A   : Nuna, coba siapa Nabi kita yang pertama?
B   : Nabi Idris bu
A   : Oh, berarti Nabi Adam, Nabi kedua ya! Pintar sekali kamu…
Penuturan 1 sudah menaati maksim kualitas karena lambing bunga sakura merupakan Icon Negara Jepang yang juga di Jepang lambang bunga sakura juga dipakai sebagai lambang keadilan di kepolisian Jepang. Pada pertuturan 2.A memberikan kontribusi yang melanggar kualitas dengan mengatakan Nabi Adam adalah Nabi kedua. Kontribusi A yang melanggar maksim kualitas diberikan sebagai reaksi terhadap jawaban B yang salah. Maka, secara cepat kontribusi B akan mencari jawaban mengapa A membuat pertanyaan yang salah itu. Kata, pintar sekali merupakan kata sindiran agar B menyadari kesalahannya.
o    Maksim Relevansi:
A: Mama, masakannya gosong!
B: Aduh, mama ngejemur dulu, dek tanggung!
Penuturan B menyiratkan tidak dapat mengangkat masakannya yang gosong karena sedang menjemur pakaian. B tidak langsung meminta A untuk mengangkat masakannya yang gosong.
o   Maksim Cara:
A.    Baik buruknya anak itu kelak tergantung pada bagaimana cara orang tua mendidiknya, pengaruh orang-orang terdekat dan lingkungan. Demikian pula kertas putih yang belum ternoda. Seorang anak baru lahir masih suci. Demikian pula kertas putih yang belum ternoda, akan menjadi apa kertas tersebut tergantung pada apa yang akan kita goreskan pada kertas putih tersebut.
B.     Seorang anak yang baru lahir masih suci. Baik buruknya anak tersebut kelak antara lain bergantung pada bagaimana cara orang tua mendiddiknya, pengaruh orang-orang terdekat dan lingkungannya. Demikian pula kertas putih yang belum ternoda, akan menjadi apa kertas tersebut tergantung pada apa yang akan kita goreskan pada kertas putih tersebut. 


_Anna Devara_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Wacana Sastra Melalui Kegiatan Membaca Puisi

Membaca Puisi diartikan sebagai kegiatan menyampaikan puisi didepan hadirin dengan sepenuhnya membaca teks puisi. Unsur gerak anggota tu...