“Sikap Kesufian Dan Latar Belakang Danarto Dalam Cerpen Godlob”
Abstrak: Dalam penelitian telaah sastra, salah satu penelitiannya yaitu analisis unsur ekstrinsik (sikap kesufian dan latar belakang pengarang) dalam sebuah cerpen. Cerpen Godlob, karya Danarto yang dianalisis dalam penelitian ini dipilih karena sikap kesufiannya yang sangat mempengaruhi karya-karyanya yang begitu luar biasa. Ada enam hal mengenai sikap kesufian Danarto yang tergambar jelas dalam karyanya yang begitu monumental ini. Keenam hal tersebut meliputi: 1) Manusia Menempuh Lima Perjalanan Alam 2) Pergulatan Menjadi Diri Sendiri Membutuhkan Sunyi 3) Permainan Lambang 4) Pandangan Hubungan Antara Orang Tua Dan Anak 5) Hidup Didalam Sufisme Dan Mati Dalam Sufisme 6) Mengungkapkan Seni Yang Sufi.
Kata kunci: Unsur Ekstrinsik, Latar Belakang dan Sikap Kesufian, Latar Belakang Pengarang, Cerpen.
Pendahuluan
Banyak pendekatan yang dapat dilakukan dalam menganalisis karya sastra. Salah satunya yaitu menganalisis karya sastra dalam unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik yang dikaji dalam sebuah tulisan ini yakni sikap kesufian dan latar belakang pengarang, yakni Danarto yang dikaitkan dengan karya sastranya yang begitu fenomenal dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Godlob.
Disebut fenomenal karena karya ini tidak hanya menceritakan tokoh, penokohan, dan unsur intrinsik lainnya, tapi juga menjelajahi bagaimana pandangan manusia untuk menjalani dan memaknai kehidupannya ini. Sejak lahirnya Cerpen Godlob, banyak kalangan yang meneliti dan menelaah karya tersebut karena banyak aspek filsafat yang dipaparkan dengan begitu apik dan luar biasa. Tidak mengherankan dalam teori dan penelitian sastra diyakini sikap kesufian dan latar belakang pengarang sangat mempengaruhi proses serta hasil dari penciptaan suatu karyanya.
Latar Belakang dan Sikap Kesufian
Pengaruh kesusatraan Persia cukup dominan di kalangan sufi kita. Dalam khazanah kesusastraan sufi Nusantara, sajak-sajak bernuansa mistik sempat berkembang di tanah Jawa dan Sumatera dengan melahirkan beberapa pengikut yang fanatik. Ciri-ciri kesusastraan sufi terlihat menonjol dalam pengungkapan daya khayal yang terasa liar. Di tangan para penyair sufi, daya khayal bahkan berkembang pesat hingga melahirkan karya-karya imajinatif dengan bahasa pengucapan yang simbolik dan metaforik,
Kaum sufi tak jarang memberikan kritik terhadap formalisme beragama. Penulis-penulis sufi terkadang bebas menyampaikan kritik atas agama formal karena mereka menekankan pengalaman langsung berjumpa dengan Tuhan. Tapi manusia hanya dapat sekadar mengetahui tanda-tanda penampakan Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri. Tetapi juga, manusia dapat mendekatkan diri padaNya, bahkan bersekutu denganNya. Untuk mengetahui bahwa Tuhan dekat dan menyatu dalam dirinya, sang sufi meniscayakan untuk melintasi puisi Kitab Suci sekaligus melampaui tirai kata dan berbagai tahapan atau jenjang yang bukan hanya melelahkan, tapi juga penuh risiko. Pengalaman mistis tertinggi akan menghasilkan situasi kejiwaan yang tembus pandang melintasi tirai makna.
Dengan cara inilah, para sufi menjalankan titahnya sebagai guru bagi umat, yang harus merancang bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat kedalaman dan keintiman personal. Penulis sufistik memahami kesempurnaan manusia pada wushûl, bukan pemahaman yakni meyakini keharusan menjalani serangkaian tangga perjalanan untuk bisa sampai pada tujuan inti dari pencarian yang hakiki. Bentuk-bentuk pencarian penulis sufistik telah saya bicarakan di muka, merupakan pengalaman mendaki tingkatan mikraj ruhani yang berputar-putar dalam lingkaran waktu primordial untuk menemukan apa yang dinamakan “sumber mata air kecemerlangan”.
Pengarang sufi pada dasarnya senantiasa berusaha melampaui ruang dan waktu dan nama-nama untuk dapat menyatu dengan Tuhan. Kata dan nama tak cukup untuk berkata ketika berhadapan sesuatu yang tak terkatakan dan tak selesai. Kata terbukti tak bisa jadi alat komunikasi, karena ada komunikasi tanpa kata, tanpa bunyi, yakni komunikasi dalam diam.
Dari semua bentuk seni yang diciptakan dalam peradaban Islam yang besar, seni Persia tentu saja paling berbeda dan luas, yang memiliki etos khasnya sendiri, pandangan dunia dan makna simbolis khusus, seni yang secara tak terelakkan berhubungan dengan sufisme, dan sesungguhnya seluruh pandangan-dunia teoretislah yang memungkinkan seni ini benar-benar dimunculkan dari ajaran-ajaran filosofis dan metafisik Sufi.
Tasawuf merupakan suatu kekuatan. Hal itu karena jiwa kaum sufi tiada harganya di jalan Allah. Mereka merelakan jiwa mereka untuk menegakan kalimat Tuhan. Mereka membebani diri dengan kepayahan untuk menyebarkan agama (khususnya) Islam di wilayah-wilayah Afrika dan negeri-negeri yang belum di taklukan oleh pasukan Islam. Pengaruh mereka cukup besar dalam menyebarkan Islam di negeri Melayu (Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina). Juga negeri-negeri lainnya di dunia.
Walaupun cerpen Danarto berbicara masalah sosial, agaknya tradisi yang khas yang tak mungkin bisa ditinggalkannya, takni suasana absurditas. Bukanlah Danarto kalau tidak memasukkan suasana absurd dalam cerpen-cerpennya.
Sebagai seorang Jawa Isalam yang taat dan dibesarkan di lingkungan budaya Jawa Tengah (Sragen, Solo, dan Yogya). Danarto terpelanting pada dunia tassawuf, dunia kaum sufi yang bersiteguh pada doktrin wahdat al-wujud (ketunggalan wujud atau ketunggalan kehadiran) dimana semua pernyataan kehidupan menemukan ke-Esa-annya kepada Sang pencipta (Umar Kayam, 1987). Hal ini sesuai dengan pernyataannya bahwa kita ini adalah milik Sang pencipta secara absolut dan ditentukan (Danarto, 1983). Oleh sebab itu, tidak terlalu mengherankan jika hampir semua cerpennya selalu dinafasi doktrin sufi yang begitu akrab bergelayut dalam perjalanan hidupnya.
Latar Belakang Danarto
Danarto (lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940; umur 71 tahun) adalah penulis dan sastrawan Indonesia. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah kumpulan cerpen, Godlob. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma'rifat, memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982. Tahun 2009 Danarto menerima Ahmad Bakrie Award untuk bidang kesusasteraan.
Ia pernah bergabung dengan Teater Sardono, yang melawat ke Eropa Barat dan Asia, 1974. Di samping berpameran Kanvas Kosong (1973) ia juga berpameran puisi konkret (1978). Pada 1 Januari 1986, Danarto mengakhiri masa bujangannya dengan menikahi Siti Zainab Luxfiati, yang biasa dipanggil Dunuk. Sayangnya, rumah tangga Danarto tidak berlangsung lama. Danarto dan Zainab bercerai setelah lebih kurang 15 tahun berumah tangga.
Perjalanan hidup Danarto kaya dengan pengalaman baik di dalam negeri dan di luar negeri. Selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai pelukis, yang memang ditekuni sejak masa muda. Sebagai pelukis ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota. Sebagai budayawan dan penyair ia pernah mengikuti program menulis di luar negeri diantaranya di Kyoto, Jepang.
Karya yang dihasilkan:
Godlob, kumpulan cerpen, 1975.
Adam Ma'rifat, kumpulan cerpen, 1982.
Orang Jawa Naik Haji.
Catatan perjalanan ibadah haji, 1983.
Setangkai Melati di Sayab Jibril.
Doktrin sufi sebagai salah satu corak agamawi berhasil menggiring Danarto untuk menghasilkan karya sastra yang transenden. Kepekaan akan kesadaran religius yang diproses melalui tatapan mata batinnya yang sensitif dalam mencuatkan obsesi kegelisahannya.
Sekilas Tentang Cerpen Godlob
Dalam buku kumpulan cerpennya, “Godlob” terdapat sembilan cerpen yang sangat menarik. Kesembilan cerpen tersebut memiliki cerita yang sangat fenomenal, tragis, dan mengandung unsur magis bahkan unsur religius juga tertera dalam kesembilan cerpen tersebut. Unsur magis yang sangat kental terdapat pada cerpennya yang berjudul“Amargedon” dimana dalam cerpen tersebut terdapat tiga tokoh yang paling berperan yaitu Ibu, anak dan bekakra-an. Bekakraan yang tak lain adalah sesosok yang berkepala tetapi tak memiliki badan, dengan alat-alat tubuhnya didalam yang masih utuh : kerongkongan, paru- paru, jantung, limpa, urat darah, urat syaraf, dan usus-ususnya. Selain itu, semua karya cerpennya tidak dapat ditebak, seperti cerpen “Kecubung Penghasilan”.
Jalan cerita yang berliku-liku dan rumit membuat orang merasa takjub dengan keindahan karya sastranya ini. Selain itu cerpen “Godlob” yang menjadi judul dalam buku ini juga sangat mengesankan. Dalam cerpen ini, Danarto memberikan unsur-unsur yang berbeda dari karya yang biasanya. Dalam cerpen ini terdapat unsur kepahlawanan dan pembunuhan.
Sebenarnya, arti dari judul “Godlob” sendiri masih mengundang pertanyaan. Dari semua cerpen yang ada di buku itu, sebagian besar mengandung cerita-cerita tentang pembunuhan, pemberontakan, magis, mistis dan realigi. Cerita yang ditampilkansangat menakjubkan. Bahasa yang digunakan sangat menunjukkan bahwa Danarto adalah seniman sejati.
Landasan Teoritis
Sufisme yaitu jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam buku Warisan Sufi yang ditulis oleh Seyyed Hossein Nasr (2002: 41) mengemukakan bahwa secara bertahap, meskipun agak terlambat, dunia Barat mulai menyadari bahwa seni Islam bukanlah sebuah koleksi aneh object de art, atau relik-relik pelik yang diciptakan oleh sebagian orang yang menyebut diri mereka Muslim, melainkan bahwa ia pada dasarnya adalah buah spiritual dari pewahyuan Islam.
Sufisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan). Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan paham tasawuf sebagai arah asketis-mistis dalam ajaran Islam (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P.Van De Woestijne).
Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu (1) Perasaan kebatinan yang ada pada sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam,(2) Adat atau kebiasaan orang Islam baru yang bersumber dari agama-agama non Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya, paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung unsur-unsur ajaran Islam. Dengan kata lain, dalam agama Islam tidak ada paham Tasawuf walaupun tidak sedikit jumlah orang Islam yang menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980)
Pada tataran yang lebih eksternal, kemunculan dan adaptasi bentuk-bentuk seni tertentu oleh kaum Sufi memungkinkan eksistensi seni terus berlanjut, terutama berkaitan dengan seni musik. Islam sendiri benar-benar menganggap aspek Ketuhanan sebagai keindahan, dan gambaran ini dijadikan tumpuan istimewa dalam Tasawuf, yang secara alami berasal dan mengandung inti (haqaiq) ajaran Islam. Maka bukanlah suatu kebetulan apabila karya-karya yang ditulis para Sufi, baik puisi maupun prosa, merupakan karya agung dalam kualitas dan keindahan (Abdul Hadi, 2001: 10).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Memahami Wacana Sastra Melalui Kegiatan Membaca Puisi
Membaca Puisi diartikan sebagai kegiatan menyampaikan puisi didepan hadirin dengan sepenuhnya membaca teks puisi. Unsur gerak anggota tu...
-
Sepintas kilasan mengenai Instalasi Rindu Assalamualaikum….. Apa kabar pembaca? Semoga pembaca selalu dilindungi dan dirahmat...
-
Ketika Cinta Itu mati, Kamu Tidak Perlu Ikut Mati Bersamanya Cinta pertama ini s ebenarnya dimulai dari keisenganku de...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar