NOMINA
Batasan dan ciri nomina
Nomina disebut kata benda, dibagi
menjadi tiga segi, yakni:
1.
Segi semantik
2.
Segi sintaksis, dan
3.
Segi bentuk
A.
Nomina dari segi perilaku semantiknya
Tiap kata dalam bahasa
mana pun mengandung fitur-fitur semantik yang secara universal. misalnya,
kakinya yang empat, adanya mata yang jumlahnya ada dua, warna tubuhnya yang
bisa hitam, putih, cokelat, atau abu-abu.
Kata dalam bahasa
mengandung fitur-fitur semantik yang sifatnya konvensional. Misalnya, dalam
tata budaya Indonesia peran lelaki lebih dominan daripada peran wanita, nomina
seperti gadis dapat melakukan banyak perbuatan, tetapi ada pula perbuatan yang
umumnya tidak dilakukan oleh seorang wanita.
Contoh :
Gadis itu akan mengawini Achmad
minggu depan.
( kalimat tidak lumrah, kalau
dipakai ada makna tambahan yang muncul seperti
Keagresifan atau kekayaan gadis
tersebut)
*Gadis itu akan kawin dengan
Achmad minggu depan, atau
*Achmad akan mengawini gadis
itu minggu depan
B.
Nomina dari segi perilaku sintaktisnya
Nomina
menduduki bagian utama, sedangkan pewatasnya berada di muka atau di
belakangnya. Bila pewatas frasa nominal itu berada di muka, pewatas ini umumnya
berupa numeralia atau kata tugas.
Contoh
: Lima lembar
Kalau
pewatas berada di belakang nomina, frasa nominal dapat berupa urutan dua nomina
atau lebih yang diikuti oleh adjektiva, verba, atau kelas kata yang lain.
Contoh
: Masalah penduduk
·
Nomina digunakan dalam frasa
preposisional
Contoh : di kantor
·
Nomina tunggal maupun dalam bentuk
frasa, nomina dapat menduduki posisi a. subjek b. objek c. pelengkap d.
keterangan
Contoh : Masalah penduduk memerlukan penanganan yang serius
C.
Nomina dari segi bentuknya
Dari segi bentuk
morfologisnya, nomina terdiri atas dua macam, yakni : Nomina yang terbentuk
kata dasar dan nomina turunan yang terdiri atas, afiksasi, perulangan,
pemajemukan
Nomina
Dasar, merupakan nomina yang hanya terdiri atas satu morfem.
Contoh : nomina dasar umum (gambar, malam) dan nomina dasar khusus (adik, atas)
Nomina
Turunan, dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan,
pemajemukan. Afiksasi nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan
menambahkan afiks tertentu pada kata dasar. Contoh : darat mendarat daratan
Morfofonemik
afiks nomina, penurunan nomina fonem akhir nomina
sama dengan fonem akhir afiks verba. Misalnya, verba prefix meng-berubah
menjadi men-dengan fonem /d/ (meng+dapat+mendapat) dan pada nomina peng-berubah
menjadi pen- fonem /d/ (peng+datang+penatang).
Morfologi
dan semantik nomina turunan, dalam bahasa Indonesia kata dasar
tertentu dapat langsung menjadi nomina dengan memakai afiks tertentu.
Penurunan
nomina dengan berbagai afiks (penurunan nomina
dengan ke-), pembahasan nomina yang
diturunkan dapat disebutkan ialah ketua,
kehendak, kekasih, dan kerangka.
Penurunan
nomina dengan pel-, per-, dan pe-, nomina yang
diturunkan dengan pel- hanya terbatas satu kata dasar. Contoh : pertapa –
bertapa. Nomina-nomina lain yang berkaitan dengan verba ber- tetapi muncul
dengan bentuk pe- contoh : petani – bertani
Pe- merupakan alomorf dari per- dapat
dilihat dari banyaknya bentuk nomina yakni : petani – pertanian
Penurunan
Nomina dengan peng-, arti yang umum bagi nomina dengan peng-ialah.
a. Orang
atau hal yang melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh : pembeli
– orang yang membeli
b. Orang
yang pekerjaannya melakukan kegiatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh :
penyanyi – orang yang profesinya menyanyi
c. Tampaknya
adjektiva yang menjadi sumber penurunan ini berkaitan dengan sifat emosi
manusia. Contoh : pemarah – orang yang sifaynya mudah marah
d. Alat
untuk melakukan kegiatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh : penggali – alat
untuk atau orang yang menggali
Penurunan
Nomina dengan-an, arti umum yang dinyatakan oleh nomina
dengan-an ialah hasil tindakan atau sesuatu yang dinyatakan oleh verba. Contoh
: anjuran – hasil mengajurkan atau sesuatu yang dianjurkan.
Penurunan
Nomina dengan peng-an, dapat diturunkan dari verba dengan
meng- yang berstatus transitif. a.
bentuk peng-an juga dipakai. Makna yang umum adalah perbuatan yang dinyatakan
oleh verba. Contoh : pemberontakan – perbuatan memberontak, b. nomina peng-an
yang mengandung makna hasil perbuatan hal yang dinyatakan verba. Contoh :
pengakuan – hasil perbuatan mengakui, c. nomina
turunan peng-an yang maknanya
unik sehingga harus ditentukan sendiri. Contoh : pendirian – pendapat
yang dinyatakan/perbuatan mendirikan
Penurunan
Nomina dengan per-an, diturunkan dari verba, tetapi umumnya
dari verba taktransitif dan berawalan ber-. Contoh : perjanjian – berjanji
Nomina
per-an yang berkaitan dengan verba meng- atau memper- yang
berstatus transitif. Contoh : perlawanan – melawan
Penurunan Nomina dengan ke-an
a.
Nomina dengan ke-an dapat diturunkan
dari sumber verba, adjektiva, atau nomina. Contoh : kepergian – hal yang
berhubungan dengan pergi
b.
Ke-an dengan verba, ke-an dengan
adjektiva juga bermakna hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang
dinyatakan adjektiva. Contoh : kekosongan – kosong
c.
Cirri keabstarkan ini sebenarnya
terdapat juga pada ke-an dengan adjektiva. Contoh : kebangsaan – hal mengenai
bangsa
Kontras
Antarnomina, kata dasar diberi afiks yang
berbeda-beda, banyak nomina dalam bahasa Indonesia yang pemakaiannya mempertimbangkan
perbedaan bentuk dan maknanya. Contoh :
pengosongan – perbuatan mengosongan
Nomina
dengan Dasar Polimorfemis, ada dua kelompok kata turunan
yang waktu diturunkan menjadi nomina tidak menanggalkan prefiksnya, tetapi
menjadi sumber bagi pengimbuhan yang lebih lanjut. Contoh : seragam –
keseragaman – penyeragaman
Contoh nomina turuna yang menjadi sumber
bagi penurunan, memimpin – pemimpin – kepemimpinan
Penurunan
Nomina dengan –el, -er, -em, dan –in, beberapa contoh yang
dianggap sebagai kata monomorfemis, tunjuk – telunjuk
Penurunan
Nomina dengan –wan/-wati, nomina dengan afiks –wan/-wati
mengacu kepada (a) orang yang ahli dalam bidang tertentu ,isalnya, ilmuwan (b)
orang yang mata pencarian atau pekerjaannya dalam bidang tertentu misalnya, karyawan,
(c) orang yang memilki barang atau sifat khusus misalnya, dermawan.
Penurunan
Nomina dengan –at/-in dan –a/-i, diturunkan dengan
sufiks –at dan –in yang maknanya berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin atau
jumlah. Contoh : muslim – muslimat – muslimin. Perbedaan hanya terletak pada
altenatif antara fonem /a/ untuk pria dan /i/ untuk wanita pada akhir kata.
Contoh : dewa – dewi
Penurunan
Nomina dengan –isme, -(is)asi, -logi, dan –tas,
nomian dengan sufiks –isme dan –tas dipungut dari bahasa asing, namun menjadi
produktif bentuk –isme, -(is)asi, -logi. Contoh : komunisme, kolonialisasi,
biologi, kualitas
Perulangan
Nomina/Reduplikasi adalah proses penurunan kata dengan
perulangan, baik secara utuh maupun secara sebagian. (1) perulangan utuh
misalnya, rumah-rumah, (2) perulangan salin suara misalnya, warna-warni, (3)
perulangan sebagian misalnya, jaksa-jaksa tinggi, (4) perulangan yang disertai
pengafiksan misalnya, bangun-bangunan.
Makna Bentuk Reduplikasi (1) makan
keanekaan misalnya corat-coret, (2) makna kekolektifan yang merupakan kumpulan
yang sejenis misalnya, dedaunan, (3) makan kekolektifan yang merupakan kumpulan
berbagai jenis misalnya, tumbuh-tumbuhan, (4) makan kemiripan rupa misalnya,
bapak-bapak, (5) makna kemiripan cara misalnya, kucing-kucingan.
Pemajemukan
Nomina dan Idiom,dapat ditelusuri secara langsung dari
kata-kata yang digabungkan, sedangkan nomina isiom memunculkan makna baru yang
tidak dapat secara langsung ditelusuri dari kata-kata yang digabungkan. Jadi
ujuk rasa adalah nomin, majemuk makna kata ujuk dan rasa.
Nomina
Majemuk Dasar, merupakan nomina majemuk yang
komponennya terdiri dari kata dasar. Contoh : suami - istri
Nomina
Majemuk Berafiks, merupakan nomina majemuk yang salah
satu atau kedua komponennya mempunyai afiks. Contoh : sekolah menengah
Nomina
Majemuk dari Bentuk Bebas dan Bentuk Terikat, unsur terikat,
uakni unsur yang tidak dapat berdiri sendiri. Contoh : hipertensi
Nomina
Majemuk Setara/koordinatif adalah nomina majemuk yang kedua
komponennya memilki kedudukan yang sama. Contoh : suami – istri
Nomina
Majemuk Bertingkat,
merupakan nomina majemuk yang salah satu komponennya berfungsi sebagai induk,
sedangkan komponen lainnya menjadi pewatas. Contoh : peran serta
Frasa Nomina, sebuah nomina seperti buku
dapat diperluas ke kiri atau ke kanan
Contoh :
|
Numeralia
|
Penggolong
|
Nomina
|
|
dua
|
Buah
|
Buku
|
Jika tidak ada pewatas, ditempatkan pula
sesudah inti. Contoh : buku tiga buah
Perluasan ke kanan itu mempunyai
bermacam-macam bentuk dengan mengikuti kaidah yakni :
a.
Suatu inti dapat diikuti oleh suatu
nomina lain. Contoh : buku sejarah kebudayaan Indonesia, dan frasa contoh : itu
apa ? buku
b.
Suatu inti dapat diikuti oleh adjektiva,
pronominal, atau farsa pemilkian, dan kemudian ditutup dengan pronominal
penunjuk ini atau itu.
Contoh
: baju
baju merah
baju merah saya
baju merah adik saya
baju merah adik saya ini
baju merah adik saya itu
c.
Nomina diikuti oleh adjektiva dan tidak
ada pewatas lain yang mengikutinya. Contoh : orang malas – orang yang malas
d.
Suatu inti sapat diikuti verba tertentu
yang pada hakikatnya dapat dipisahkan oleh ynag untuk, atau unsure lain. Contoh
: banberjalan – ban yang berjalan
e.
Suatu inti dapat pula diluaskan dengan
aposisi. Contoh : Indonesia, Negara kami yang sangat kami cintai
f.
Suatu inti dapat diperluas dengan
pewatas belakang, yakni klausa yang dimulai dengan yang. Contoh : penduduk yang
bermukim di daerah pedalaman
g.
Suatu inti yang dapat diperluas oleh
frasa berpreposisi. Contoh : petani di Aceh
PRONOMINA
Batas dan cirri Pronomina
Pronominal adalah kata yang dipakai
untuk mengacu kepada nomina lain. Ada tiga macam pronominal dalam bahasa
Indonesia, yakni (1) pronominal persona (2) pronominal penunjuk (3) pronmina
penanya
Pronomina Persona
Pronomina persona adalah pronominal yang
dipakai untuk mengacu pada orang
a.
Persona pertama adalah saya, aku, dan
daku, tremasuk bentuk baku
b.
Persona keuda mempunyai beberapa wujud,
yakni engkau, kamu, anda, dikau, kau, dan mu
c.
Persona ketiga, ada dua macam yakni, (1)
ia, dia, atau nya dan (2) beliau
Nomina Penyapa dan Pengacu sebagai
Pengganti Pronomina Persona
Bentuk lain yang dipakai sebagai
penyapauntuk persona kedua dan pengacu untuk persona pertamadan ketiga. Pada
dasarnya ada empat factor yang mempengaruhi hal itu, (1) letak geografis, yang
menimbulkan tanggapan yang berbedamengenai pronominal yang sama. Misalnya,
masyarakat Jawa lebih suka menggunakan kamu,
daripada engkau . (2) bahasa daerah
misalnya, di daerah Ambon mempunyai pronominal beta sebagai padananbagi
pronominal persona pertama (3) lingkungan sosial, yang terdapat di daerah
metropolitan Jakarta yang menampung orang dari berbagai suku bangsa, dapat pula
menimbulkan ragam bahasa yang berbeda. Pronominal gua atau gue dan lu dipakai
di kota ini sebagai padanan bagi persona pertama dan kedua. (4) budaya bangsa
Indonesia yang memperhatikan benar
tatakrama dalam pergaulan, biasanya menggunakan kamu, engkau, atau anda
karena pronominal seperti itu dirasakan kurang hormat, maka nomina yang dipakai
istilah seperti Bapak, Ibu, Kakak, Adik, dan Saudara.
Pronominal
penunjuk ada tiga macam, yakni (1) pronominal penunjuk umum,
(2) pronominal penunjuk tempat, dan (3) pronominal penunjuk ihwal.
Pronominal
penunjuk umum ialah ini, itu, dan anu. Contoh :
jawaban itu, masalah ini
Pronominal
penunjuk tempat ialah sini, situ, atau sana. Contoh :
kita akan bertolak dari sini
Pronominal
penanya adalah pronominal yang dipakai sebagai pemarkah
pertanyaan. Contoh : siapa, apa, kenapa, mengapa, di mana, ke mana, dari mana,
bagaimana, berapa, kapan, bila(mana).
Gabungan
Preposisi denganKata Tanya
Terdiri atas preposisi tertentu dengan
apa atau siapa. Contoh : kue lapis terbuat dan apa ?
Kata
Saja dan Implikasi Kejamakan
Implikasi kejamakan terdiri dari kata
Tanya apa, siapa, di mana, ke mana, dari mana diikuti oleh kata saja. Contoh :
kamu tadi pergi dengan siapa?
Kata
saja dan Implikasi Ketidaktentuan
Frasa apa saja, siapa saja, dan di mana
saja, dapat pula tidak berfungsi sebagia frasa Tanya. Contoh : silakan, ambil
apa saja yang Anda inginkan
Reduplikasi Apa, Siapa, dan Mana
Apa, siapa, dan mana dapat diulang untuk
menyatakan ketidaktentuan. Contoh : saya tidak memblei apa-apa untuk ibu
Frasa Pronomina
1.
Penambahan numeralia kolektif. Contoh :
mereka berdua
2.
Penambahan kata penunjuk. Contoh : saya
ini
3.
Penambahan kata sendiri. Contoh : saya
sendiri
4.
Penambahan klausa dengan yang. Contoh :
mereka yang tidak hadir (akan ditegur)
5.
Penambahan frasa nominal yang berfungsi
apositif. Contoh : kami, bangsa Indonesia
Numeralia
Numeralia atau kata bilangan adalah kata
yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau
barang)dan konsep. Ada dua macam numeralia (1) numeralia pokok, yang member
jawab atas pertanyaan “Berapa?” dan (2) numeraliia tingkat yang member jawab
atas pertanyaan “Yang keberapa?”
Numeralia pokok adalah bilangan dasar
yang menjadi sumber dari bilangan-bilangan yang lain.
a.
Numeralia pokok tertentu mengacu pada
bilangan pokok, yakni 0 – nol, 1 – satu
b.
Numeralia pokok kolektif dibentuk dengan
prefix ke- yang ditempatkan di muka nomina yang diterangkan. Contoh : ketiga
pemain – semua pemain dari nomor satu sampai ke nomor tiga
c.
Numeralia pokok distributif dapat
dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Contoh : satu-satu, dua-dua
d.
Numeralia pokok tertentu mengacu pada
jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numeralia ini tidak dapat menjadi
jawaban atas pertanyaan yang memakai kata tanya berapa.
Contoh
: banyak orang
e.
Numeralia pokok klitika jadi, numeralia
macam itu diletakan di muka nominayang bersangkutan. Contoh : eka- satu, dwi-
dua
f.
Numeralia ukuran, menyatakan ukuran baik yang berkaitan
dengan berta, panjang-pendek, maupun jumlah. Misalnya, lusin, kodi, meter,
liter, atau gram. Contoh : kalau ke took, belilah dua lusin piring
g.
Numeralia tingkat, numeralia pokok dapat
diubah menjadi numeralia tingkat. Contoh : kesatu atau pertama
h.
Numeralia pecahan, dapat dipecah menjadi
bagian yang lebih kecil. Contoh : ½ - seperdua, setengah, separuh
Frasa
numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong. Contoh : dua ekor
(kerbau)
Penggolong
nomina : orang, buah, ekor
Bahasa
Indonesia memiliki sekelompok kata yang membagi=bagi nomina maujud dalam
kategori tertentu. Contoh : orang – untuk manusia
Konsep
tunggal, jamak, dan generik
Dalam
bahasa Indonesia konsep tunggal itu ditandai oleh pemakaian kata seperti satu,
suatu atau esa, se-, sedangkan konsep jamak umumnya dinyatakan degan
perulangan. Contoh : tunggal – meja, jamak – meja-meja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar