Rabu, 05 Februari 2020

Contoh Jurnal Ilmiah (Andev)

ANALISIS NILAI-NILAI SUFISTIK PADA CERPEN GODLOB KARYA DANARTO SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMA


Oleh:
Anna Devara1, Aam Nurjaman2, Rina Rosdiana3

ABSTRAK

Sastra sufistik adalah karya sastra yang mengandung nilai-nilai tasawuf dan pengalaman tasawuf yang merupakan kerinduan sastrawan terhadap Tuhan, hakikat hubungan makhluk dengan khalik, dan perilaku yang tergolong dalam pengalaman religius. Sastra sufistik kurang diketahui dan diminati oleh para pembaca, khususnya siswa di SMA. Jadi, siswa SMA yang mempelajari karya sastra sufistik dapat memperkaya dan mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai karya sastra sufistik, karya sastra sufistik penting dipelajari. Pada sastra sufistik kita diajari bagaimana cara mencintai Tuhan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan nilai-nilai sufistik yang terdapat dalam cerpen Godlob karya Danarto dan bagaimana implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deksriptif kualitatif tertuju pada analisis data. Berdasarkan hasil analisis dalam cerpen Godlob karya Danarto terdapat 95 kutipan yang mengandung nilai-nilai sufistik. Data persentase yang paling dominan terdapat yakni 47 kutipan dengan persentase 49% dari aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal), ada 26 kutipan dengan persentase 27% dari aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), dan ada 22 kutipan dengan persentase 23% dari aspek manusia dengan lingkungan. Dari persentase data nilai-nilai sufistik yang disetujui oleh tringulator yakni 97,8% dan 2,2% tidak disetujui. Berdasarkan kriteria Kurikulum 2013,  kumpulan cerpen Godlob karya Danarto layak dijadikan bahan ajar untuk pelajaran bahasa dan sastra Indonesia dan memiliki implikasi yang baik serta telah diuji keabsahan penelitiannya.



 Kata Kunci: Sufistik, Cerpen, Implikasi














1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
2Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
3Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

ABSTRACT


Sufi Literature is literature that contains the values ​​and the experiences of Sufism.  Sufism is a writer’s longing for God, the relationship between the human and God, and behaviors that are related to religious experience. Mostly, Senior high school students are not interested in Sufi Literature. They are able to enrich their knowledge of Sufi Literature if learning it more. Therefore, Sufi literature teaches us to love God more by learning it. The purpose of this research is to understand and describe the values in the Sufi story which is worked by Danarto and how its implications for learning Indonesian language and literature in senior high school. The method that is used in this research focuses on the qualitative descriptive and data analysis. Based on the result, there are 95 quotes that contain Sufi value. The most dominant data presentation is 47 quotes with 49% about humanity and humanity (social or horizontal aspect), there are 26 quotes with 27% about humanity and theology (vertical or horizontal dimension) and 22 quotes with 23% about humanity and environmental aspect. Therefore, from the presentation shown above, the Sufi values approved by triangulators However, they agree that the story has 97,8% Sufi values and 2,2% of the story does not has Sufi. Based on Curriculum 2013, short story Godlob by Danarto is good to be used for Indonesian Language material because it is really useful and the originality has been approved.






Key Words: Sufistik, Short Story, Implication






PENDAHULUAN
Sastra merupakan suatu keindahan, dikarenakan itu merupakan suatu bentuk ekspresi diri  manusia. Wellek dan Warren mengungkapkan bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni dan salah satu batasannya adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Jadi, sastra adalah suatu bentuk kehidupan manusia yang diungkapkan secara tertulis ataupun lisan dalam sebuah karya sastra yang berfungsi untuk suatu peneladanan yang berasal dari pemikiran, imajinasi, perasaan, dan pengalaman kehidupan sosial manusia.
Sastra sufistik adalah karya sastra mengandung nilai-nilai tasawuf dan pengalaman tasawuf  yang merupakan kerinduan sastrawan terhadap Tuhan, hakikat hubungan makhluk dengan khalik, dan perilaku yang tergolong dalam pengalaman religius. Jadi, sastra sufistik mempunyai pertalian yang kuat dengan tasawuf dan sastra sufi. Selain itu sastra sufistik merupakan karya sastra yang kurang diketahui dan diminati oleh para pembaca, khususnya oleh siswa di SMA. Padahal, sastra sufistik sangat bermanfaat untuk dipelajari karena mengandung nilai-nilai kehidupan.
Kecenderungan sufisme dalam cerpen-cerpen terpilih Danarto merupakan satu perkembangan baru dalam sejarah perjalanan kesusasteraan di Indonesia yang mengambarkan berbagai aspek kehidupan di masyarakat. Kecederungan sufistik yang dimunculkan oleh pengarang melalui cerpen-cerpennya merupakan satu pengalaman yang dialami oleh pengarang melalui hasil perenungan dan pemahaman yang mendalam seperti yang dialami oleh para ahli-ahli sufi terdahulu.
Jalan cerita yang berliku-liku dan rumit membuat penulis merasa takjub dengan keindahan karya sastra yang dimunculkan oleh Danarto. Cerpen Godlob yang menjadi judul dalam kumpulan cerpen tersebut sangat mengesankan. Dalam cerpen ini, Danarto memberikan unsur-unsur yang berbeda dari karya yang biasanya, yaitu terdapat unsur kepahlawanan dan pembunuhan.
Karya sastra yang diciptakan oleh Danarto memang sangat mengagumkan. Karya-karya Danarto mampu mendobrak ke dalam rutinitas dan konvensionalitas sastra Indonesia di dalam perkembangan sastra di Indonesia. Melalui kejutan pengutaraan yang luar biasa, penyajian plot yang memukau, serta keliaran Danarto dalam memunculkan suatu tema cerita membuat Danarto menjadi salah satu cerpenis jenius yang terkemuka di Indonesia. Cerpen-cerpen Danarto merupakan jenis cerita yang religius, bernuansa kebatinan, abstrak tapi konkret, dan daya imajinasi yang mengagumkan.
Karya sastra yang mengandung unsur-unsur sufistik haruslah menjadi minat bagi para penggiat sastra, sastra yang bernafaskan sufistik itu sangat indah dan bermakna. Hal ini karena, merujuk pada keindahan batin yang bersifat memperkaya rohani, terdapat hikmah dan jalan menuju tauhid, serta pada keindahan yang hakiki yaitu keindahan pada Sang Pencipta. Sastra sufistik berbeda dengan sastra yang lain. Sastra sufistik memberikan cakrawala yang luas dan dalam. Ia menjangkau warna kemanusiaan yang didalamnya dijabarka kebutuhan sehari-hari, kebutuhan jangka panjang, sampai pada kebutuhan akhirat. Ia bisa melewati segala gejolak termasuk gejolak sosial masyarakat. Sastra sufistik mengolah segala lahan kehidupan sehari-hari menjadi sajian sastra yang indah dan tak terduga. Maka dari itu, sastra sufistik harus mendapat perhatian dan sangat penting untuk dipelajari, karena banyak nila-nilai yang terkandung didalamnya yang dapat diteladani dan diambil manfaatnya sebagai acuan unuk bisa menyikapi hidup dengan arif dan bijaksana.
Penciptaan karya sastra yang bercorak sufistik merupakan upaya untuk mencernakan pengalaman rohani. Melalui proses ini, seseorang akan memperoleh ilham dengan izin Allah SWT. Seorang pengarang menulis karena memperoleh inspirasi atau ilham sehingga, karya yang lahir bukan hanya berdasarkan perbandingan dengan karya sastra yang pernah ada, melainkan sebagai hasil memperoleh limpahan pencerahan batin yang menghasilkan suatu makna, artinya hasil dari lebih mendekatkan diri Danarto pada Yang Maha Pencipta.
Penciptaan karya sastra yang bercorak sufistik seperti yang telah dipaparkan di paragraf atas, sangatlah penting. Hal itu mengingat bahwa penulis melihat sastra di Indonesia setelah bertahun-tahun (sejak masa pujangga baru) hidup dalam pengaruh sastra barat, kini mulai menemukan kepercayadirian tentang adanya kebangkitan sastra Asia Tenggara yang indikator utamanya adalah kebangkitan sastra timur  bernafaskan tasawuf atau sufistik yang harus mulai dikembangkan di Asia Tenggara.
Kecenderungan sufistik sangat menarik perhatian penulis, karena penulis menemukan nilai-nilai sufistik pada berbagai karya Danarto, khususnya pada kumpulan cerpen Godlob. Terlihat kumpulan cerpen Godlob yang penulis teliti, bernafaskan nilai-nilai tasawuf atau nilai-nilai sufistik yaitu aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), aspek manusia dengan manusia lainnya (aspek sosial atau horizontal), dan aspek  manusia dengan lingkungan.
Hal ini mendorong ketertarikan penulis untuk meneliti lebih dalam nilai-nilai sufistik yang terdapat pada kumpulan Cerpen Godlob karya Danarto yang kaya akan perilaku yang layak diambil manfaatnya oleh setiap manusia, yaitu untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mengurangi kehidupan duniawi yang selalu mementingkan kehidupan materialisme.
Danarto menghadirkan kumpulan cerpen yang berjudul Godlob, yakni judul cerpen yang di buku itu dimuat paling depan. Kumpulan cerpen Godlob memuat sembilan cerpen. Dua judul di antara sembilan cerpen tersebut judulnya tidak biasa, sebab bukan merupakan judul cerpen yang ditulis oleh para pengarang lain umumnya. Judul tersebut berwujud gambar, yang satu bergambar jantung dipanah dan melelehkan tiga butir darah, sedangkan yang satunya lagi merupakan pemandangan segi tiga terbalik yang bergaris teratasnya bisa dibaca dengan mudah, yaitu berbunyi Abracadabra. Pada tiga judul cerpen, Danarto menyajikan gaya bercerita yang panjang dan menarik. Bisa dilihat pada judul cerpen Kecubung Pengasihan, Adam Marifat, dan Amageddon pada kumpulan cerpen Godlob. Hal ini tentu menjadi alasan utama mengapa penulis lebih tertarik pada karya Danarto, karena cerpen yang Danarto tulis sangat menarik dan memukau.
Cerpen-cerpen yang bernafaskan nilai-nilai sufistik bisa dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah di Indonesia, terutama di SMA. Hal ini karena, cerpen yang bernafaskan sufistik sangat kaya akan manfaat yang dapat diteladani oleh siswa. Cerpen-cerpen tersebut dapat dipilih berdasarkan kepentingan guru yang akan mengajar, dengan cara memilih cerpen berdasarkan tema atau masalah yang akan dijadikan bahan pembelajaran. Tentulah, kemampuan kreatif guru diperlukan dalam hal ini sehingga, siswa dapat menerima pelajaran dengan baik dan menyenangkan tidak dalam situasi yang menegangkan dan membosankan. Selain itu, nilai-nilai sufistik bisa kita temui dalam unsur ekstrinsik cerpen. Unsur ekstrinsik tersebut yaitu  mengenai unsur agama dan nilai-nilai sufistik adalah bagian dari nilai agama. Jadi, siswa SMA yang mempelajari karya sastra sufistik dapat memperkaya dan mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai karya sastra sufistik, karya sastra sufistik penting dipelajari. Hal ini karena tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang yang beragama harus bisa mendekatkan diri dengan Tuhan dan pada sastra sufistik kita diajari bagaimana cara mencintai Tuhan.
Hakikat Cerpen
Cerpen menurut Pranoto (2007:13)  yaitu Cerpen adalah cerita yang ditulis pendek. Cerpen terdiri dari 2.000 kata sampai dengan 10.000 kata. Jadi, cerpen adalah cerita yang ditulis terdiri dari 2.000 sampai dengan 10.000 kata yang ditulis pendek.
Notosusanto dalam Tarigan (2011:180) menyatakan Cerpen yaitu cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. Jadi cerpen adalah cerita yang memiliki jumlah kata lebih dari 5000 memiliki jalan cerita yang tepusat.
Sumardjo dan Saini (1986:37) menyatakan bahwa Cerpen adalah cerita atau narasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar telah terjadi tetapi dapat terjadi di mana saja dan kapan saja) serta relatif pendek. Jadi cerpen adalah cerita narasi yang relatif cukup pendek.
Cerita pendek adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada diri pembaca. Cerita pendek tidak perlu dipenuhi oleh hal-hal yang tidak perlu. Sedgwick dalam Tarigan (2011:179). Jadi, cerita pendek merupakan pengungkapan suatu situasi atau kelompok situasi yang memberi suatu reaksi tertentu pada pembaca.
Kosasih (2012:34) menyatakan bahwa Cerita pendek (cerpen) merupakan cerita yang menurut wujud fisiknya berbentuk pendek. Ukuran panjangnya suatu cerita memang relatif. Namun, pada umumnya cerita pendek merupakan cerita yang habis dibaca sekitar sepuluh menit atau setengah jam. Jumlah katanya sekitar 500-5.000 kata. Karena itu, cerita pendek sering diungkapkan dengan cerita yang dapat dibaca dalam sekali duduk.  Jadi cerpen adalah cerita pendek yang bisa dibaca dalam sepuluh menit atau setengah jam.
Jadi, dapat dipahami bahwa cerpen adalah cerita fiksi yang tidak mengarah pada fakta yang mempunyai satu pemahaman dari diri pembaca ketika pembaca membaca cerpen karena jumlah tokoh yang terbatas, tidak ada perkembangan karakter tokoh dan memiliki satu latar.
Hakikat Sufistik
Sufisme atau sufistik berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan).
Tasawuf yaitu nama suatu ilmu, sedangkan orang yang mempelajari ilmu tasawuf disebut dengan sufisme atau sufistik. Hal ini sejalan dengan pendapat Simuh (Sholikhin; 2013:25) menyatakan bahwa:
Tasawuf  yaitu nama yang diberikan bagi mistisme dalam islam yang oleh para orientas barat disebut dengan nama sufisme atau sufistik. Kata sufisme dalam literature barat khusus untuk mistisme islam Islamic mysticism atau mistik yang tumbuh dalam islam.
Sufisme atau sufistik yaitu jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang lahir dari nilai keagamaan. Nasr (2009:41) mengemukakan bahwa  Sufistik yaitu secara bertahap, meskipun agak terlambat, dunia Barat mulai menyadari bahwa seni Islam bukanlah sebuah koleksi aneh object de art, atau relik-relik pelik yang diciptakan oleh sebagian orang yang menyebut diri mereka Muslim, melainkan bahwa ia pada dasarnya adalah buah spiritual dari pewahyuan Islam.”
Seorang sufistik yaitu seseorang yang memiliki kemurnian hati dengan memilih untuk mendekakan diri kepada Allah SWT dan meneladani sifat-sifat Muhammad SAW. Hal ini sejalan dengan pendapat Sholikhin (2004:6) mendefinisikan secara termologis yaitu:
Seorang sufi yaitu orang yang sudah memiliki kebersihan (kemurnian) hati semata-mata untuk Allah, dan memilih Allah sebagai Sang  hakikat semata untuk dirinya, dan memutus apa yang ada dalam tangan makhluk yang muncul dalam budi seperti teladan Muhammad SAW.
Menurut Danarto (Horison: 1989:113) yaitu Sufistik yaitu bercermin pada diri sendiri. Ia melahirkan ukuran-ukuran yang khusus. Ukuran-ukuran ini adalah jalan yang harus ditempuh. Ukuran ini hanya mengacu pada Tuhan. Jadi, sufistik adalah nilai yang mengacu pada Tuhan.
Jadi, tujuan utama sufistik atau tasawuf yaitu untuk menetapkan keyakinan agamanya dengan menyaksikan langsung zat Tuhan atau pada hakekat dan jika orang sudah sampai pada hakikat, maka akan melihat makrifat. Alat untuk melihat Tuhan yaitu makrifat dengan indra batin atau mata hati atau cerminan hati yang dimiliki oleh seseorang.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif. Menurut Moleong (2007:6), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, secara  holistik, dan de-ngan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian kualitatif meru-pakan suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi. Tujuan penelitian de- ngan pendekatan kualitatif adalah untuk menganalisis hal yang diteliti. Deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan feminisme pada kumpulan cerpen Godlob Karya Danarto.
Data yang dikumpulkan yaitu berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kuti- pan-kutipan data yang memberi gambaran penyajian laporan tersebut.
Penggunaan metode penelitian deskriptif kualitatif sangat tepat digunakan pada penelitian yang berjudul Analisis Nilai-nilai Sufistik pada Kumpulan Cerpen Godlob Karya Danarto Serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa  dan Sastra Indonesia di SMA.

HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil analisis dalam kumpulan cerpen Godlob  Danarto ditemukan 95 data penggunaan nilai-nilai sufistik yang sudah dikelompokkan ke dalam aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal), dan aspek manusia dengan lingkungan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai sufistik  yang ditemukan di antaranya yaitu, 26 kutipan untuk aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), 47 kutipan untuk aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal), dan ada 22 kutipan untuk aspek manusia dengan lingkungan. Jadi, kesimpulannya nilai-nilai sufistik yang terdapat dalam kumpulan cerpen Godlob karya Danarto berjumlah 95 kutipan. Dari hasil analisis di atas dapat digambarkan ke dalam sebuah grafik. Grafik tersebut dapat dilihat di bawah ini:


Grafik
PENGGUNAAN NILAI-NILAI SUFISTIK MANUSIA DENGAN TUHAN, MANUSIA DENGAN MANUSIA, DAN MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN PADA KUMPULAN CERPEN GODLOB KARYA DANARTO


Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan dapat dipersentasekan bahwa aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal) dengan persentase 27%, aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal) dengan persentase 49%, dan aspek manusia dengan lingkungan dengan persentase 23%.

PEMBAHASAN TEMUAN
Analisis Data Cerpen Godlob karya Danarto Berdasarkan Nilai-nilai Sufistik
Kalimat  yang mengandung dalam aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal) seperti di bawah ini:
[1 Dan di seberang lembah itu, laut menerima airnya kembali. Biji-biji melayang dan jatuh dalam tanah yang lantas dipeluknya erat-erat, dan serunya Allah, aku telah menerima bagianku. Dia punyaku! Punyaku! Sesungguhnya dia punyaku! (Halaman 12)]
Kutipan kalimat tersebut jelas menandai adanya hubungan dimensi transedensial atau vertikal antara manusia (Aku) dan Tuhan. Dimensi transendental merujuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi, yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana. Dimensi ini memberikan kedalaman antara Tuhan dengan manusia. Manusia senantiasa mengingat, mencintai, patuh, dan beribadah kepada Tuhan. Artinya, dimensi transedensial menonjolkan adanya hal-hal yang bersifat kerohanian, gaib, dan abstrak antara manusia dengan Tuhan. Tercermin dalam kutipan tersebut yang memandakan adanya monolog antara si Aku dengan Tuhannya, yaitu Allah.  Tokoh aku mengakui bahwa Tuhan telah memberikan segala keinginan dan bagian yang diperlukan manusia.
[2 Kemudian para petani memandang perempuan tua itu tidak sampai di situ saja, bukan sebagai sesepuh dan pembebas saja, tetapi juga sebagai pembawa rahmat dan seorang suci yang telah mendapatkan limpahan cahaya Tuhan. Seorang yang tiap doanya dikabulkan Allah. Seorang yang mempunyai kemauan keras untuk menyadarkan orang-orang yang menyeleweng dan sesat. (Halaman 22)]
Kutipan kalimat tersebut secara tersirat menjelaskan bahwa adanya hubungan dimensi transedensial atau vertikal antara manusia (Aku) dan Tuhan. Hal ini karena, dimensi transidensial merujuk pada hubungan antara Tuhan dan manusia. Dimensi transendental merujuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi, yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana. Manusia senantiasa beribadah untuk memohon kepada Tuhan atas segala yang diinginkan. Tuhan bisa mengabulkan keinginan dan doa seseorang, karena Tuhan telah memberikan kebaikan kepada seseorang tersebut dengan segala ketekunan dari diri seseorang untuk menghadap kepadaNya setiap saat dan berusaha untuk berbuat kebajikan dengan sebaik-baiknya.  Adanya penanda para petani menganggap bahwa perempuan tua adalah seseorang yang selalu dikasihi oleh Tuhan dan dapat menyadarkan orang-orang yang menyeleweng atau tidak menyembah lagi Tuhan.

[3 Yang suci hanya Tuhan dan tiap orang bisa berdoa sendiri-sendiri dan Tuhan Mahatahu apa yang baik bagi kalian sekalian. (Halaman 25)]
Kutipan tersebut jelas menandai adanya hubungan dimensi transedensial atau vertikal antara manusia (Aku) dan Tuhan. Dimensi transendental merujuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana. Dimensi ini memberikan kedalaman antara Tuhan dengan manusia. Hal ini menjelaskan bahwa, setiap orang mampu untuk mengosongkan hati dari segala hal, karena dengan begitu, manusia dapat mencintai Tuhan. Manusia  dapat memandang Tuhan dengan penglihatan batin yaitu dengan beribadah, karena Tuhan Mahatahu atas segala hal yang dilakukan oleh manusia. Tuhan MahaTahu atas apa yang dibutuhkan oleh manusia. Hal ini berciri dengan adanya penampilan kutipan Tuhan dan tiap orang yang ingin menyembah dan berdoa pada Tuhan, setiap orang bisa beribadah dan berdoa sendiri-sendiri.
[4 O, Rintik, sudah ditinggalkan kami oleh Tuhan? tangis seorang perempuan tua yang bersimpuh di depannya. (Halaman 25)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan adanya penanda antara hubungan dimensi transedensial atau vertikal yaitu antara manusia (Aku) dan Tuhan. Dimensi transendental merujuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi yang merujuk antara manusia dengan yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana, yaitu Tuhan. Dimensi ini memberikan kedalaman antara Tuhan dengan manusia atau hubungan Habumninallah. Dalam hal ini, berarti bahwa orang yang dikuasai oleh kelalaian terhadap Tuhan, tidak mungkin memiliki rasa cinta kepada Tuhan. Manusia selalu berada dihadapan dan diawasi oleh Tuhan. Manusia jika ingin berdekatan dengan Tuhan, maka manusia harus mencintai Tuhan dengan sepenuh hati. Mencintai harus melakukan segala kegiatan kerohaniannya agar selalu dekat dengan Tuhan. Adanya kutipan pertanyaan yang diajukan oleh perempuan tua kepada rintik. Seharusnya manusia mengetahui dan menyadari baha Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia, satu kalipun manusia meninggalkan Tuhan.
[5 Kalian sekalian ada di dalam tubuh Tuhan. Tidak mungkin kita ditinggalkan atau lari daripadaNya. (Halaman 25)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan adanya penanda antara hubungan dimensi transedensial atau vertikal yaitu antara manusia (Aku) dan Tuhan. Dimensi transendental merujuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi yang merujuk antara manusia dengan yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana, yaitu Tuhan. Dimensi ini memberikan kedalaman antara Tuhan dengan manusia atau hubungan Habumninallah. Dimensi ini menjelaskan bahwa Tuhan itu ada. Tuhan selalu bersama dengan manusia di setiap nafas, penglihatan, pendengaran, tingkah laku manusia, dan segala hal adalah wujud dari kekuasaan Tuhan. Kemanapun atau dimanapun manusia berada, di sisi-Nya manusia kembali, karena Tuhan selalu bersama dan mengiringi setiap langkah manusia. Hal ini dijelaskan dalam adanya kutipan kalian dan Tuhan yang menyangkal bahwa Tuhan tidak mungkin meninggalkan manusia.

Analisis Data Cerpen Godlob karya Danarto Berdasarkan Nilai-nilai Sufistik
Kalimat  yang mengandung aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal) pada cerpen Godlob akan dibahas seperti di bawah ini:
[27 Kalau ada seseorang yang luka datang kepada politikus, maka dipukullah luka itu, hingga orang yang punya luka itu akan berteriak kesakitan dan lari tunggang langgang. Sedang kalau ia datang pada seorang penyair, luka itu akan dielus-elusnya hingga ia merasa seolah-olah lukanya telah tiada. Sehingga tak seorangpun dari kedua macam orang itu berusaha mengobati dan menyembuhkan luka itu. Bagaimana pendapatmu, Anakku?  (Halaman 5)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa adanya yang mencakup hubungan sosial yang merujuk pada hubungan manusia dengan manusia. Dimensi sosial merujuk pada kehidupan manusia kita yang profan (tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan). Selain mencintai Tuhan, manusia juga harus mencintai sesama manusia. Perlunya menekankan adanya hubungan transendental (vertikal); kepasrahan pada kebenaran yang hak (Allah), juga menekankan perlunya menjalin harmoni sesama makhluk (horizontal). Maka dari itu, unsur sosial harus senantiasa dimiliki oleh manusia. Dalam kutipan ini, adanya pertanyaan kepada tokoh anak tentang minta tolong ke siapa ketika kau terluka? Apa kepada politikus atau penyair? Siapapun manusia akan berhadapan atau meminta tolong kepada  manusia lain. Manusia tetap membutuhkan manusia lain, terlepas dari seberapa jauh pandangan dan pendapat manusia lain tersebut.
[28 Aku anak bungsu. Kenapa aku tidak minta sebagai anak sulung? Aku kagum kepada tentara. Aku ingin memasukinya. Aku dilarang. Perang pecah dan membawaku ke sana. Sekarang aku luka parah, mungkin hidup terus, mungkin sebentar nanti mati.tapi kini aku bisa berkata bahwa tentara itu baik. Semacam manusia yang percaya kepada manusia lain, sehingga kepasrahan ini mampu mendorongnya untuk mengorbankan segala-galanya, harta bendanya, keluaganya, dan nyawanya. (Halaman 6)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa yang mencakup hubungan sosial yang merujuk pada hubungan manusia dengan manusia. Dimensi sosial merujuk pada kehidupan manusia kita yang profan (tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan). Selain mencintai Tuhan, manusia juga harus mencintai sesama manusia. Perlunya menekankan adanya hubungan transendental (vertikal); kepasrahan pada kebenaran yang hak (Allah), juga menekankan perlunya menjalin harmoni sesama makhluk (horizontal). Maka dari itu, unsur sosial harus senantiasa dimiliki oleh manusia., manusia harus percaya kepada manusia yang lain. Hal ini tercermin bahwa meski harus matipun, tokoh aku tetap percaya kepada manusia lain, maka tokoh aku tidak takut untuk mengorbankan jiwa raganya.
[29 Sebagaimana perang ini terjadi, umpamanya, bukankah begitu Anakku? tukas Ayahnya. Ada setetes yang tidak beres di kalangan atas, yang mengakibatkan puluhan, ratusan, ribuan jiwa manusia hancur. Dan setetesa itu harus diselidiki betul-betul. Mungkin perkara sepuluh persen komisi atau membela celana kolor yang cengeng. Atau tentang kebenaran bibir cewek. (Halaman 7)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa adanya yang mencakup hubungan sosial yang merujuk pada hubungan manusia dengan manusia. Dimensi sosial merujuk pada kehidupan manusia kita yang profan (tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan). Selain mencintai Tuhan, manusia juga harus mencintai sesama manusia. Perlunya menekankan adanya hubungan transendental (vertikal); kepasrahan pada kebenaran yang hak (Allah), juga menekankan perlunya menjalin harmoni sesama makhluk (horizontal). Maka dari itu, unsur sosial harus senantiasa dimiliki oleh manusia. Dalam kutipan kalimat tersebut, adanya dialog atau interaksi pembicaraan antara si ayah dan si anak. Hal tersebut menandakan bahwa manusia membutuhkan manusia lain untuk berinteraksi, tak kecuali tokoh si anak maupun tokoh si ayah.
[30Nasibkulah, Anakku! Nasibkulah yang menyebabkan aku bicara, sehingga tidak cukup sekian saja. Aku sudah menyerahkan empat nyawa anak-anakku kepada Sang Politikus dan tidak ada sesuatupun yang kuterima. Sekarang ia merenggut anakku yang terakhir dan nyawa yang kusayangi, Kau! Kau! Sesuatu yang bagaimanakah dan bentuk kebenaran macam apakah menghalalkan itu semuanya? Anakku! Anakku! Tak bisa kutanggungkan lagi. (Halaman 7)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa adanya yang mencakup hubungan sosial yang merujuk pada hubungan manusia dengan manusia. Dimensi sosial merujuk pada kehidupan manusia kita yang profan (tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan). Selain mencintai Tuhan, manusia juga harus mencintai sesama manusia. Perlunya menekankan adanya hubungan transendental (vertikal); kepasrahan pada kebenaran yang hak (Allah), juga menekankan perlunya menjalin harmoni sesama makhluk (horizontal). Maka dari itu, unsur sosial harus senantiasa dimiliki oleh manusia. Dalam kutipan kalimat tersebut, adanya unsur penyesalan yang dialami oleh tokoh Aku yang telah mengorbankan anaknya untuk ikut peperangan. Hal ini menjelaskan bahwa, selain keikhlasan, manusia juga memiliki perasaan sayang kepada manusia lain. Tokoh aku sangat sayang kepada tokoh anak. Maka tokoh aku kecewa kepada sosok politikus yang memaksa agar anaknya harus ikut dalam peperangan.
Analisis Data Cerpen Godlob karya Danarto Berdasarkan Nilai-nilai Sufistik
Kalimat  yang mengandung aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal) pada cerpen Godlob akan dibahas seperti di bawah ini:
[74 Alam semesta dan isinya adalah keabadian yang abadi karena bergerak hanya karena digerakkan. Bukan bergerak sendiri. Aku adalah salah satu penghuni alam semesta ini. Aku adalah benda mati. Mana mungkin benda mati bisa merasakan penderitaan dan kebahagiaan? (Halaman 38)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa alam semesta selalu sujud kepada Allah, sehingga mencintai lingkungan alam akan mendorong manusia untuk juga selalu tunduk kepada Allah. Salah satu ajaran nilai-nilai tasawuf yaitu mahabbah (cinta), yaitu  mahabbah kepada Allah dan kepada ciptaannya dalam rangka mewujudkan mahabbah kepada Allah diantara ciptaan alam atau lingkungan hidup. Selain manusia patuh pada Allah, manusia juga harus menjaga dan merawat lingkungan sebagai perwujudan manusia patuh dan mencintai Allah. Dalam kutipan kalimat tersebut, menjelaskan bahwa aku adalah bagian dari alam semesta beserta isinya. Tokoh aku tidak pernah bisa lepas dari alam semesta. Hal ini menjelaskan bahwa, manusia tidak akan bisa lepas dari alam semesta.
[75 Kembang-kembang di taman bunga yang indah harum semerbak itu pun jauh-jauh sudah menyambut bersama-sama dengan senyum mesra kepada perempuan bunting yang berjalan gontai seolah-olah beban di dalam perutnya lebih berat dari keseluruhan tubuhnya hingga orang yang melihatnya terkesan bahwa ia lebih tampak menggelinding daripada berjalan dengan kedua belah kakinya, yang tentunya merupakan pemandangan yang jenaka. (Halaman 70)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa  alam semesta selalu sujud kepada Allah, sehingga mencintai lingkungan alam akan mendorong manusia untuk juga selalu tunduk kepada Allah. Salah satu ajaran nilai-nilai tasawuf yaitu mahabbah (cinta), yaitu  mahabbah kepada Allah dan kepada ciptaannya dalam rangka mewujudkan mahabbah kepada Allah diantara ciptaan alam atau lingkungan hidup. Selain manusia patuh pada Allah, manusia juga harus menjaga dan merawat lingkungan sebagai perwujudan manusia patuh dan mencintai Allah. Dalam kutipan kalimat tersebut, menjelaskan bahwa aku adalah bagian dari alam semesta beserta isinya. Dalam kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa adanya hubunga interaksi yang terjalain antara tokoh perempuan bunting dengan kembang-kembang. Hal ini menjelaskan bahwa, adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya.
[76 Dan kembang-kembang di taman bunga yang menyambut perempuan bunting dengan senyum mesranya itu pun tentulah di hatinya terselip perasaan geli juga. (Halaman 70-71)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa alam semesta selalu sujud kepada Allah, sehingga mencintai lingkungan alam akan mendorong manusia untuk juga selalu tunduk kepada Allah. Salah satu ajaran nilai-nilai tasawuf yaitu mahabbah (cinta), yaitu  mahabbah kepada Allah dan kepada ciptaannya dalam rangka mewujudkan mahabbah kepada Allah diantara ciptaan alam atau lingkungan hidup. Selain manusia patuh pada Allah, manusia juga harus menjaga dan merawat lingkungan sebagai perwujudan manusia patuh dan mencintai Allah. Dalam kutipan kalimat tersebut, menjelaskan bahwa aku adalah bagian dari alam semesta beserta isinya. Dalam kutipan kalimat tersebut secara tidak langsung kita bisa tahu bahwa ternyata kembang-kembang juga merasa nyaman dengan kehadiran seorang manusia, yakni perempuan bunting itu. Hal ini menjelaskan bahwa, selama manusia bisa bersikap baik, lingkunganpun bisa bersikap lebih baik kepada manusia.
[77 Taman bunga itu indah harus semerbak. Banyak orang beristirahat di sana. Orang-orang tua, laki-laki dan perempuan, anak-anak muda yang berpasangan dan sendirian, bocah-bocah cilik yang bermain kejar-kejaran atau yang tenang duduk-duduk di bangku. (Halaman 71)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa alam semesta selalu sujud kepada Allah, sehingga mencintai lingkungan alam akan mendorong manusia untuk juga selalu tunduk kepada Allah. Salah satu ajaran nilai-nilai tasawuf yaitu mahabbah (cinta), yaitu  mahabbah kepada Allah dan kepada ciptaannya dalam rangka mewujudkan mahabbah kepada Allah diantara ciptaan alam atau lingkungan hidup. Selain manusia patuh pada Allah, manusia juga harus menjaga dan merawat lingkungan sebagai perwujudan manusia patuh dan mencintai Allah. Dalam kutipan kalimat tersebut, menjelaskan bahwa aku adalah bagian dari alam semesta beserta isinya. Dalam kutipan kalimat diatas menjelaskan adanya perasaan manusia yang seringkali merasa nyaman berada di lingkungannya yang indah. Hal ini dimunculkan dengan kutipan  Banyak orang beristirahat di sana. Orang-orang tua, laki-laki dan perempuan, anak-anak muda yang berpasangan dan sendirian, bocah-bocah cilik yang bermain kejar-kejaran. Manusia membutuhkan lingkungan yang indah dan nyaman.
[78 Ia makan kembang-kembang itu. Sebagai orang gelandangan ia paling sengsara. Ia kalah rebutan sisa-sisa makanan di tong-tong sampah, sebab pengemis-pengemis lain lebih cekatan. Ia tak pernah mendapatkan apa-apa dalam bak sampah. (Halaman 71)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa alam semesta selalu sujud kepada Allah, sehingga mencintai lingkungan alam akan mendorong manusia untuk juga selalu tunduk kepada Allah. Salah satu ajaran nilai-nilai tasawuf yaitu mahabbah (cinta), yaitu  mahabbah kepada Allah dan kepada ciptaannya dalam rangka mewujudkan mahabbah kepada Allah diantara ciptaan alam atau lingkungan hidup. Selain manusia patuh pada Allah, manusia juga harus menjaga dan merawat lingkungan sebagai perwujudan manusia patuh dan mencintai Allah. Dalam kutipan kalimat tersebut dijelaskan bahwa manusia yang tidak mampu untuk melakukan apa-apa lagi karena manusia yang lain telah menolaknya. Tapi dengan ikhlas, kembang yang direndahkan oleh manusia ternyata bisa memberikan jiwa raganya untuk dimakan perempuan. Hal ini menjelaskan bahwa kembang sebagai lingkungan manusia dengan ikhlas memberi apa yang manusia inginkan. Manusia harus selalu mencintai dan menghargai lingkungan.
Penggunaan nilai-nilai sufistik berdasarkan aspek manusia dengan  Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan dalam cerpen Godlob karya Danarto banyak ditemukan, sehingga baik untuk dijadikan bahan ajar, selain itu siswa akan lebih mudah memahami feminisme. Feminisme merupakan salah satu kajian dalam sastra dan dapat diajarkan di SMA kelas XI pada KI dan KD mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XI SMA yaitu pada  point  ketiga mengenai KI tentang memahami, menerapkan, dan menganalisa pengetahuan faktual, konseptual, dan metakognitif  berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
Kemudian, pada point KD tentang memahami struktur dan kaidah teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan ulasan/reviu film/drama baik melalui lisan maupun tulisan. Kemudian, membandingkan teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan ulasan/reviu film/drama baik melalui lisan maupun tulisan. Menganalisis teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan ulasan/reviu film/drama baik melalui lisan maupun tulisan. Mengevaluasi teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan ulasan/reviu film/drama baik melalui lisan maupun tulisan      
Bila dilihat dari data yang dianalisis, maka penggunaan niali-nilai sufistik dapat didadikan bahan ajar yang baik dan benar bagi siswa SMA. Pembelajaran nilai-nilai sufistik dapat diimplikasikan dalam pembelajaran bahsa dan sastra  Indonesia sesuai dengan Kurikulum 2013.
Hasil analisis ini juga dapat dijadikan bahan pembelajaran dalam bidang sastra yaitu tentang unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik, terlebih pada unsur ekstrinsik mengenai nilai-nilai keagamaan dan sufistik merupakan puncak dari nilai keagamaan atau religius.

SIMPULAN
Berdasarkan latar belakang masalah, landasan teori, batasan masalah, dan analisis data penelitian, penulis dapat merumuskan simpulan sebagai berikut:
Dalam kumpulan cerpen Godlob karya Danarto yang mengandung nilai-nilai sufistik terdapat 95 kutipan yang meliputi tiga aspek yang dianalisis, yakni aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal), dan aspek manusia dengan lingkungan.
Kumpulan cerpen Godlob  karya Danarto banyak mengandung nilai-nilai sufistik dengan persentase yang paling dominan yaitu 49% terdapat pada aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal) yang menggambarkan bagaimana tokoh mencintai, menghargai, dan peduli terhadap tokoh lain (manusia lain), terdapat 27% pada aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal) yang menggambarkan bagaimana keimanan dan kecintaan tokoh terhadap Tuhan yang mengandung nilai-nilai sufistik, dan terdapat 23% pada aspek manusia dengan lingkungan yang menggambarkan tokoh untuk peduli, cinta, dan menghargai lingkungan.
Kumpulan cerpen Godlob karya Danarto yang mengandung nilai-nilai sufistik layak dijadikan sebagai bahan ajar dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yakni pada kurikulum 2013 kelas XI SMA yang tercantum pada KD 3.1 memahami struktur dan kaidah teks cerita pendek. Hal tersebut telah diuji oleh tringulasi.

SARAN

       Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan yang dikemukakan, penulis ingin menyampaikan saran sebagai bahan masukan yang berguna bagi pembaca, seperti yang dijelaskan di bawah ini:
Cerpen Godlob karya Danarto dapat dijadikan bahan pembelajaran sastra Indonesia bagi guru yang diberikan kepada siswa, karena mengandung nilai-nilai sufistik yang merupakan perwujudan lebih dalam dari nilai-nilai religius yang dapat meningkatkan kecintaan siswa terhadap Tuhan.
Melalui cerpen Godlob karya Danarto, diharapkan dapat menumbuhkan sikap agamis, sikap kecintaan, sikap menghargai, dan sikap peduli pada diri siswa terhadap Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Pembelajaran sastra diarahkan kepada apresiatif agar siswa tidak hanya membaca karya sastra saja tetapi dapat memahami dan mencintai karya sastra, serta mendapatkan manfaatnya.
Dalam pembelajaran sastra, guru mengajarkan siswa mengenai cerpen dengan tidak hanya membaca sinopsisnya saja, tetapi membaca keseluruhan isi cerpen, sehingga siswa dapat memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen tersebut, khususnya nilai-nilai sufistik yang merupakan perwujudan lebih dalam dari nilai religius yang terdiri dari aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal), dan aspek manusia dengan lingkungan, serta dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.




DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Marzani. 2007. Sufi Perkotaan. Jakarta: Departemen Agama RI Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.
Bagir, Haidar. 2000. Tasawuf Positif. Malang: Grasindo.
Danarto. 2004. GODLOB Kumpulan Cerpen. Yogyakarta: Matahari.
Danarto. 1989. Wawancara dengan H. Danarto, Sastra Piawai yang Bermatra Keimanan dalam Majalah Horison.
Fatoni, Ahmad. 2009. Sentuhan Sufisme dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Harian Umum Pelita.
Hadi, Abdul W.M. 2004. Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas. Yogyakarta: Mahatari.
Jurnal Kebudayaan Dan Peradaban Ulumul Quran. 1998. Jakara: Cipta Prima Budaya.
Khazim, Musa. 2002. Belajar Menjadi Sufi. Jakarta: Lentera.
Khuzaemah, Emah. 2009. Sastra dan Perkembangan Kecerdasan Spiritual Siswa. dalam Jurnal Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Pendidikan.
Kosasih, E. 2012. Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: YramaWidya.
Lubis, Mochtar. 1996. Sastra dan Tekniknya, Mochtar Lubis. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mahayana, S Maman. 2006. Bermain dengan Cerpen: Apresiasi dan Kritik      Cerpen Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Maryati. 2008. Bahasa dana Sastra Indonesia 3 untuk SMP/MTs kelas IX. Jakarta: Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Moleong. Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rosda.
Nasr, Sayyed Husein. 2009. Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Pendidikan. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Pranoto, Naning. 2007. Creative Writing. Jakarta: Raya Kultura.
Rahman, D. Jamal. 2006. Danarto, Godlob dan Saya dalam Majalah Sastra Horison.


Biodata Penulis
Anna Devara. Perempuan kelahiran Sukabumi, 28 September 1992. Putri kedua dari tiga bersaudara. Buah hati dari pasangan Ibu Tuti Sri Sulastri dan Bapak Saleh Iskandar. Bertempat tinggal di Hegarsari RT 04/12 Desa Sekarwangi Kecamatan Cibadak-Sukabumi. Perempuan yang hobi membaca dan menulis ini menamatkan Sekolah Dasar pada tahun 2004 di SDN 08 Cibadak. Kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 02 Cibadak  dan lulus pada  tahun 2007. Penulis setelah itu melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas di SMAN 1  Cibadak-Sukabumi dan lulus pada tahun 2010.  Setelah lulus SMA pada tahun 2010, sesuai dengan cita-cita dari penulis menjadi seorang pendidik maka dari itu penulis melanjutkan pendidikannya dengan menggambil jurusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor dan lulus pada tahun 2014. Jangan menunggu besok untuk berubah, lakukanlah yang terbaik hari ini, karena apa yang kita kerjakan sekarang adalah buah dari masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Wacana Sastra Melalui Kegiatan Membaca Puisi

Membaca Puisi diartikan sebagai kegiatan menyampaikan puisi didepan hadirin dengan sepenuhnya membaca teks puisi. Unsur gerak anggota tu...