ANALISIS NILAI-NILAI SUFISTIK PADA CERPEN GODLOB KARYA DANARTO SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMA
Oleh:
Anna Devara1, Aam Nurjaman2, Rina Rosdiana3
ABSTRAK
Sastra sufistik adalah karya sastra yang mengandung nilai-nilai tasawuf dan pengalaman tasawuf yang merupakan kerinduan sastrawan terhadap Tuhan, hakikat hubungan makhluk dengan khalik, dan perilaku yang tergolong dalam pengalaman religius. Sastra sufistik kurang diketahui dan diminati oleh para pembaca, khususnya siswa di SMA. Jadi, siswa SMA yang mempelajari karya sastra sufistik dapat memperkaya dan mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai karya sastra sufistik, karya sastra sufistik penting dipelajari. Pada sastra sufistik kita diajari bagaimana cara mencintai Tuhan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan nilai-nilai sufistik yang terdapat dalam cerpen Godlob karya Danarto dan bagaimana implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deksriptif kualitatif tertuju pada analisis data. Berdasarkan hasil analisis dalam cerpen Godlob karya Danarto terdapat 95 kutipan yang mengandung nilai-nilai sufistik. Data persentase yang paling dominan terdapat yakni 47 kutipan dengan persentase 49% dari aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal), ada 26 kutipan dengan persentase 27% dari aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), dan ada 22 kutipan dengan persentase 23% dari aspek manusia dengan lingkungan. Dari persentase data nilai-nilai sufistik yang disetujui oleh tringulator yakni 97,8% dan 2,2% tidak disetujui. Berdasarkan kriteria Kurikulum 2013, kumpulan cerpen Godlob karya Danarto layak dijadikan bahan ajar untuk pelajaran bahasa dan sastra Indonesia dan memiliki implikasi yang baik serta telah diuji keabsahan penelitiannya.
Kata Kunci: Sufistik, Cerpen, Implikasi
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
2Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
3Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
ABSTRACT
Sufi Literature is literature that contains the values and the experiences of Sufism. Sufism is a writer’s longing for God, the relationship between the human and God, and behaviors that are related to religious experience. Mostly, Senior high school students are not interested in Sufi Literature. They are able to enrich their knowledge of Sufi Literature if learning it more. Therefore, Sufi literature teaches us to love God more by learning it. The purpose of this research is to understand and describe the values in the Sufi story which is worked by Danarto and how its implications for learning Indonesian language and literature in senior high school. The method that is used in this research focuses on the qualitative descriptive and data analysis. Based on the result, there are 95 quotes that contain Sufi value. The most dominant data presentation is 47 quotes with 49% about humanity and humanity (social or horizontal aspect), there are 26 quotes with 27% about humanity and theology (vertical or horizontal dimension) and 22 quotes with 23% about humanity and environmental aspect. Therefore, from the presentation shown above, the Sufi values approved by triangulators However, they agree that the story has 97,8% Sufi values and 2,2% of the story does not has Sufi. Based on Curriculum 2013, short story Godlob by Danarto is good to be used for Indonesian Language material because it is really useful and the originality has been approved.
Key Words: Sufistik, Short Story, Implication
PENDAHULUAN
Sastra merupakan suatu keindahan, dikarenakan itu merupakan suatu bentuk ekspresi diri manusia. Wellek dan Warren mengungkapkan bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni dan salah satu batasannya adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Jadi, sastra adalah suatu bentuk kehidupan manusia yang diungkapkan secara tertulis ataupun lisan dalam sebuah karya sastra yang berfungsi untuk suatu peneladanan yang berasal dari pemikiran, imajinasi, perasaan, dan pengalaman kehidupan sosial manusia.
Sastra sufistik adalah karya sastra mengandung nilai-nilai tasawuf dan pengalaman tasawuf yang merupakan kerinduan sastrawan terhadap Tuhan, hakikat hubungan makhluk dengan khalik, dan perilaku yang tergolong dalam pengalaman religius. Jadi, sastra sufistik mempunyai pertalian yang kuat dengan tasawuf dan sastra sufi. Selain itu sastra sufistik merupakan karya sastra yang kurang diketahui dan diminati oleh para pembaca, khususnya oleh siswa di SMA. Padahal, sastra sufistik sangat bermanfaat untuk dipelajari karena mengandung nilai-nilai kehidupan.
Kecenderungan sufisme dalam cerpen-cerpen terpilih Danarto merupakan satu perkembangan baru dalam sejarah perjalanan kesusasteraan di Indonesia yang mengambarkan berbagai aspek kehidupan di masyarakat. Kecederungan sufistik yang dimunculkan oleh pengarang melalui cerpen-cerpennya merupakan satu pengalaman yang dialami oleh pengarang melalui hasil perenungan dan pemahaman yang mendalam seperti yang dialami oleh para ahli-ahli sufi terdahulu.
Jalan cerita yang berliku-liku dan rumit membuat penulis merasa takjub dengan keindahan karya sastra yang dimunculkan oleh Danarto. Cerpen Godlob yang menjadi judul dalam kumpulan cerpen tersebut sangat mengesankan. Dalam cerpen ini, Danarto memberikan unsur-unsur yang berbeda dari karya yang biasanya, yaitu terdapat unsur kepahlawanan dan pembunuhan.
Karya sastra yang diciptakan oleh Danarto memang sangat mengagumkan. Karya-karya Danarto mampu mendobrak ke dalam rutinitas dan konvensionalitas sastra Indonesia di dalam perkembangan sastra di Indonesia. Melalui kejutan pengutaraan yang luar biasa, penyajian plot yang memukau, serta keliaran Danarto dalam memunculkan suatu tema cerita membuat Danarto menjadi salah satu cerpenis jenius yang terkemuka di Indonesia. Cerpen-cerpen Danarto merupakan jenis cerita yang religius, bernuansa kebatinan, abstrak tapi konkret, dan daya imajinasi yang mengagumkan.
Karya sastra yang mengandung unsur-unsur sufistik haruslah menjadi minat bagi para penggiat sastra, sastra yang bernafaskan sufistik itu sangat indah dan bermakna. Hal ini karena, merujuk pada keindahan batin yang bersifat memperkaya rohani, terdapat hikmah dan jalan menuju tauhid, serta pada keindahan yang hakiki yaitu keindahan pada Sang Pencipta. Sastra sufistik berbeda dengan sastra yang lain. Sastra sufistik memberikan cakrawala yang luas dan dalam. Ia menjangkau warna kemanusiaan yang didalamnya dijabarka kebutuhan sehari-hari, kebutuhan jangka panjang, sampai pada kebutuhan akhirat. Ia bisa melewati segala gejolak termasuk gejolak sosial masyarakat. Sastra sufistik mengolah segala lahan kehidupan sehari-hari menjadi sajian sastra yang indah dan tak terduga. Maka dari itu, sastra sufistik harus mendapat perhatian dan sangat penting untuk dipelajari, karena banyak nila-nilai yang terkandung didalamnya yang dapat diteladani dan diambil manfaatnya sebagai acuan unuk bisa menyikapi hidup dengan arif dan bijaksana.
Penciptaan karya sastra yang bercorak sufistik merupakan upaya untuk mencernakan pengalaman rohani. Melalui proses ini, seseorang akan memperoleh ilham dengan izin Allah SWT. Seorang pengarang menulis karena memperoleh inspirasi atau ilham sehingga, karya yang lahir bukan hanya berdasarkan perbandingan dengan karya sastra yang pernah ada, melainkan sebagai hasil memperoleh limpahan pencerahan batin yang menghasilkan suatu makna, artinya hasil dari lebih mendekatkan diri Danarto pada Yang Maha Pencipta.
Penciptaan karya sastra yang bercorak sufistik seperti yang telah dipaparkan di paragraf atas, sangatlah penting. Hal itu mengingat bahwa penulis melihat sastra di Indonesia setelah bertahun-tahun (sejak masa pujangga baru) hidup dalam pengaruh sastra barat, kini mulai menemukan kepercayadirian tentang adanya kebangkitan sastra Asia Tenggara yang indikator utamanya adalah kebangkitan sastra timur bernafaskan tasawuf atau sufistik yang harus mulai dikembangkan di Asia Tenggara.
Kecenderungan sufistik sangat menarik perhatian penulis, karena penulis menemukan nilai-nilai sufistik pada berbagai karya Danarto, khususnya pada kumpulan cerpen Godlob. Terlihat kumpulan cerpen Godlob yang penulis teliti, bernafaskan nilai-nilai tasawuf atau nilai-nilai sufistik yaitu aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), aspek manusia dengan manusia lainnya (aspek sosial atau horizontal), dan aspek manusia dengan lingkungan.
Hal ini mendorong ketertarikan penulis untuk meneliti lebih dalam nilai-nilai sufistik yang terdapat pada kumpulan Cerpen Godlob karya Danarto yang kaya akan perilaku yang layak diambil manfaatnya oleh setiap manusia, yaitu untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mengurangi kehidupan duniawi yang selalu mementingkan kehidupan materialisme.
Danarto menghadirkan kumpulan cerpen yang berjudul Godlob, yakni judul cerpen yang di buku itu dimuat paling depan. Kumpulan cerpen Godlob memuat sembilan cerpen. Dua judul di antara sembilan cerpen tersebut judulnya tidak biasa, sebab bukan merupakan judul cerpen yang ditulis oleh para pengarang lain umumnya. Judul tersebut berwujud gambar, yang satu bergambar jantung dipanah dan melelehkan tiga butir darah, sedangkan yang satunya lagi merupakan pemandangan segi tiga terbalik yang bergaris teratasnya bisa dibaca dengan mudah, yaitu berbunyi Abracadabra. Pada tiga judul cerpen, Danarto menyajikan gaya bercerita yang panjang dan menarik. Bisa dilihat pada judul cerpen Kecubung Pengasihan, Adam Marifat, dan Amageddon pada kumpulan cerpen Godlob. Hal ini tentu menjadi alasan utama mengapa penulis lebih tertarik pada karya Danarto, karena cerpen yang Danarto tulis sangat menarik dan memukau.
Cerpen-cerpen yang bernafaskan nilai-nilai sufistik bisa dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah di Indonesia, terutama di SMA. Hal ini karena, cerpen yang bernafaskan sufistik sangat kaya akan manfaat yang dapat diteladani oleh siswa. Cerpen-cerpen tersebut dapat dipilih berdasarkan kepentingan guru yang akan mengajar, dengan cara memilih cerpen berdasarkan tema atau masalah yang akan dijadikan bahan pembelajaran. Tentulah, kemampuan kreatif guru diperlukan dalam hal ini sehingga, siswa dapat menerima pelajaran dengan baik dan menyenangkan tidak dalam situasi yang menegangkan dan membosankan. Selain itu, nilai-nilai sufistik bisa kita temui dalam unsur ekstrinsik cerpen. Unsur ekstrinsik tersebut yaitu mengenai unsur agama dan nilai-nilai sufistik adalah bagian dari nilai agama. Jadi, siswa SMA yang mempelajari karya sastra sufistik dapat memperkaya dan mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai karya sastra sufistik, karya sastra sufistik penting dipelajari. Hal ini karena tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang yang beragama harus bisa mendekatkan diri dengan Tuhan dan pada sastra sufistik kita diajari bagaimana cara mencintai Tuhan.
Hakikat Cerpen
Cerpen menurut Pranoto (2007:13) yaitu Cerpen adalah cerita yang ditulis pendek. Cerpen terdiri dari 2.000 kata sampai dengan 10.000 kata. Jadi, cerpen adalah cerita yang ditulis terdiri dari 2.000 sampai dengan 10.000 kata yang ditulis pendek.
Notosusanto dalam Tarigan (2011:180) menyatakan Cerpen yaitu cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. Jadi cerpen adalah cerita yang memiliki jumlah kata lebih dari 5000 memiliki jalan cerita yang tepusat.
Sumardjo dan Saini (1986:37) menyatakan bahwa Cerpen adalah cerita atau narasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar telah terjadi tetapi dapat terjadi di mana saja dan kapan saja) serta relatif pendek. Jadi cerpen adalah cerita narasi yang relatif cukup pendek.
Cerita pendek adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada diri pembaca. Cerita pendek tidak perlu dipenuhi oleh hal-hal yang tidak perlu. Sedgwick dalam Tarigan (2011:179). Jadi, cerita pendek merupakan pengungkapan suatu situasi atau kelompok situasi yang memberi suatu reaksi tertentu pada pembaca.
Kosasih (2012:34) menyatakan bahwa Cerita pendek (cerpen) merupakan cerita yang menurut wujud fisiknya berbentuk pendek. Ukuran panjangnya suatu cerita memang relatif. Namun, pada umumnya cerita pendek merupakan cerita yang habis dibaca sekitar sepuluh menit atau setengah jam. Jumlah katanya sekitar 500-5.000 kata. Karena itu, cerita pendek sering diungkapkan dengan cerita yang dapat dibaca dalam sekali duduk. Jadi cerpen adalah cerita pendek yang bisa dibaca dalam sepuluh menit atau setengah jam.
Jadi, dapat dipahami bahwa cerpen adalah cerita fiksi yang tidak mengarah pada fakta yang mempunyai satu pemahaman dari diri pembaca ketika pembaca membaca cerpen karena jumlah tokoh yang terbatas, tidak ada perkembangan karakter tokoh dan memiliki satu latar.
Hakikat Sufistik
Sufisme atau sufistik berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan).
Tasawuf yaitu nama suatu ilmu, sedangkan orang yang mempelajari ilmu tasawuf disebut dengan sufisme atau sufistik. Hal ini sejalan dengan pendapat Simuh (Sholikhin; 2013:25) menyatakan bahwa:
Tasawuf yaitu nama yang diberikan bagi mistisme dalam islam yang oleh para orientas barat disebut dengan nama sufisme atau sufistik. Kata sufisme dalam literature barat khusus untuk mistisme islam Islamic mysticism atau mistik yang tumbuh dalam islam.
Sufisme atau sufistik yaitu jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang lahir dari nilai keagamaan. Nasr (2009:41) mengemukakan bahwa Sufistik yaitu secara bertahap, meskipun agak terlambat, dunia Barat mulai menyadari bahwa seni Islam bukanlah sebuah koleksi aneh object de art, atau relik-relik pelik yang diciptakan oleh sebagian orang yang menyebut diri mereka Muslim, melainkan bahwa ia pada dasarnya adalah buah spiritual dari pewahyuan Islam.”
Seorang sufistik yaitu seseorang yang memiliki kemurnian hati dengan memilih untuk mendekakan diri kepada Allah SWT dan meneladani sifat-sifat Muhammad SAW. Hal ini sejalan dengan pendapat Sholikhin (2004:6) mendefinisikan secara termologis yaitu:
Seorang sufi yaitu orang yang sudah memiliki kebersihan (kemurnian) hati semata-mata untuk Allah, dan memilih Allah sebagai Sang hakikat semata untuk dirinya, dan memutus apa yang ada dalam tangan makhluk yang muncul dalam budi seperti teladan Muhammad SAW.
Menurut Danarto (Horison: 1989:113) yaitu Sufistik yaitu bercermin pada diri sendiri. Ia melahirkan ukuran-ukuran yang khusus. Ukuran-ukuran ini adalah jalan yang harus ditempuh. Ukuran ini hanya mengacu pada Tuhan. Jadi, sufistik adalah nilai yang mengacu pada Tuhan.
Jadi, tujuan utama sufistik atau tasawuf yaitu untuk menetapkan keyakinan agamanya dengan menyaksikan langsung zat Tuhan atau pada hakekat dan jika orang sudah sampai pada hakikat, maka akan melihat makrifat. Alat untuk melihat Tuhan yaitu makrifat dengan indra batin atau mata hati atau cerminan hati yang dimiliki oleh seseorang.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif. Menurut Moleong (2007:6), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, secara holistik, dan de-ngan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian kualitatif meru-pakan suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi. Tujuan penelitian de- ngan pendekatan kualitatif adalah untuk menganalisis hal yang diteliti. Deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan feminisme pada kumpulan cerpen Godlob Karya Danarto.
Data yang dikumpulkan yaitu berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kuti- pan-kutipan data yang memberi gambaran penyajian laporan tersebut.
Penggunaan metode penelitian deskriptif kualitatif sangat tepat digunakan pada penelitian yang berjudul Analisis Nilai-nilai Sufistik pada Kumpulan Cerpen Godlob Karya Danarto Serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil analisis dalam kumpulan cerpen Godlob Danarto ditemukan 95 data penggunaan nilai-nilai sufistik yang sudah dikelompokkan ke dalam aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal), dan aspek manusia dengan lingkungan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai sufistik yang ditemukan di antaranya yaitu, 26 kutipan untuk aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), 47 kutipan untuk aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal), dan ada 22 kutipan untuk aspek manusia dengan lingkungan. Jadi, kesimpulannya nilai-nilai sufistik yang terdapat dalam kumpulan cerpen Godlob karya Danarto berjumlah 95 kutipan. Dari hasil analisis di atas dapat digambarkan ke dalam sebuah grafik. Grafik tersebut dapat dilihat di bawah ini:
Grafik
PENGGUNAAN NILAI-NILAI SUFISTIK MANUSIA DENGAN TUHAN, MANUSIA DENGAN MANUSIA, DAN MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN PADA KUMPULAN CERPEN GODLOB KARYA DANARTO
Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan dapat dipersentasekan bahwa aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal) dengan persentase 27%, aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal) dengan persentase 49%, dan aspek manusia dengan lingkungan dengan persentase 23%.
PEMBAHASAN TEMUAN
Analisis Data Cerpen Godlob karya Danarto Berdasarkan Nilai-nilai Sufistik
Kalimat yang mengandung dalam aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal) seperti di bawah ini:
[1 Dan di seberang lembah itu, laut menerima airnya kembali. Biji-biji melayang dan jatuh dalam tanah yang lantas dipeluknya erat-erat, dan serunya Allah, aku telah menerima bagianku. Dia punyaku! Punyaku! Sesungguhnya dia punyaku! (Halaman 12)]
Kutipan kalimat tersebut jelas menandai adanya hubungan dimensi transedensial atau vertikal antara manusia (Aku) dan Tuhan. Dimensi transendental merujuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi, yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana. Dimensi ini memberikan kedalaman antara Tuhan dengan manusia. Manusia senantiasa mengingat, mencintai, patuh, dan beribadah kepada Tuhan. Artinya, dimensi transedensial menonjolkan adanya hal-hal yang bersifat kerohanian, gaib, dan abstrak antara manusia dengan Tuhan. Tercermin dalam kutipan tersebut yang memandakan adanya monolog antara si Aku dengan Tuhannya, yaitu Allah. Tokoh aku mengakui bahwa Tuhan telah memberikan segala keinginan dan bagian yang diperlukan manusia.
[2 Kemudian para petani memandang perempuan tua itu tidak sampai di situ saja, bukan sebagai sesepuh dan pembebas saja, tetapi juga sebagai pembawa rahmat dan seorang suci yang telah mendapatkan limpahan cahaya Tuhan. Seorang yang tiap doanya dikabulkan Allah. Seorang yang mempunyai kemauan keras untuk menyadarkan orang-orang yang menyeleweng dan sesat. (Halaman 22)]
Kutipan kalimat tersebut secara tersirat menjelaskan bahwa adanya hubungan dimensi transedensial atau vertikal antara manusia (Aku) dan Tuhan. Hal ini karena, dimensi transidensial merujuk pada hubungan antara Tuhan dan manusia. Dimensi transendental merujuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi, yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana. Manusia senantiasa beribadah untuk memohon kepada Tuhan atas segala yang diinginkan. Tuhan bisa mengabulkan keinginan dan doa seseorang, karena Tuhan telah memberikan kebaikan kepada seseorang tersebut dengan segala ketekunan dari diri seseorang untuk menghadap kepadaNya setiap saat dan berusaha untuk berbuat kebajikan dengan sebaik-baiknya. Adanya penanda para petani menganggap bahwa perempuan tua adalah seseorang yang selalu dikasihi oleh Tuhan dan dapat menyadarkan orang-orang yang menyeleweng atau tidak menyembah lagi Tuhan.
[3 Yang suci hanya Tuhan dan tiap orang bisa berdoa sendiri-sendiri dan Tuhan Mahatahu apa yang baik bagi kalian sekalian. (Halaman 25)]
Kutipan tersebut jelas menandai adanya hubungan dimensi transedensial atau vertikal antara manusia (Aku) dan Tuhan. Dimensi transendental merujuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana. Dimensi ini memberikan kedalaman antara Tuhan dengan manusia. Hal ini menjelaskan bahwa, setiap orang mampu untuk mengosongkan hati dari segala hal, karena dengan begitu, manusia dapat mencintai Tuhan. Manusia dapat memandang Tuhan dengan penglihatan batin yaitu dengan beribadah, karena Tuhan Mahatahu atas segala hal yang dilakukan oleh manusia. Tuhan MahaTahu atas apa yang dibutuhkan oleh manusia. Hal ini berciri dengan adanya penampilan kutipan Tuhan dan tiap orang yang ingin menyembah dan berdoa pada Tuhan, setiap orang bisa beribadah dan berdoa sendiri-sendiri.
[4 O, Rintik, sudah ditinggalkan kami oleh Tuhan? tangis seorang perempuan tua yang bersimpuh di depannya. (Halaman 25)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan adanya penanda antara hubungan dimensi transedensial atau vertikal yaitu antara manusia (Aku) dan Tuhan. Dimensi transendental merujuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi yang merujuk antara manusia dengan yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana, yaitu Tuhan. Dimensi ini memberikan kedalaman antara Tuhan dengan manusia atau hubungan Habumninallah. Dalam hal ini, berarti bahwa orang yang dikuasai oleh kelalaian terhadap Tuhan, tidak mungkin memiliki rasa cinta kepada Tuhan. Manusia selalu berada dihadapan dan diawasi oleh Tuhan. Manusia jika ingin berdekatan dengan Tuhan, maka manusia harus mencintai Tuhan dengan sepenuh hati. Mencintai harus melakukan segala kegiatan kerohaniannya agar selalu dekat dengan Tuhan. Adanya kutipan pertanyaan yang diajukan oleh perempuan tua kepada rintik. Seharusnya manusia mengetahui dan menyadari baha Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia, satu kalipun manusia meninggalkan Tuhan.
[5 Kalian sekalian ada di dalam tubuh Tuhan. Tidak mungkin kita ditinggalkan atau lari daripadaNya. (Halaman 25)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan adanya penanda antara hubungan dimensi transedensial atau vertikal yaitu antara manusia (Aku) dan Tuhan. Dimensi transendental merujuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi yang merujuk antara manusia dengan yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana, yaitu Tuhan. Dimensi ini memberikan kedalaman antara Tuhan dengan manusia atau hubungan Habumninallah. Dimensi ini menjelaskan bahwa Tuhan itu ada. Tuhan selalu bersama dengan manusia di setiap nafas, penglihatan, pendengaran, tingkah laku manusia, dan segala hal adalah wujud dari kekuasaan Tuhan. Kemanapun atau dimanapun manusia berada, di sisi-Nya manusia kembali, karena Tuhan selalu bersama dan mengiringi setiap langkah manusia. Hal ini dijelaskan dalam adanya kutipan kalian dan Tuhan yang menyangkal bahwa Tuhan tidak mungkin meninggalkan manusia.
Analisis Data Cerpen Godlob karya Danarto Berdasarkan Nilai-nilai Sufistik
Kalimat yang mengandung aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal) pada cerpen Godlob akan dibahas seperti di bawah ini:
[27 Kalau ada seseorang yang luka datang kepada politikus, maka dipukullah luka itu, hingga orang yang punya luka itu akan berteriak kesakitan dan lari tunggang langgang. Sedang kalau ia datang pada seorang penyair, luka itu akan dielus-elusnya hingga ia merasa seolah-olah lukanya telah tiada. Sehingga tak seorangpun dari kedua macam orang itu berusaha mengobati dan menyembuhkan luka itu. Bagaimana pendapatmu, Anakku? (Halaman 5)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa adanya yang mencakup hubungan sosial yang merujuk pada hubungan manusia dengan manusia. Dimensi sosial merujuk pada kehidupan manusia kita yang profan (tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan). Selain mencintai Tuhan, manusia juga harus mencintai sesama manusia. Perlunya menekankan adanya hubungan transendental (vertikal); kepasrahan pada kebenaran yang hak (Allah), juga menekankan perlunya menjalin harmoni sesama makhluk (horizontal). Maka dari itu, unsur sosial harus senantiasa dimiliki oleh manusia. Dalam kutipan ini, adanya pertanyaan kepada tokoh anak tentang minta tolong ke siapa ketika kau terluka? Apa kepada politikus atau penyair? Siapapun manusia akan berhadapan atau meminta tolong kepada manusia lain. Manusia tetap membutuhkan manusia lain, terlepas dari seberapa jauh pandangan dan pendapat manusia lain tersebut.
[28 Aku anak bungsu. Kenapa aku tidak minta sebagai anak sulung? Aku kagum kepada tentara. Aku ingin memasukinya. Aku dilarang. Perang pecah dan membawaku ke sana. Sekarang aku luka parah, mungkin hidup terus, mungkin sebentar nanti mati.tapi kini aku bisa berkata bahwa tentara itu baik. Semacam manusia yang percaya kepada manusia lain, sehingga kepasrahan ini mampu mendorongnya untuk mengorbankan segala-galanya, harta bendanya, keluaganya, dan nyawanya. (Halaman 6)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa yang mencakup hubungan sosial yang merujuk pada hubungan manusia dengan manusia. Dimensi sosial merujuk pada kehidupan manusia kita yang profan (tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan). Selain mencintai Tuhan, manusia juga harus mencintai sesama manusia. Perlunya menekankan adanya hubungan transendental (vertikal); kepasrahan pada kebenaran yang hak (Allah), juga menekankan perlunya menjalin harmoni sesama makhluk (horizontal). Maka dari itu, unsur sosial harus senantiasa dimiliki oleh manusia., manusia harus percaya kepada manusia yang lain. Hal ini tercermin bahwa meski harus matipun, tokoh aku tetap percaya kepada manusia lain, maka tokoh aku tidak takut untuk mengorbankan jiwa raganya.
[29 Sebagaimana perang ini terjadi, umpamanya, bukankah begitu Anakku? tukas Ayahnya. Ada setetes yang tidak beres di kalangan atas, yang mengakibatkan puluhan, ratusan, ribuan jiwa manusia hancur. Dan setetesa itu harus diselidiki betul-betul. Mungkin perkara sepuluh persen komisi atau membela celana kolor yang cengeng. Atau tentang kebenaran bibir cewek. (Halaman 7)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa adanya yang mencakup hubungan sosial yang merujuk pada hubungan manusia dengan manusia. Dimensi sosial merujuk pada kehidupan manusia kita yang profan (tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan). Selain mencintai Tuhan, manusia juga harus mencintai sesama manusia. Perlunya menekankan adanya hubungan transendental (vertikal); kepasrahan pada kebenaran yang hak (Allah), juga menekankan perlunya menjalin harmoni sesama makhluk (horizontal). Maka dari itu, unsur sosial harus senantiasa dimiliki oleh manusia. Dalam kutipan kalimat tersebut, adanya dialog atau interaksi pembicaraan antara si ayah dan si anak. Hal tersebut menandakan bahwa manusia membutuhkan manusia lain untuk berinteraksi, tak kecuali tokoh si anak maupun tokoh si ayah.
[30Nasibkulah, Anakku! Nasibkulah yang menyebabkan aku bicara, sehingga tidak cukup sekian saja. Aku sudah menyerahkan empat nyawa anak-anakku kepada Sang Politikus dan tidak ada sesuatupun yang kuterima. Sekarang ia merenggut anakku yang terakhir dan nyawa yang kusayangi, Kau! Kau! Sesuatu yang bagaimanakah dan bentuk kebenaran macam apakah menghalalkan itu semuanya? Anakku! Anakku! Tak bisa kutanggungkan lagi. (Halaman 7)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa adanya yang mencakup hubungan sosial yang merujuk pada hubungan manusia dengan manusia. Dimensi sosial merujuk pada kehidupan manusia kita yang profan (tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan). Selain mencintai Tuhan, manusia juga harus mencintai sesama manusia. Perlunya menekankan adanya hubungan transendental (vertikal); kepasrahan pada kebenaran yang hak (Allah), juga menekankan perlunya menjalin harmoni sesama makhluk (horizontal). Maka dari itu, unsur sosial harus senantiasa dimiliki oleh manusia. Dalam kutipan kalimat tersebut, adanya unsur penyesalan yang dialami oleh tokoh Aku yang telah mengorbankan anaknya untuk ikut peperangan. Hal ini menjelaskan bahwa, selain keikhlasan, manusia juga memiliki perasaan sayang kepada manusia lain. Tokoh aku sangat sayang kepada tokoh anak. Maka tokoh aku kecewa kepada sosok politikus yang memaksa agar anaknya harus ikut dalam peperangan.
Analisis Data Cerpen Godlob karya Danarto Berdasarkan Nilai-nilai Sufistik
Kalimat yang mengandung aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal) pada cerpen Godlob akan dibahas seperti di bawah ini:
[74 Alam semesta dan isinya adalah keabadian yang abadi karena bergerak hanya karena digerakkan. Bukan bergerak sendiri. Aku adalah salah satu penghuni alam semesta ini. Aku adalah benda mati. Mana mungkin benda mati bisa merasakan penderitaan dan kebahagiaan? (Halaman 38)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa alam semesta selalu sujud kepada Allah, sehingga mencintai lingkungan alam akan mendorong manusia untuk juga selalu tunduk kepada Allah. Salah satu ajaran nilai-nilai tasawuf yaitu mahabbah (cinta), yaitu mahabbah kepada Allah dan kepada ciptaannya dalam rangka mewujudkan mahabbah kepada Allah diantara ciptaan alam atau lingkungan hidup. Selain manusia patuh pada Allah, manusia juga harus menjaga dan merawat lingkungan sebagai perwujudan manusia patuh dan mencintai Allah. Dalam kutipan kalimat tersebut, menjelaskan bahwa aku adalah bagian dari alam semesta beserta isinya. Tokoh aku tidak pernah bisa lepas dari alam semesta. Hal ini menjelaskan bahwa, manusia tidak akan bisa lepas dari alam semesta.
[75 Kembang-kembang di taman bunga yang indah harum semerbak itu pun jauh-jauh sudah menyambut bersama-sama dengan senyum mesra kepada perempuan bunting yang berjalan gontai seolah-olah beban di dalam perutnya lebih berat dari keseluruhan tubuhnya hingga orang yang melihatnya terkesan bahwa ia lebih tampak menggelinding daripada berjalan dengan kedua belah kakinya, yang tentunya merupakan pemandangan yang jenaka. (Halaman 70)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa alam semesta selalu sujud kepada Allah, sehingga mencintai lingkungan alam akan mendorong manusia untuk juga selalu tunduk kepada Allah. Salah satu ajaran nilai-nilai tasawuf yaitu mahabbah (cinta), yaitu mahabbah kepada Allah dan kepada ciptaannya dalam rangka mewujudkan mahabbah kepada Allah diantara ciptaan alam atau lingkungan hidup. Selain manusia patuh pada Allah, manusia juga harus menjaga dan merawat lingkungan sebagai perwujudan manusia patuh dan mencintai Allah. Dalam kutipan kalimat tersebut, menjelaskan bahwa aku adalah bagian dari alam semesta beserta isinya. Dalam kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa adanya hubunga interaksi yang terjalain antara tokoh perempuan bunting dengan kembang-kembang. Hal ini menjelaskan bahwa, adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya.
[76 Dan kembang-kembang di taman bunga yang menyambut perempuan bunting dengan senyum mesranya itu pun tentulah di hatinya terselip perasaan geli juga. (Halaman 70-71)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa alam semesta selalu sujud kepada Allah, sehingga mencintai lingkungan alam akan mendorong manusia untuk juga selalu tunduk kepada Allah. Salah satu ajaran nilai-nilai tasawuf yaitu mahabbah (cinta), yaitu mahabbah kepada Allah dan kepada ciptaannya dalam rangka mewujudkan mahabbah kepada Allah diantara ciptaan alam atau lingkungan hidup. Selain manusia patuh pada Allah, manusia juga harus menjaga dan merawat lingkungan sebagai perwujudan manusia patuh dan mencintai Allah. Dalam kutipan kalimat tersebut, menjelaskan bahwa aku adalah bagian dari alam semesta beserta isinya. Dalam kutipan kalimat tersebut secara tidak langsung kita bisa tahu bahwa ternyata kembang-kembang juga merasa nyaman dengan kehadiran seorang manusia, yakni perempuan bunting itu. Hal ini menjelaskan bahwa, selama manusia bisa bersikap baik, lingkunganpun bisa bersikap lebih baik kepada manusia.
[77 Taman bunga itu indah harus semerbak. Banyak orang beristirahat di sana. Orang-orang tua, laki-laki dan perempuan, anak-anak muda yang berpasangan dan sendirian, bocah-bocah cilik yang bermain kejar-kejaran atau yang tenang duduk-duduk di bangku. (Halaman 71)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa alam semesta selalu sujud kepada Allah, sehingga mencintai lingkungan alam akan mendorong manusia untuk juga selalu tunduk kepada Allah. Salah satu ajaran nilai-nilai tasawuf yaitu mahabbah (cinta), yaitu mahabbah kepada Allah dan kepada ciptaannya dalam rangka mewujudkan mahabbah kepada Allah diantara ciptaan alam atau lingkungan hidup. Selain manusia patuh pada Allah, manusia juga harus menjaga dan merawat lingkungan sebagai perwujudan manusia patuh dan mencintai Allah. Dalam kutipan kalimat tersebut, menjelaskan bahwa aku adalah bagian dari alam semesta beserta isinya. Dalam kutipan kalimat diatas menjelaskan adanya perasaan manusia yang seringkali merasa nyaman berada di lingkungannya yang indah. Hal ini dimunculkan dengan kutipan Banyak orang beristirahat di sana. Orang-orang tua, laki-laki dan perempuan, anak-anak muda yang berpasangan dan sendirian, bocah-bocah cilik yang bermain kejar-kejaran. Manusia membutuhkan lingkungan yang indah dan nyaman.
[78 Ia makan kembang-kembang itu. Sebagai orang gelandangan ia paling sengsara. Ia kalah rebutan sisa-sisa makanan di tong-tong sampah, sebab pengemis-pengemis lain lebih cekatan. Ia tak pernah mendapatkan apa-apa dalam bak sampah. (Halaman 71)]
Kutipan kalimat tersebut menjelaskan bahwa alam semesta selalu sujud kepada Allah, sehingga mencintai lingkungan alam akan mendorong manusia untuk juga selalu tunduk kepada Allah. Salah satu ajaran nilai-nilai tasawuf yaitu mahabbah (cinta), yaitu mahabbah kepada Allah dan kepada ciptaannya dalam rangka mewujudkan mahabbah kepada Allah diantara ciptaan alam atau lingkungan hidup. Selain manusia patuh pada Allah, manusia juga harus menjaga dan merawat lingkungan sebagai perwujudan manusia patuh dan mencintai Allah. Dalam kutipan kalimat tersebut dijelaskan bahwa manusia yang tidak mampu untuk melakukan apa-apa lagi karena manusia yang lain telah menolaknya. Tapi dengan ikhlas, kembang yang direndahkan oleh manusia ternyata bisa memberikan jiwa raganya untuk dimakan perempuan. Hal ini menjelaskan bahwa kembang sebagai lingkungan manusia dengan ikhlas memberi apa yang manusia inginkan. Manusia harus selalu mencintai dan menghargai lingkungan.
Penggunaan nilai-nilai sufistik berdasarkan aspek manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan dalam cerpen Godlob karya Danarto banyak ditemukan, sehingga baik untuk dijadikan bahan ajar, selain itu siswa akan lebih mudah memahami feminisme. Feminisme merupakan salah satu kajian dalam sastra dan dapat diajarkan di SMA kelas XI pada KI dan KD mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XI SMA yaitu pada point ketiga mengenai KI tentang memahami, menerapkan, dan menganalisa pengetahuan faktual, konseptual, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
Kemudian, pada point KD tentang memahami struktur dan kaidah teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan ulasan/reviu film/drama baik melalui lisan maupun tulisan. Kemudian, membandingkan teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan ulasan/reviu film/drama baik melalui lisan maupun tulisan. Menganalisis teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan ulasan/reviu film/drama baik melalui lisan maupun tulisan. Mengevaluasi teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan ulasan/reviu film/drama baik melalui lisan maupun tulisan
Bila dilihat dari data yang dianalisis, maka penggunaan niali-nilai sufistik dapat didadikan bahan ajar yang baik dan benar bagi siswa SMA. Pembelajaran nilai-nilai sufistik dapat diimplikasikan dalam pembelajaran bahsa dan sastra Indonesia sesuai dengan Kurikulum 2013.
Hasil analisis ini juga dapat dijadikan bahan pembelajaran dalam bidang sastra yaitu tentang unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik, terlebih pada unsur ekstrinsik mengenai nilai-nilai keagamaan dan sufistik merupakan puncak dari nilai keagamaan atau religius.
SIMPULAN
Berdasarkan latar belakang masalah, landasan teori, batasan masalah, dan analisis data penelitian, penulis dapat merumuskan simpulan sebagai berikut:
Dalam kumpulan cerpen Godlob karya Danarto yang mengandung nilai-nilai sufistik terdapat 95 kutipan yang meliputi tiga aspek yang dianalisis, yakni aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal), dan aspek manusia dengan lingkungan.
Kumpulan cerpen Godlob karya Danarto banyak mengandung nilai-nilai sufistik dengan persentase yang paling dominan yaitu 49% terdapat pada aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal) yang menggambarkan bagaimana tokoh mencintai, menghargai, dan peduli terhadap tokoh lain (manusia lain), terdapat 27% pada aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal) yang menggambarkan bagaimana keimanan dan kecintaan tokoh terhadap Tuhan yang mengandung nilai-nilai sufistik, dan terdapat 23% pada aspek manusia dengan lingkungan yang menggambarkan tokoh untuk peduli, cinta, dan menghargai lingkungan.
Kumpulan cerpen Godlob karya Danarto yang mengandung nilai-nilai sufistik layak dijadikan sebagai bahan ajar dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yakni pada kurikulum 2013 kelas XI SMA yang tercantum pada KD 3.1 memahami struktur dan kaidah teks cerita pendek. Hal tersebut telah diuji oleh tringulasi.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan yang dikemukakan, penulis ingin menyampaikan saran sebagai bahan masukan yang berguna bagi pembaca, seperti yang dijelaskan di bawah ini:
Cerpen Godlob karya Danarto dapat dijadikan bahan pembelajaran sastra Indonesia bagi guru yang diberikan kepada siswa, karena mengandung nilai-nilai sufistik yang merupakan perwujudan lebih dalam dari nilai-nilai religius yang dapat meningkatkan kecintaan siswa terhadap Tuhan.
Melalui cerpen Godlob karya Danarto, diharapkan dapat menumbuhkan sikap agamis, sikap kecintaan, sikap menghargai, dan sikap peduli pada diri siswa terhadap Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Pembelajaran sastra diarahkan kepada apresiatif agar siswa tidak hanya membaca karya sastra saja tetapi dapat memahami dan mencintai karya sastra, serta mendapatkan manfaatnya.
Dalam pembelajaran sastra, guru mengajarkan siswa mengenai cerpen dengan tidak hanya membaca sinopsisnya saja, tetapi membaca keseluruhan isi cerpen, sehingga siswa dapat memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen tersebut, khususnya nilai-nilai sufistik yang merupakan perwujudan lebih dalam dari nilai religius yang terdiri dari aspek ketuhanan dan kemanusiaan (dimensi transedensial atau vertikal), aspek manusia dengan manusia (aspek sosial atau horizontal), dan aspek manusia dengan lingkungan, serta dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Marzani. 2007. Sufi Perkotaan. Jakarta: Departemen Agama RI Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.
Bagir, Haidar. 2000. Tasawuf Positif. Malang: Grasindo.
Danarto. 2004. GODLOB Kumpulan Cerpen. Yogyakarta: Matahari.
Danarto. 1989. Wawancara dengan H. Danarto, Sastra Piawai yang Bermatra Keimanan dalam Majalah Horison.
Fatoni, Ahmad. 2009. Sentuhan Sufisme dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Harian Umum Pelita.
Hadi, Abdul W.M. 2004. Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas. Yogyakarta: Mahatari.
Jurnal Kebudayaan Dan Peradaban Ulumul Quran. 1998. Jakara: Cipta Prima Budaya.
Khazim, Musa. 2002. Belajar Menjadi Sufi. Jakarta: Lentera.
Khuzaemah, Emah. 2009. Sastra dan Perkembangan Kecerdasan Spiritual Siswa. dalam Jurnal Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Pendidikan.
Kosasih, E. 2012. Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: YramaWidya.
Lubis, Mochtar. 1996. Sastra dan Tekniknya, Mochtar Lubis. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mahayana, S Maman. 2006. Bermain dengan Cerpen: Apresiasi dan Kritik Cerpen Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Maryati. 2008. Bahasa dana Sastra Indonesia 3 untuk SMP/MTs kelas IX. Jakarta: Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Moleong. Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rosda.
Nasr, Sayyed Husein. 2009. Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Pendidikan. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Pranoto, Naning. 2007. Creative Writing. Jakarta: Raya Kultura.
Rahman, D. Jamal. 2006. Danarto, Godlob dan Saya dalam Majalah Sastra Horison.
Biodata Penulis
Anna Devara. Perempuan kelahiran Sukabumi, 28 September 1992. Putri kedua dari tiga bersaudara. Buah hati dari pasangan Ibu Tuti Sri Sulastri dan Bapak Saleh Iskandar. Bertempat tinggal di Hegarsari RT 04/12 Desa Sekarwangi Kecamatan Cibadak-Sukabumi. Perempuan yang hobi membaca dan menulis ini menamatkan Sekolah Dasar pada tahun 2004 di SDN 08 Cibadak. Kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 02 Cibadak dan lulus pada tahun 2007. Penulis setelah itu melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas di SMAN 1 Cibadak-Sukabumi dan lulus pada tahun 2010. Setelah lulus SMA pada tahun 2010, sesuai dengan cita-cita dari penulis menjadi seorang pendidik maka dari itu penulis melanjutkan pendidikannya dengan menggambil jurusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor dan lulus pada tahun 2014. Jangan menunggu besok untuk berubah, lakukanlah yang terbaik hari ini, karena apa yang kita kerjakan sekarang adalah buah dari masa depan.
Rabu, 05 Februari 2020
Contoh Penulisan Karya Ilmiah (Andev)
“Sikap Kesufian Dan Latar Belakang Danarto Dalam Cerpen Godlob”
Abstrak: Dalam penelitian telaah sastra, salah satu penelitiannya yaitu analisis unsur ekstrinsik (sikap kesufian dan latar belakang pengarang) dalam sebuah cerpen. Cerpen Godlob, karya Danarto yang dianalisis dalam penelitian ini dipilih karena sikap kesufiannya yang sangat mempengaruhi karya-karyanya yang begitu luar biasa. Ada enam hal mengenai sikap kesufian Danarto yang tergambar jelas dalam karyanya yang begitu monumental ini. Keenam hal tersebut meliputi: 1) Manusia Menempuh Lima Perjalanan Alam 2) Pergulatan Menjadi Diri Sendiri Membutuhkan Sunyi 3) Permainan Lambang 4) Pandangan Hubungan Antara Orang Tua Dan Anak 5) Hidup Didalam Sufisme Dan Mati Dalam Sufisme 6) Mengungkapkan Seni Yang Sufi.
Kata kunci: Unsur Ekstrinsik, Latar Belakang dan Sikap Kesufian, Latar Belakang Pengarang, Cerpen.
Pendahuluan
Banyak pendekatan yang dapat dilakukan dalam menganalisis karya sastra. Salah satunya yaitu menganalisis karya sastra dalam unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik yang dikaji dalam sebuah tulisan ini yakni sikap kesufian dan latar belakang pengarang, yakni Danarto yang dikaitkan dengan karya sastranya yang begitu fenomenal dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Godlob.
Disebut fenomenal karena karya ini tidak hanya menceritakan tokoh, penokohan, dan unsur intrinsik lainnya, tapi juga menjelajahi bagaimana pandangan manusia untuk menjalani dan memaknai kehidupannya ini. Sejak lahirnya Cerpen Godlob, banyak kalangan yang meneliti dan menelaah karya tersebut karena banyak aspek filsafat yang dipaparkan dengan begitu apik dan luar biasa. Tidak mengherankan dalam teori dan penelitian sastra diyakini sikap kesufian dan latar belakang pengarang sangat mempengaruhi proses serta hasil dari penciptaan suatu karyanya.
Latar Belakang dan Sikap Kesufian
Pengaruh kesusatraan Persia cukup dominan di kalangan sufi kita. Dalam khazanah kesusastraan sufi Nusantara, sajak-sajak bernuansa mistik sempat berkembang di tanah Jawa dan Sumatera dengan melahirkan beberapa pengikut yang fanatik. Ciri-ciri kesusastraan sufi terlihat menonjol dalam pengungkapan daya khayal yang terasa liar. Di tangan para penyair sufi, daya khayal bahkan berkembang pesat hingga melahirkan karya-karya imajinatif dengan bahasa pengucapan yang simbolik dan metaforik,
Kaum sufi tak jarang memberikan kritik terhadap formalisme beragama. Penulis-penulis sufi terkadang bebas menyampaikan kritik atas agama formal karena mereka menekankan pengalaman langsung berjumpa dengan Tuhan. Tapi manusia hanya dapat sekadar mengetahui tanda-tanda penampakan Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri. Tetapi juga, manusia dapat mendekatkan diri padaNya, bahkan bersekutu denganNya. Untuk mengetahui bahwa Tuhan dekat dan menyatu dalam dirinya, sang sufi meniscayakan untuk melintasi puisi Kitab Suci sekaligus melampaui tirai kata dan berbagai tahapan atau jenjang yang bukan hanya melelahkan, tapi juga penuh risiko. Pengalaman mistis tertinggi akan menghasilkan situasi kejiwaan yang tembus pandang melintasi tirai makna.
Dengan cara inilah, para sufi menjalankan titahnya sebagai guru bagi umat, yang harus merancang bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat kedalaman dan keintiman personal. Penulis sufistik memahami kesempurnaan manusia pada wushûl, bukan pemahaman yakni meyakini keharusan menjalani serangkaian tangga perjalanan untuk bisa sampai pada tujuan inti dari pencarian yang hakiki. Bentuk-bentuk pencarian penulis sufistik telah saya bicarakan di muka, merupakan pengalaman mendaki tingkatan mikraj ruhani yang berputar-putar dalam lingkaran waktu primordial untuk menemukan apa yang dinamakan “sumber mata air kecemerlangan”.
Pengarang sufi pada dasarnya senantiasa berusaha melampaui ruang dan waktu dan nama-nama untuk dapat menyatu dengan Tuhan. Kata dan nama tak cukup untuk berkata ketika berhadapan sesuatu yang tak terkatakan dan tak selesai. Kata terbukti tak bisa jadi alat komunikasi, karena ada komunikasi tanpa kata, tanpa bunyi, yakni komunikasi dalam diam.
Dari semua bentuk seni yang diciptakan dalam peradaban Islam yang besar, seni Persia tentu saja paling berbeda dan luas, yang memiliki etos khasnya sendiri, pandangan dunia dan makna simbolis khusus, seni yang secara tak terelakkan berhubungan dengan sufisme, dan sesungguhnya seluruh pandangan-dunia teoretislah yang memungkinkan seni ini benar-benar dimunculkan dari ajaran-ajaran filosofis dan metafisik Sufi.
Tasawuf merupakan suatu kekuatan. Hal itu karena jiwa kaum sufi tiada harganya di jalan Allah. Mereka merelakan jiwa mereka untuk menegakan kalimat Tuhan. Mereka membebani diri dengan kepayahan untuk menyebarkan agama (khususnya) Islam di wilayah-wilayah Afrika dan negeri-negeri yang belum di taklukan oleh pasukan Islam. Pengaruh mereka cukup besar dalam menyebarkan Islam di negeri Melayu (Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina). Juga negeri-negeri lainnya di dunia.
Walaupun cerpen Danarto berbicara masalah sosial, agaknya tradisi yang khas yang tak mungkin bisa ditinggalkannya, takni suasana absurditas. Bukanlah Danarto kalau tidak memasukkan suasana absurd dalam cerpen-cerpennya.
Sebagai seorang Jawa Isalam yang taat dan dibesarkan di lingkungan budaya Jawa Tengah (Sragen, Solo, dan Yogya). Danarto terpelanting pada dunia tassawuf, dunia kaum sufi yang bersiteguh pada doktrin wahdat al-wujud (ketunggalan wujud atau ketunggalan kehadiran) dimana semua pernyataan kehidupan menemukan ke-Esa-annya kepada Sang pencipta (Umar Kayam, 1987). Hal ini sesuai dengan pernyataannya bahwa kita ini adalah milik Sang pencipta secara absolut dan ditentukan (Danarto, 1983). Oleh sebab itu, tidak terlalu mengherankan jika hampir semua cerpennya selalu dinafasi doktrin sufi yang begitu akrab bergelayut dalam perjalanan hidupnya.
Latar Belakang Danarto
Danarto (lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940; umur 71 tahun) adalah penulis dan sastrawan Indonesia. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah kumpulan cerpen, Godlob. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma'rifat, memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982. Tahun 2009 Danarto menerima Ahmad Bakrie Award untuk bidang kesusasteraan.
Ia pernah bergabung dengan Teater Sardono, yang melawat ke Eropa Barat dan Asia, 1974. Di samping berpameran Kanvas Kosong (1973) ia juga berpameran puisi konkret (1978). Pada 1 Januari 1986, Danarto mengakhiri masa bujangannya dengan menikahi Siti Zainab Luxfiati, yang biasa dipanggil Dunuk. Sayangnya, rumah tangga Danarto tidak berlangsung lama. Danarto dan Zainab bercerai setelah lebih kurang 15 tahun berumah tangga.
Perjalanan hidup Danarto kaya dengan pengalaman baik di dalam negeri dan di luar negeri. Selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai pelukis, yang memang ditekuni sejak masa muda. Sebagai pelukis ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota. Sebagai budayawan dan penyair ia pernah mengikuti program menulis di luar negeri diantaranya di Kyoto, Jepang.
Karya yang dihasilkan:
Godlob, kumpulan cerpen, 1975.
Adam Ma'rifat, kumpulan cerpen, 1982.
Orang Jawa Naik Haji.
Catatan perjalanan ibadah haji, 1983.
Setangkai Melati di Sayab Jibril.
Doktrin sufi sebagai salah satu corak agamawi berhasil menggiring Danarto untuk menghasilkan karya sastra yang transenden. Kepekaan akan kesadaran religius yang diproses melalui tatapan mata batinnya yang sensitif dalam mencuatkan obsesi kegelisahannya.
Sekilas Tentang Cerpen Godlob
Dalam buku kumpulan cerpennya, “Godlob” terdapat sembilan cerpen yang sangat menarik. Kesembilan cerpen tersebut memiliki cerita yang sangat fenomenal, tragis, dan mengandung unsur magis bahkan unsur religius juga tertera dalam kesembilan cerpen tersebut. Unsur magis yang sangat kental terdapat pada cerpennya yang berjudul“Amargedon” dimana dalam cerpen tersebut terdapat tiga tokoh yang paling berperan yaitu Ibu, anak dan bekakra-an. Bekakraan yang tak lain adalah sesosok yang berkepala tetapi tak memiliki badan, dengan alat-alat tubuhnya didalam yang masih utuh : kerongkongan, paru- paru, jantung, limpa, urat darah, urat syaraf, dan usus-ususnya. Selain itu, semua karya cerpennya tidak dapat ditebak, seperti cerpen “Kecubung Penghasilan”.
Jalan cerita yang berliku-liku dan rumit membuat orang merasa takjub dengan keindahan karya sastranya ini. Selain itu cerpen “Godlob” yang menjadi judul dalam buku ini juga sangat mengesankan. Dalam cerpen ini, Danarto memberikan unsur-unsur yang berbeda dari karya yang biasanya. Dalam cerpen ini terdapat unsur kepahlawanan dan pembunuhan.
Sebenarnya, arti dari judul “Godlob” sendiri masih mengundang pertanyaan. Dari semua cerpen yang ada di buku itu, sebagian besar mengandung cerita-cerita tentang pembunuhan, pemberontakan, magis, mistis dan realigi. Cerita yang ditampilkansangat menakjubkan. Bahasa yang digunakan sangat menunjukkan bahwa Danarto adalah seniman sejati.
Landasan Teoritis
Sufisme yaitu jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam buku Warisan Sufi yang ditulis oleh Seyyed Hossein Nasr (2002: 41) mengemukakan bahwa secara bertahap, meskipun agak terlambat, dunia Barat mulai menyadari bahwa seni Islam bukanlah sebuah koleksi aneh object de art, atau relik-relik pelik yang diciptakan oleh sebagian orang yang menyebut diri mereka Muslim, melainkan bahwa ia pada dasarnya adalah buah spiritual dari pewahyuan Islam.
Sufisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan). Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan paham tasawuf sebagai arah asketis-mistis dalam ajaran Islam (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P.Van De Woestijne).
Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu (1) Perasaan kebatinan yang ada pada sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam,(2) Adat atau kebiasaan orang Islam baru yang bersumber dari agama-agama non Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya, paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung unsur-unsur ajaran Islam. Dengan kata lain, dalam agama Islam tidak ada paham Tasawuf walaupun tidak sedikit jumlah orang Islam yang menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980)
Pada tataran yang lebih eksternal, kemunculan dan adaptasi bentuk-bentuk seni tertentu oleh kaum Sufi memungkinkan eksistensi seni terus berlanjut, terutama berkaitan dengan seni musik. Islam sendiri benar-benar menganggap aspek Ketuhanan sebagai keindahan, dan gambaran ini dijadikan tumpuan istimewa dalam Tasawuf, yang secara alami berasal dan mengandung inti (haqaiq) ajaran Islam. Maka bukanlah suatu kebetulan apabila karya-karya yang ditulis para Sufi, baik puisi maupun prosa, merupakan karya agung dalam kualitas dan keindahan (Abdul Hadi, 2001: 10).
Abstrak: Dalam penelitian telaah sastra, salah satu penelitiannya yaitu analisis unsur ekstrinsik (sikap kesufian dan latar belakang pengarang) dalam sebuah cerpen. Cerpen Godlob, karya Danarto yang dianalisis dalam penelitian ini dipilih karena sikap kesufiannya yang sangat mempengaruhi karya-karyanya yang begitu luar biasa. Ada enam hal mengenai sikap kesufian Danarto yang tergambar jelas dalam karyanya yang begitu monumental ini. Keenam hal tersebut meliputi: 1) Manusia Menempuh Lima Perjalanan Alam 2) Pergulatan Menjadi Diri Sendiri Membutuhkan Sunyi 3) Permainan Lambang 4) Pandangan Hubungan Antara Orang Tua Dan Anak 5) Hidup Didalam Sufisme Dan Mati Dalam Sufisme 6) Mengungkapkan Seni Yang Sufi.
Kata kunci: Unsur Ekstrinsik, Latar Belakang dan Sikap Kesufian, Latar Belakang Pengarang, Cerpen.
Pendahuluan
Banyak pendekatan yang dapat dilakukan dalam menganalisis karya sastra. Salah satunya yaitu menganalisis karya sastra dalam unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik yang dikaji dalam sebuah tulisan ini yakni sikap kesufian dan latar belakang pengarang, yakni Danarto yang dikaitkan dengan karya sastranya yang begitu fenomenal dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Godlob.
Disebut fenomenal karena karya ini tidak hanya menceritakan tokoh, penokohan, dan unsur intrinsik lainnya, tapi juga menjelajahi bagaimana pandangan manusia untuk menjalani dan memaknai kehidupannya ini. Sejak lahirnya Cerpen Godlob, banyak kalangan yang meneliti dan menelaah karya tersebut karena banyak aspek filsafat yang dipaparkan dengan begitu apik dan luar biasa. Tidak mengherankan dalam teori dan penelitian sastra diyakini sikap kesufian dan latar belakang pengarang sangat mempengaruhi proses serta hasil dari penciptaan suatu karyanya.
Latar Belakang dan Sikap Kesufian
Pengaruh kesusatraan Persia cukup dominan di kalangan sufi kita. Dalam khazanah kesusastraan sufi Nusantara, sajak-sajak bernuansa mistik sempat berkembang di tanah Jawa dan Sumatera dengan melahirkan beberapa pengikut yang fanatik. Ciri-ciri kesusastraan sufi terlihat menonjol dalam pengungkapan daya khayal yang terasa liar. Di tangan para penyair sufi, daya khayal bahkan berkembang pesat hingga melahirkan karya-karya imajinatif dengan bahasa pengucapan yang simbolik dan metaforik,
Kaum sufi tak jarang memberikan kritik terhadap formalisme beragama. Penulis-penulis sufi terkadang bebas menyampaikan kritik atas agama formal karena mereka menekankan pengalaman langsung berjumpa dengan Tuhan. Tapi manusia hanya dapat sekadar mengetahui tanda-tanda penampakan Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri. Tetapi juga, manusia dapat mendekatkan diri padaNya, bahkan bersekutu denganNya. Untuk mengetahui bahwa Tuhan dekat dan menyatu dalam dirinya, sang sufi meniscayakan untuk melintasi puisi Kitab Suci sekaligus melampaui tirai kata dan berbagai tahapan atau jenjang yang bukan hanya melelahkan, tapi juga penuh risiko. Pengalaman mistis tertinggi akan menghasilkan situasi kejiwaan yang tembus pandang melintasi tirai makna.
Dengan cara inilah, para sufi menjalankan titahnya sebagai guru bagi umat, yang harus merancang bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat kedalaman dan keintiman personal. Penulis sufistik memahami kesempurnaan manusia pada wushûl, bukan pemahaman yakni meyakini keharusan menjalani serangkaian tangga perjalanan untuk bisa sampai pada tujuan inti dari pencarian yang hakiki. Bentuk-bentuk pencarian penulis sufistik telah saya bicarakan di muka, merupakan pengalaman mendaki tingkatan mikraj ruhani yang berputar-putar dalam lingkaran waktu primordial untuk menemukan apa yang dinamakan “sumber mata air kecemerlangan”.
Pengarang sufi pada dasarnya senantiasa berusaha melampaui ruang dan waktu dan nama-nama untuk dapat menyatu dengan Tuhan. Kata dan nama tak cukup untuk berkata ketika berhadapan sesuatu yang tak terkatakan dan tak selesai. Kata terbukti tak bisa jadi alat komunikasi, karena ada komunikasi tanpa kata, tanpa bunyi, yakni komunikasi dalam diam.
Dari semua bentuk seni yang diciptakan dalam peradaban Islam yang besar, seni Persia tentu saja paling berbeda dan luas, yang memiliki etos khasnya sendiri, pandangan dunia dan makna simbolis khusus, seni yang secara tak terelakkan berhubungan dengan sufisme, dan sesungguhnya seluruh pandangan-dunia teoretislah yang memungkinkan seni ini benar-benar dimunculkan dari ajaran-ajaran filosofis dan metafisik Sufi.
Tasawuf merupakan suatu kekuatan. Hal itu karena jiwa kaum sufi tiada harganya di jalan Allah. Mereka merelakan jiwa mereka untuk menegakan kalimat Tuhan. Mereka membebani diri dengan kepayahan untuk menyebarkan agama (khususnya) Islam di wilayah-wilayah Afrika dan negeri-negeri yang belum di taklukan oleh pasukan Islam. Pengaruh mereka cukup besar dalam menyebarkan Islam di negeri Melayu (Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina). Juga negeri-negeri lainnya di dunia.
Walaupun cerpen Danarto berbicara masalah sosial, agaknya tradisi yang khas yang tak mungkin bisa ditinggalkannya, takni suasana absurditas. Bukanlah Danarto kalau tidak memasukkan suasana absurd dalam cerpen-cerpennya.
Sebagai seorang Jawa Isalam yang taat dan dibesarkan di lingkungan budaya Jawa Tengah (Sragen, Solo, dan Yogya). Danarto terpelanting pada dunia tassawuf, dunia kaum sufi yang bersiteguh pada doktrin wahdat al-wujud (ketunggalan wujud atau ketunggalan kehadiran) dimana semua pernyataan kehidupan menemukan ke-Esa-annya kepada Sang pencipta (Umar Kayam, 1987). Hal ini sesuai dengan pernyataannya bahwa kita ini adalah milik Sang pencipta secara absolut dan ditentukan (Danarto, 1983). Oleh sebab itu, tidak terlalu mengherankan jika hampir semua cerpennya selalu dinafasi doktrin sufi yang begitu akrab bergelayut dalam perjalanan hidupnya.
Latar Belakang Danarto
Danarto (lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940; umur 71 tahun) adalah penulis dan sastrawan Indonesia. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah kumpulan cerpen, Godlob. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma'rifat, memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982. Tahun 2009 Danarto menerima Ahmad Bakrie Award untuk bidang kesusasteraan.
Ia pernah bergabung dengan Teater Sardono, yang melawat ke Eropa Barat dan Asia, 1974. Di samping berpameran Kanvas Kosong (1973) ia juga berpameran puisi konkret (1978). Pada 1 Januari 1986, Danarto mengakhiri masa bujangannya dengan menikahi Siti Zainab Luxfiati, yang biasa dipanggil Dunuk. Sayangnya, rumah tangga Danarto tidak berlangsung lama. Danarto dan Zainab bercerai setelah lebih kurang 15 tahun berumah tangga.
Perjalanan hidup Danarto kaya dengan pengalaman baik di dalam negeri dan di luar negeri. Selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai pelukis, yang memang ditekuni sejak masa muda. Sebagai pelukis ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota. Sebagai budayawan dan penyair ia pernah mengikuti program menulis di luar negeri diantaranya di Kyoto, Jepang.
Karya yang dihasilkan:
Godlob, kumpulan cerpen, 1975.
Adam Ma'rifat, kumpulan cerpen, 1982.
Orang Jawa Naik Haji.
Catatan perjalanan ibadah haji, 1983.
Setangkai Melati di Sayab Jibril.
Doktrin sufi sebagai salah satu corak agamawi berhasil menggiring Danarto untuk menghasilkan karya sastra yang transenden. Kepekaan akan kesadaran religius yang diproses melalui tatapan mata batinnya yang sensitif dalam mencuatkan obsesi kegelisahannya.
Sekilas Tentang Cerpen Godlob
Dalam buku kumpulan cerpennya, “Godlob” terdapat sembilan cerpen yang sangat menarik. Kesembilan cerpen tersebut memiliki cerita yang sangat fenomenal, tragis, dan mengandung unsur magis bahkan unsur religius juga tertera dalam kesembilan cerpen tersebut. Unsur magis yang sangat kental terdapat pada cerpennya yang berjudul“Amargedon” dimana dalam cerpen tersebut terdapat tiga tokoh yang paling berperan yaitu Ibu, anak dan bekakra-an. Bekakraan yang tak lain adalah sesosok yang berkepala tetapi tak memiliki badan, dengan alat-alat tubuhnya didalam yang masih utuh : kerongkongan, paru- paru, jantung, limpa, urat darah, urat syaraf, dan usus-ususnya. Selain itu, semua karya cerpennya tidak dapat ditebak, seperti cerpen “Kecubung Penghasilan”.
Jalan cerita yang berliku-liku dan rumit membuat orang merasa takjub dengan keindahan karya sastranya ini. Selain itu cerpen “Godlob” yang menjadi judul dalam buku ini juga sangat mengesankan. Dalam cerpen ini, Danarto memberikan unsur-unsur yang berbeda dari karya yang biasanya. Dalam cerpen ini terdapat unsur kepahlawanan dan pembunuhan.
Sebenarnya, arti dari judul “Godlob” sendiri masih mengundang pertanyaan. Dari semua cerpen yang ada di buku itu, sebagian besar mengandung cerita-cerita tentang pembunuhan, pemberontakan, magis, mistis dan realigi. Cerita yang ditampilkansangat menakjubkan. Bahasa yang digunakan sangat menunjukkan bahwa Danarto adalah seniman sejati.
Landasan Teoritis
Sufisme yaitu jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam buku Warisan Sufi yang ditulis oleh Seyyed Hossein Nasr (2002: 41) mengemukakan bahwa secara bertahap, meskipun agak terlambat, dunia Barat mulai menyadari bahwa seni Islam bukanlah sebuah koleksi aneh object de art, atau relik-relik pelik yang diciptakan oleh sebagian orang yang menyebut diri mereka Muslim, melainkan bahwa ia pada dasarnya adalah buah spiritual dari pewahyuan Islam.
Sufisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan). Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan paham tasawuf sebagai arah asketis-mistis dalam ajaran Islam (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P.Van De Woestijne).
Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu (1) Perasaan kebatinan yang ada pada sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam,(2) Adat atau kebiasaan orang Islam baru yang bersumber dari agama-agama non Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya, paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung unsur-unsur ajaran Islam. Dengan kata lain, dalam agama Islam tidak ada paham Tasawuf walaupun tidak sedikit jumlah orang Islam yang menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980)
Pada tataran yang lebih eksternal, kemunculan dan adaptasi bentuk-bentuk seni tertentu oleh kaum Sufi memungkinkan eksistensi seni terus berlanjut, terutama berkaitan dengan seni musik. Islam sendiri benar-benar menganggap aspek Ketuhanan sebagai keindahan, dan gambaran ini dijadikan tumpuan istimewa dalam Tasawuf, yang secara alami berasal dan mengandung inti (haqaiq) ajaran Islam. Maka bukanlah suatu kebetulan apabila karya-karya yang ditulis para Sufi, baik puisi maupun prosa, merupakan karya agung dalam kualitas dan keindahan (Abdul Hadi, 2001: 10).
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah
: SMA Negeri 1 Cikidang
Mata Pelajaran
: Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester
: X1/Ganjil
Materi Pokok
: Teks Prosedur
Alokasi Waktu
: 6 x 45 Menit (2X pertemuan)
A. Kompetensi Inti
K1
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
K2
Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
K3
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasaingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
K4
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
KOMPETENSI DASAR DAN IPK DARI KI 3
3.2 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.2.1 Mengindentifikasi struktur teks prosedur
3.2.2 Menelaah kebahasaan teks ekplanasi
KOMPETENSI DASAR DAN IPK DARI KI 4
4.2 Memproduksi teks prosedur secara lisan atautulis dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan
Indikator Pencapaian Kompetensi
4.2.1 Menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur
4.2.2 Menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan
C. Tujuan pembelajaran
Melalui kegiatan pembelajaran dengan pendekatann pedagogik genre, saintifik, dan CLIL dengan model saintifik peserta didik dapat mengindentifikasi struktur teks prosedur, menelaah kebahasaan teks prosedur, menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur, dan menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan dengan rasa ingin tahu, kerja keras, tanggung jawab, bersikap bersahabat/ komunikatif selama proses pembelajaran.
D. Analisis STEM
Saint
Pemahaman isi Teks prosedur
Pemahaman tentang struktur teks Prosedur Kompleks
Pengetahuan kaidah kebahasaan Teks Prosedur Kompleks
Engineering
Menentukan Struktur Teks Prosedur
Merancang Teks Prosedur berdasarkan isi, sistematika, dan unsur kebahasaannya
Teknologi
Internet untuk mencari referensi teks prosedur
Mencari di Youtube contoh teks prosedur kompleks yang menarik
Komputer untuk menyusun teks laporan dengan aplikasi Word dan Power Point
Matematika
Menyesuaikan Teks Prosedur yang disusun dengan estimasi biaya bila dipraktekan.
Peyusunan langkah-langkah atau tahapan dengan baik
E. Materi
Skematik Prosedur
Pernyataan Umum/tujuan
Tahapan-tahapan
Penegasan ulang
F. Pendekatan, Metode dan Model Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model Pembelajaran : Active Learning
3. Metode : diskusi kelompok, tanya jawab, penugasan
G. Media/Alat, dan Bahan Sumber Belajar
1. Media/Alat : Lembar Kerja, Papan Tulis/White Board, LCD
2. Sumber Belajar :
a. Suherli, dkk. 2017. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas XI Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
b. Suherli, dkk. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas XI Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
c. Kosasih, E. 2014. Jenis-Jenis Teks dalam Mata Pelajaran Bahasa Indoneisa SMA/MA/SMK. Bandung: Yrama Widya
H. Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1 (@2 ×45 menit)
Tahap
Langkah-langkah Pembelajaran
Nilai Karakter (PPK), Literasi, 4C, HOTS
Alokasi Waktu
Kegiatan Awal
1. Peserta didik merespon salam tanda mensyukuri anugerah Tuhan dan saling mendoakan.
2. Peserta didik merespon pertanyaan dari guru berhubungan dengan pembelajaran sebelumnya(tanya jawab).
3. Peserta didik menyimak kompetensi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari
4. Peserta didik mendiskusikan informasi denganproaktif tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
5. Peserta didik menerima informasi tentang hal-halyang akan dipelajari, metode dan media, langkahpembelajaran dan penilaian pembelajaran
Religius
Rasa ingin tahu
10 menit
Kegiatan Inti
Mengamati
1. Peserta didik mengamati contoh teks prosedur yang dibawa.
2. Peserta didik mengidentifikasi struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
Menanya
3. Peserta didik bertanya jawab tentang struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
4. Peserta didik memberi komentar terhadap struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
Menalar
1. Peserta didik duduk secara berkelompok (heterogen, 3-4 orang).
2. Peserta didik secara berdiskusi mengidentifikasi struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
Mencoba
1. Peserta didik mencoba menentukan dan menganalisis struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
5. Peserta didik mencoba menuliskan struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
Mengomunikasikan/menyajikan
1. Peserta didik secara berkelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
2. Peserta didik yang lain memberikan komentar dan masukan atas penampilan temannya.
Literasi
Rasa ingin tahu
Kerja sama (Collaborative)
Berpikir kritis (Critical thinking)
Kreativitas (Creativity)
Komunikatif (Communicative)
70 menit
Kegiatan Penutup
Kegiatan guru bersama peserta didik
1. Membuat rangkuman/ simpulan pelajaran.
2. Melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
3. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; dan
Kegiatan guru
1. Melakukan penilaian.
2. Memberikan tugas kepada peserta didik untuk banyak membaca teks prosedur lainnya.
3. Menyampaikan rencana pembelajaranyang akan dilakukan selanjutnya.
4. Menutup kegiatan belajar mengajar.
Kreativitas (Creativity)
HOTS
10 menit
Pertemuan 2 (@4 ×45 menit)
Tahap
Langkah-langkah Pembelajaran
Nilai Karakter (PPK), Literasi, 4C, HOTS
Alokasi Waktu
Kegiatan Awal
1. Peserta didik merespon salam tanda mensyukuri anugerah Tuhan dan saling mendoakan.
2. Peserta didik merespon pertanyaan dari guru berhubungan dengan pembelajaran sebelumnya(tanya jawab).
3. Peserta didik menyimak kompetensi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari
4. Peserta didik mendiskusikan informasi denganproaktif tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
5. Peserta didik menerima informasi tentang hal-halyang akan dipelajari, metode dan media, langkahpembelajaran dan penilaian pembelajaran
Religius
Rasa ingin tahu
15 menit
Kegiatan Inti
Mengamati
1. Peserta didik mengamati berbagai jenis teks prosedur
2. Peserta didik mengidentifikasi pola pengembangan dalam berbagai jenis teks yang disajikan.
Menanya
1. Peserta didik bertanya jawab tentang jenis teks prosedur
2. Peserta didik bertanya jawab dan berkomentar tentang pola pengembangan teks prosedur
Menalar
1. Peserta didik menentukan tema teks prosedur yang akan ditulisnya
2. Peserta didik menentukan satu pola pengembangan teks prosedur dari berbagai teks yang sudah diidentifikasi
3. Peserta didik merancang langkah-langkah teks prosedur dengan mempertimbangkan struktur dan kaidah kebahasaan.
Mencoba
1. Peserta didik mencoba menuliskan teks prosedur secara utuh dengan mempertimbangkan struktur dan kaidah kebahasaan.
Mengomunikasikan/menyajikan
1. Peserta didik mempresentasikan hasil karyanya
2. Peserta didik yang lain mengomentari dan memberi masukan.
Literasi
Rasa ingin tahu
Kerja sama (Collaborative)
Berpikir kritis (Critical thinking)
Kreativitas (Creativity)
Komunikatif (Communicative)
150 menit
Kegiatan Penutup
Kegiatan guru bersama peserta didik
1. Membuat rangkuman/ simpulan pelajaran.
2. Melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
3. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; dan
Kegiatan guru
1. Melakukan penilaian.
2. Memberikan tugas kepada peserta didik untuk Menyampaikan rencana pembelajaran yang akan dilakukan selanjutnya.
3. Menutup kegiatan belajar mengajar.
Kreativitas (Creativity)
HOTS
15 menit
I. Penilaian
1. Teknik Penilaian:
a. Penilaian Sikap :Observasi/pengamatan
b. Penilaian Pengetahuan : Tes Tertulis
c. Penilaian Keterampilan : Unjuk Kerja/ Praktik/ Portofolio
2. Bentuk Penilaian:
a. Observasi : Lembar pengamatan aktivitas peserta didik
b. Tes tertulis : Uraian dan lembar kerja
c. Unjuk kerja : Lembar penilaian presentasi
d. Portofolio : Pedoman penilaian portofolio
3. Remedial
a. Pembelajaran remedial dilakukan bagi Peserta didik yang capaian KD nya belum tuntas
b. Tahapan pembelajaran remedial dilaksanakan melalui remidial teaching (klasikal), atau tutor sebaya, atau tugas dan diakhiri dengan tes.
c. Tes remedial, dilakukan sebanyak 3 kali dan apabila setelah 3 kali tes remedial belum mencapai ketuntasan, maka remedial dilakukan dalam bentuk tugas tanpa tes tertulis kembali.
4. Pengayaan
Bagi Peserta didik yang sudah mencapai nilai ketuntasan diberikan pembelajaran pengayaan sebagai berikut:
a. Siswa yang mencapai nilai diberikan materi masih dalam cakupan KD dengan pendalaman sebagai pengetahuan tambahan
b. Siswa yang mencapai nilai diberikan materi melebihi cakupan KD dengan pendalaman sebagai pengetahuan tambahan.
LAMPIRAN: MATERI TEKS PROSEDUR
TEKS PROSEDUR
Contoh Teks Prosedur
Membuat Nasi Goreng Spesial
Jakarta Nasi goreng menjadi makanan khas Indonesia yang begitu populer. Di balik kesederhanaannya, nasi goreng mengandung berjuta rasa nikmat sehingga tak mengherankan jika menu ini memiliki banyak penggemar. Bahkan orang asing yang datang ke Indonesia pun menyukai menu ini.
Nasi goreng memiliki banyak variasi, begitu pula dengan cara membuat bumbu nasi gorengnya. Variasi yang Anda temui saat ini dikarenakan bahan yang digunakan tergantung pada masyarakat setempat. Di Indonesia sendiri variasi umum nasi goreng ada nasi goreng biasa, nasi goreng jawa, nasi goreng putih, dan masih banyak lagi. Menu tambahan yang disajikan pada nasi goreng pun beragam. Ada yang dihidangkan dengan telur mata sapi, atau nasi goreng yang dibungkus dengan telur omelet. Ada pula yang disajikan dengan sosis dan bakso. Nasi goreng bisa dimasak sesuai dengan selera Anda.
Bagi Anda yang ingin tahu cara membuat nasi goreng sederhana dan enak untuk 1 porsi maupun cara membuat nasi goreng spesial dengan telur, simak artikel berikut seperti yang dirangkum Liputan6.com (25/5).
Bahan:
Nasi 600 gr
Daging ayam 125 g, cincang halus
Telur 1 butir, kocok
Bawang merah 5 siung
Bawang putih 3 siung
Cabai merah 3 buah
Daun bawang 1 batang, iris halus
Kecap manis 2 sdm
Garam 1 sdt
Merica 1 sdt
Minyak
Cara membuat:
Masukkan bawang merah, bawang putih, dan cabai merah ke dalam cobek kemudian haluskan.
Goreng telur menjadi orak-arik lalu sisihkan.
Bumbu yang telah dihaluskan kemudian di tumis dengan minyak secukupnya.
Tumis terus hingga harum.
Masukkan ayam cincang, telur, dan daun bawang ke dalam bumbu.
Tumis lagi hingga merata.
Tambahkan kecap, garam, dan merica. Aduk hingga rata.
Baru kemudian masukkan nasi dan aduk hingga rata.
Nasi goreng telah jadi dan sajikan pada piring saji.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa nasi goreng banyak macamnya. Tidak hanya cara membuat nasi goreng rumahan saja yang bisa Anda praktikkan. Anda juga bisa mencoba cara membuat nasi goreng jawa, seperti pada resep di bawah ini.
B. Kiat Berwawancara Kerja
Bagi perusahaan, wawancara merupakan kesempatan untuk menggali kualifkasi calon pegawai secara lebih mendalam, melihat kecocokannya dengan posisi yang ditawarkan, kebutuhan dan sifat perusahaan. Wawancara pun menjadi ajang tanya jawab antara pewawancara dengan
calon.
Agar mudah dipahami oleh mitra bicara, kita harus berbicara dengan jelas. Jaga agar kita tidak berbicara terlalu cepat atau lambat, atur juga suara agar jelas terdengar. Suara yang terlalu pelan membuat kita terlihat kurang percaya diri, sementara suara yang terlalu keras membuat kita terlihat agresif. Penggunaan bahasa yang baik juga menjadi suatu keharusan.
Selain itu, perhatikan betul apa yang disampaikan pewawancara agar kita dapat memerikan jawaban yang relevan. Tak ada salahnya menanyakan kembali atau mencoba mengulangi pertanyaan yang diajukan untuk memastikan bahwa pemahaman kita sudah benar. Namun, jangan melakukannya terlalu sering karena justru akan membuat pewawancara mempertanyakan daya tangkap kita.
Bahasa tubuh pun ikut memegang peranan. Gerakan nonverbal seperti mengangguk atau sikap tubuh yang agak condong ke depan menunjukkan bahwa kita tertarik pada apa yang disampaikan si pewawancaraa. Pastikan pula kita menjaga kontak mata dengan pewawancara, karena kontak mata penting dalam proses komunikasi, termasuk dalam wawancara kerja.
Singkatnya, akan lebih baik jika kita mampu menampilkan sikap yang antusias secara verbal maupun nonverbal. Oleh karena itu, hindari bahasa tubuh yang dapat diartikan negatif, seperti menggoyangkan kaki, mengetuk-ngetuk jari, atau menghindari kontak mata. Cara berbicara
yang percaya diri namun tidak terkesan sombong dapat menarik minat pewawancara.
Pada saat berbicara, hindari uraian yang panjang lebar dan berteletele. Cobalah mengemas kalimat secara singkat dan terfokus, namun tetap menarik. Kita diharapkan mampu menunjukkan bahwa kita adalah orang yang tepat untuk posisi yang ditawarkan. Ceritakanlah kemampuan atau
pengalaman yang relevan dengan posisi tersebut. Hindari mengkritik atasan atau rekan kerja sebelumnya karena ini menunjukkan sikap yang tidak profesional.
Selama wawancara berlangsung, jadilah diri sendiri. Ungkapan ini mungkin terdengar klise, namun jauh lebih baik menjadi diri sendiri dan berbicara dengan jujur, daripada mencoba mengatakan sesuatu yang menurut kita akan membuat pewawancara merasa terkesan. Jangan
melebih-lebihkan kualifkasi kita, apalagi mengelabui dengan memberikan data yang tidak benar. Cepat atau lambat, pewawancara akan menemukan bahwa data tersebut hanyalah karangan. Tunjukkan bahwa kita mampu mengenali diri kita sendiri dengan tepat.
Pewawancara biasanya memberikan kesempatan kepada kita untuk mengajukan pertanyaan di akhir wawancara. Gunakanlah kesempatan ini secara elegan dengan cara menunjukkan rasa ingin tahu kita tentang lingkup dan deskripsi tugas posisi yang dilamar, kesempatan pengembangan diri, dan sebagainya. Ini wajar, karena bersikap pasif dan menyerahkan segala sesuatu kepada pihak perusahaan tidak akan menambah nilai kita di mata pewawancara.
Calon yang mau bertanya dalam porsi yang tepat menunjukkan kesungguhan minatnya pada posisi yang ditawarkan dan juga pada perusahaan. Di sesi ini biasanya muncul pula pembicaraan mengenai gaji dan tunjangan. Pewawancara sangat menghargai kandidat yang mampu menentukan nominal gaji yang ia harapkan, karena dianggap dapat melakukan penilaian atas kemampuannya dan tugas-tugas yang akan dilakukan. Tentu saja angkanya harus logis sambil tetap membuka kesempatan untuk negosiasi.
Dengan persiapan matang dan unjuk diri yang baik saat wawancara, kita telah meninggalkan kesan yang layak untuk dipertimbangan oleh perusahaan
(Sumber: Unjuk Diri yang Baik dalam Wawancara Kerja dalam Kompas dengan pengubahan).
B. Pengertian
Teks prosedur adalah Teks yang berisi langkah-langkah atau tahapan yang harus dilaksanakan dalam melakukan suatu kegiatan sehingga suatu kegiatan itu dapat terlaksana dengan baik dan berhasil..
C. Fungsi
Teks prosedur berfungsi untuk menjelaskan langkah-langkah apa saja yang harus kita lakukan dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan sehingga pekerjaan atau kegiatan itu dapat terlaksana dengan baik.
D. Struktur
Teks prosedur dibentuk oleh ungkapan tentang tujuan, langkah langkah, dan penegasan ulang.
1. Tujuan merupakan pengantar tentang topik yang akan dijelaskan dalam teks. Pada contoh teks berjudul Kiat Berwawancara Kerja, pendahuluan yang dimaksud berupa pengertian wawancara dan manfaat bagi suatu perusahaan (paragraf 1)
2. Langkah-langkah berupa perincian petunjuk yang disarankan kepada pembaca terkait dengan topik yang ditentukan (paragraf 2-9)
3. Penegasan ulang berupa harapan ataupun manfaat apabila petunjukpetunjuk itu dijalankan dengan baik (paragraf 10)
E. Aspek kebahasaan
Berikut aspek kebahasaan teks prosedur.
1. Banyak menggunakan kata-kata kerja perintah (imperatif). Kata
kerja imperatif dibentuk oleh akhiran kan, -i, dan partikel lah.
Bentuk dasar
Imbuhan/Partikel
Bentukan Kata
Perhati
-kan
perhatikan
Pasti
-kan
pastikan
Tunjuk
-kan
tunjukkan
Cerita
-kan
ceritakan
Hindar
-i
hindari
Jadi
-lah
jadilah
2. Banyak menggunakan kata-kata teknis yang berkaitan dengan topic yang dibahasnya.
3. Banyak menggunakan konjungsi dan partikel yang bermakna penambahan
4. Banyak menggunakan pernyataan persuasif
5. Apabila prosedur itu berupa resep dan petunjuk penggunaan alat, akan digunakan gambaran terperinci tentang benda dan alat yang dipakai, termasuk ukuran, jumlah, dan warna.
INTRUMEN PENILAIAN SIKAP
Nama Satuan pendidikan : SMA NEGERI 1 CIKIDANG
Tahun pelajaran : 2019/2020
Kelas/Semester : XI / 1
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Wajib
NO
WAKTU
NAMA
KEJADIAN/
PERILAKU
BUTIR SIKAP
POS/
NEG
TINDAK LANJUT
1
2
3
4
5
2
7
8
INSTRUMEN PENUGASAN 1
Satuan Pendidikan
:
SMA NEGERI 1 Cikidang
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia - Wajib
Kelas
:
XI
Kompetensi dasar
:
3.2
Menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur
Indikator
:
3.2.1
Mengindentifikasi struktur teks prosedur
3.2.2
Menelaah kebahasaan teks prosedur.
Materi
:
Teks Prosedur
Contoh Tugas:
Bacalah contoh teks prosedur! Secara berkelompok, tentukanlah bagian-bagian dari struktur teks tersebut. Kemudian, simpulkan pula struktur teks tersebut berdasarkan kelengkapannya!
Bagian-Bagian Teks
Uraian
Pernyataan Umum/Tujuan
..
.
Tahapan-Tahapan
..
.
Penegasan Ulang
..
.
Simpulan ..
..
2. Presentasikanlah pendapat-pendapat kelompokmu tentang struktur itu. Kemudian, mintalah teman-teman dari kelompok lain untuk memberikan penilaian atau tanggapan-tanggapannya berdasarkan ketepatan, kelengkapan, dan kejelasan!
Nama Penanggap
Tanggapan
Ketepatan
Kelengkapan
Kejelasan
Tugas Analisis Kebahasaan
1. Kerjakanlah secara berkelompok. Untuk berlatih, tulislah masing-masing lima contoh kalimat yang menggunakan kata kerja perintah, kata-kata teknis, konjungsi penambahan, pernyataan persuasif, gambaran tentang benda dan alat yang dipakai. Kamu bisa mengerjakan tugas ini pada buku kerjamu!
Kaidah Kebahasaan
Contoh Penggunaan
kata kerja perintah
kata-kata teknis
konjungsi penambahan
pernyataan persuasive
gambaran tentang benda dan alat yang dipakai
2. Perhatikan kembali teks prosedur yang telah kamu baca. Secara berkelompok, lakukanlah penelaahan terhadap kaidah kebahasaan yang terdapat di dalam teks tersebut. Kemudian, laporkanlah hasil diskusi kelompokmu di depan kelas untuk mendapatkan tanggapan dari kelompok lain!
Judul Teks : .
Penulis : .
Sumber : .
Kaidah Kebahasaan
Kutipan Teks
INSTRUMEN PENUGASAN 2
Satuan Pendidikan
:
SMAN 1 Cikidang
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia Wajib
Kelas
:
XI
Kompetensi dasar
:
4.2
Mengembangkan teks prosedur dengan memerhatikan hasil analisis terhadap isi, struktur, dan kebahasaan
Indikator
:
4.2.1
Menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur
4.2.2
Menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan
Materi
:
Teks Prosedur
Contoh Tugas:
1. Carilah bagian paragraph dalam teks prosedur, cermati, lalu amatilah teks tersebut dikembangkan dengan pola apa.
Cuplikan Teks
Topik
Pola Pengembangan
2. Susunlah kalimat-kalimat di bawah ini sehingga menjadi teks-teks yang utuh dan padu!
No
Kalimat-kalimat
Urutan yang Benar
1
(1) Kupas bawang bombai dan iris tipis-tipis!
(2) Haluskan semua bumbu!
(3) Campurkan semua bahan dengan bumbu yang sudah dihaluskan! .
(4) Masukkan bahan tersebut ke dalam cetakan!
(5) Hidangan siap disajikan.
(6) Panaskan dalam oven dengan temperatur 80°C selama 20 menit!
(7) Siapkan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan!
2
1. Jadilah Nasi goreng special siap di hidangkan..
2. Aduk aduk agar telur tercampurata 3. Setelah baunya harum, masukkan daging ayam yang sudah dipotong potong,udang yang sudah di cuci bersih, smoke beef,dan telur yang sudah dikocok
4. Lalu masukkan bawang bombay, bawang putih , bawang merah yang sudah dicincang
5. Kemudian masukkan kacang polong, jamur kancing, cabai merah yang sudah diiris
6. Aduk aduk semua bahan sehingga bercampur rata, tunggu hingga matang
7. Campuri dengan sambal terasi secukupnya, kecap manis secukupnya, saus tiram secukupnya,
Saus sambal, merica bubuk, garam dan kaldu bubuk.
8. Selanjutnya masukkan nasi putih 5 porsi kedalam wajan
9. Panaskan mentega kedalam wajan, tunggu hingga mentega meleleh.
Tugas Individu
Lakukanlah kegiatan berikut!
1. Daftarlah topik yang berkaitan dengan kegiatan belajar di sekolahmu!
2. Susunlah topik-topik secara runtut ke dalam struktur prosedur!
3. Kembangkanlah kerangka itu menjadi sebuah karangan prosedur dengan memperhatikan kaidah-kaidah kebahasaan yang benar!
RUBRIK PENILAIAN PENUGASAN
Nama Peserta didik/kelompok :
Kelas :
Tanggal Pengumpulan : ...............................................................
No
Kategori
Skor
Alasan
1.
1. Apakah teks prosedur yang ditulis lengkap ?
2.
3. Apakah terdapat uraian tentangstruktur prosedur?
3.
Apakah bahasa yang digunakan untuk menginterpretasikan lugas, sederhana, runtut dan sesuaidengan kaidah EYD?
Jumlah
Kriteria:
5 = sangat baik, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, dan 1 = sangat kurang
INSTRUMEN TES TERTULIS
Satuan Pendidikan
:
SMA NEGERI 1 Cikidang
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia Wajib
Kelas
:
XI
Kompetensi dasar
:
3.2
Menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur
Indikator
:
3.2.1
Mengindentifikasi struktur teks prosedur
3.2.2
Menelaah kebahasaan teks ekplanasi
Tes Tertulis
Disediakan teks prosedur
1. Identifikasilah struktur dan aspek kebahasaan dalam teks prosedur
2. Kemukakan hasil identifikasimu terhadap struktur dan aspek kebahasaan teks prosedur tersebut
Tertulis (soal HOTS)
a. Identifikasilah teks prosedur dengan memperhatikan struktur dan aspek kebahasaan dalam teks prosedur!
b. Buatlah rancangan teks prosedur dengan memuat struktur dan aspek kebahasaannya!
c. Presentasikanlah hasil kerjamu dihadapan teman-temanmu.
RUBRIK PENILAIAN
Soal
Aspek yang Dinilai
Skor
1
Peserta didik mengidentifikasi struktur dan aspek kebahasaan teks prosedur dengan sangat tepat
4
a. Peserta didik mengidentifikasi struktur dan aspek kebahasaan teks prosedur dengan tepat
3
b. Peserta didik mengidentifikasi struktur dan aspek kebahasaan teks prosedur dengan kurang tepat
2
c. Peserta didik mengidentifikasi struktur dan aspek kebahasaan teks prosedur dengan tidak tepat
1
Soal
Aspek yang Dinilai
Skor
3
Peserta didik mengemukakan komentar dengan sangat tepat
4
d. Peserta didik mengemukakan komentar dengan tepat
3
e. Peserta didik mengemukakan komentar dengan kurang tepat
2
f. Peserta didik mengemukakan komentar dengan tidak tepat
1
INSTRUMEN PENILAIAN KETERAMPILAN
Satuan Pendidikan
:
SMA NEGERI 1 Cikidang
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia Wajib
Kelas
:
XI
Materi
:
Menganalisis dan memerankan dialog prosedur
Kompetensi dasar
:
4.2
Mengembangkan teks prosedur dengan memerhatikan hasil analisis terhadap isi, struktur, dan kebahasaan
Indikator
:
4.2.1
Menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur
4.2.2
Menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan
1. Lembar Soal Keterampilan
Mari berlatih menyusun teks prosedur! Langkah-langkah penyusunan teks prosedur sebagai berikut.
a. Menginventarisasi macam-macam kegiatan yang pernah atau dapat dilakukan.
b. Menentukan tema kegiatan
c. Membuat kerangka dalam bentuk topik-topik kegiatan secara garis besar.
d. Mensistematisasikan kerangka dengan benar dan mudah dipahami pembaca.
e. Mengumpulkan bahan-bahan.
f. Mengembangkan kerangka menjadi sebuah petunjuk yang jelas dan lengkap.
Buatlah sebuah teks prosedur dengan baik dan benar!
Rubrik Penilaian
Aspek yang Dinilai
Skor
Peserta didik membuat teks prosedur dengan sangat baik
4
g. Peserta didik membuat teks prosedur dengan baik
3
h. Peserta didik membuat teks prosedur kurang baik
2
i. Peserta didik membuat teks prosedur tidak baik
1
INSTRUMEN PENILAIAN PORTO FOLIO
Satuan Pendidikan
:
SMA NEGERI 1 Cikidang
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia Wajib
Kelas
:
XI
Materi
:
Menganalisis Teks prosedur
Kompetensi dasar
:
3.2
Menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur
4.2
Mengembangkan teks prosedur dengan memerhatikan hasil analisis terhadap isi, struktur, dan kebahasaan
Indikator
:
3.2.1
Mengungkapkan kembali struktur teks prosedur
3.2.2
Mengungkapkan kembali aspek kebahasaan teks prosedur
4.2.1
Menyusun rancangan garis besar suatu prosedur
4.2.2
Mengembangkan teks prosedur dengan memperhatikan struktur dan unsur kebahasaan
Tugas I
1. Simpan setiap tugas yang diberikan ke dalam map individu peserta didik (warna map sesuai dengan kelas masing-masing/tiap kelas beda warna map
2. Buat rangkuman dari setiap tugas yang telah diberikan dan rangkuman dibuat pada kertas folio bergaris.
3. Batas waktu pengumpulan tugas adalah di pertemuan terakhir
PEDOMAN PENSKORAN:
KRITERIA YANG DINILAI
SKOR MAKSIMAL
Peserta didik menyimpan semua tugas yang telah dikerjakan dengan lengkap, dan tugas dikerjakan dengan benar, serta dikumpulkan tepat waktu
4
Peserta didik menyimpan tugas-tugas yang telah dikerjakan, dan sebagian besar benar tapi kurang lengkap, serta dikumpulkan tepat waktu
3
Peserta didik menyimpan tugas-tugas yang telah dikerjakan, namun sebagian besar salah, kurang lengkap, dan tidak dikumpulkan tepat waktu
2
Peserta didik menyimpan tugas-tugas yang telah dikerjakan, namun tugas yang dikerjakan salah, dan kurang lengkap, serta tidak dikumpulkan tepat waktu
1
Peserta didik tidak menyimpan satu pun tugas-tugas yang diberikan karena tidak pernah mengumpulkan tugas
0
LEMBAR PENILAIAN PORTOFOLIO
Jenis Tugas :
Kelas : XI
Semester/ Tahun Pelajaran : 1/ 2019 - 2020
No
Nama Peserta didik
Tugas KD
Nilai
Tanda Tangan
Ket.
(Tgl Pengumpulan)
Peserta Didik
Guru
KISI-KISI SOAL HOTS
Tahun Pelajaran 2019/2020
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Program : XI
Semester : 1 (dua)
Kurikulum : 2013
No
Kompetensi Dasar
Materi Pokok
Kelas/
Semester
Indikator Soal
Level Kognitif
Bentuk Soal
Nomor Soal
1
3.2 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur
Mengindentifikasi struktur teks prosedur
XI/1
Disajikan teks prosedur, peserta didik dapat mengindentifikasi struktur teks prosedur
C4
Uraian
1
2
Menelaah kebahasaan teks ekplanasi
XI/1
Disajikan teks prosedur, peserta didik dapatmenelaah kebahasaan teks ekplanasi
C5
uraian
2
3
4.2Mengembangkan teks prosedur dengan memerhatikan hasil analisis terhadap isi, struktur, dan kebahasaan
Menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur
XI/1
Disajikan teks prosedurpeserta didik dapat menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur
C2
Uraian
3
4
Menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan
XI/1
Disajikan teks prosedurpeserta didik dapat menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan
C5
Uraian
4
5
Mengomentari teksprosedur
XI/1
Disajikan penampilan siswa membaca teksprosedur, peserta didikdapat memberikan solusi terhadap pertanyaan teks prosedur dengan benar
C2
Uraian
5
KARTU SOAL HOTS
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : XI / 1 (satu)
Kurikulum : 2013
Kompetensi Dasar
:
Merancang pernyataan umum dan tahapan-tahapan dalam teks prosedur
Materi
:
Teks prosedur
Indikator Soal Nomor 1
:
Disajikan teks prosedur, peserta didik dapat mengindentifikasi struktur teks prosedur dengan benar
Indikator Soal Nomor 2
:
Disajikan teks prosedur, peserta didik dapat menelaah kebahasaan teks ekplanasi dengan benar
Indikator Soal Nomor 3
:
Disajikan teks prosedur peserta didik dapat menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur dengan benar
Indikator Soal Nomor 4
:
Disajikan teks prosedur peserta didik dapat menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan dengan benar
Indikator Soal Nomor 5
:
Disajikan penampilan siswa membaca teks prosedur, peserta didikdapat memberikan solusi terhadap pertanyaan teks prosedur dengan benar
Cikidang, September 2019
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia
Dra. Hj.Eli Tarliah, M.MPd Anna Devara, S.Pd.
NIP. 196302131988032002
Sekolah
: SMA Negeri 1 Cikidang
Mata Pelajaran
: Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester
: X1/Ganjil
Materi Pokok
: Teks Prosedur
Alokasi Waktu
: 6 x 45 Menit (2X pertemuan)
A. Kompetensi Inti
K1
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
K2
Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
K3
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasaingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
K4
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
KOMPETENSI DASAR DAN IPK DARI KI 3
3.2 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.2.1 Mengindentifikasi struktur teks prosedur
3.2.2 Menelaah kebahasaan teks ekplanasi
KOMPETENSI DASAR DAN IPK DARI KI 4
4.2 Memproduksi teks prosedur secara lisan atautulis dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan
Indikator Pencapaian Kompetensi
4.2.1 Menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur
4.2.2 Menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan
C. Tujuan pembelajaran
Melalui kegiatan pembelajaran dengan pendekatann pedagogik genre, saintifik, dan CLIL dengan model saintifik peserta didik dapat mengindentifikasi struktur teks prosedur, menelaah kebahasaan teks prosedur, menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur, dan menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan dengan rasa ingin tahu, kerja keras, tanggung jawab, bersikap bersahabat/ komunikatif selama proses pembelajaran.
D. Analisis STEM
Saint
Pemahaman isi Teks prosedur
Pemahaman tentang struktur teks Prosedur Kompleks
Pengetahuan kaidah kebahasaan Teks Prosedur Kompleks
Engineering
Menentukan Struktur Teks Prosedur
Merancang Teks Prosedur berdasarkan isi, sistematika, dan unsur kebahasaannya
Teknologi
Internet untuk mencari referensi teks prosedur
Mencari di Youtube contoh teks prosedur kompleks yang menarik
Komputer untuk menyusun teks laporan dengan aplikasi Word dan Power Point
Matematika
Menyesuaikan Teks Prosedur yang disusun dengan estimasi biaya bila dipraktekan.
Peyusunan langkah-langkah atau tahapan dengan baik
E. Materi
Skematik Prosedur
Pernyataan Umum/tujuan
Tahapan-tahapan
Penegasan ulang
F. Pendekatan, Metode dan Model Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model Pembelajaran : Active Learning
3. Metode : diskusi kelompok, tanya jawab, penugasan
G. Media/Alat, dan Bahan Sumber Belajar
1. Media/Alat : Lembar Kerja, Papan Tulis/White Board, LCD
2. Sumber Belajar :
a. Suherli, dkk. 2017. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas XI Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
b. Suherli, dkk. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas XI Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
c. Kosasih, E. 2014. Jenis-Jenis Teks dalam Mata Pelajaran Bahasa Indoneisa SMA/MA/SMK. Bandung: Yrama Widya
H. Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1 (@2 ×45 menit)
Tahap
Langkah-langkah Pembelajaran
Nilai Karakter (PPK), Literasi, 4C, HOTS
Alokasi Waktu
Kegiatan Awal
1. Peserta didik merespon salam tanda mensyukuri anugerah Tuhan dan saling mendoakan.
2. Peserta didik merespon pertanyaan dari guru berhubungan dengan pembelajaran sebelumnya(tanya jawab).
3. Peserta didik menyimak kompetensi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari
4. Peserta didik mendiskusikan informasi denganproaktif tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
5. Peserta didik menerima informasi tentang hal-halyang akan dipelajari, metode dan media, langkahpembelajaran dan penilaian pembelajaran
Religius
Rasa ingin tahu
10 menit
Kegiatan Inti
Mengamati
1. Peserta didik mengamati contoh teks prosedur yang dibawa.
2. Peserta didik mengidentifikasi struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
Menanya
3. Peserta didik bertanya jawab tentang struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
4. Peserta didik memberi komentar terhadap struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
Menalar
1. Peserta didik duduk secara berkelompok (heterogen, 3-4 orang).
2. Peserta didik secara berdiskusi mengidentifikasi struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
Mencoba
1. Peserta didik mencoba menentukan dan menganalisis struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
5. Peserta didik mencoba menuliskan struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur.
Mengomunikasikan/menyajikan
1. Peserta didik secara berkelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
2. Peserta didik yang lain memberikan komentar dan masukan atas penampilan temannya.
Literasi
Rasa ingin tahu
Kerja sama (Collaborative)
Berpikir kritis (Critical thinking)
Kreativitas (Creativity)
Komunikatif (Communicative)
70 menit
Kegiatan Penutup
Kegiatan guru bersama peserta didik
1. Membuat rangkuman/ simpulan pelajaran.
2. Melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
3. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; dan
Kegiatan guru
1. Melakukan penilaian.
2. Memberikan tugas kepada peserta didik untuk banyak membaca teks prosedur lainnya.
3. Menyampaikan rencana pembelajaranyang akan dilakukan selanjutnya.
4. Menutup kegiatan belajar mengajar.
Kreativitas (Creativity)
HOTS
10 menit
Pertemuan 2 (@4 ×45 menit)
Tahap
Langkah-langkah Pembelajaran
Nilai Karakter (PPK), Literasi, 4C, HOTS
Alokasi Waktu
Kegiatan Awal
1. Peserta didik merespon salam tanda mensyukuri anugerah Tuhan dan saling mendoakan.
2. Peserta didik merespon pertanyaan dari guru berhubungan dengan pembelajaran sebelumnya(tanya jawab).
3. Peserta didik menyimak kompetensi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari
4. Peserta didik mendiskusikan informasi denganproaktif tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
5. Peserta didik menerima informasi tentang hal-halyang akan dipelajari, metode dan media, langkahpembelajaran dan penilaian pembelajaran
Religius
Rasa ingin tahu
15 menit
Kegiatan Inti
Mengamati
1. Peserta didik mengamati berbagai jenis teks prosedur
2. Peserta didik mengidentifikasi pola pengembangan dalam berbagai jenis teks yang disajikan.
Menanya
1. Peserta didik bertanya jawab tentang jenis teks prosedur
2. Peserta didik bertanya jawab dan berkomentar tentang pola pengembangan teks prosedur
Menalar
1. Peserta didik menentukan tema teks prosedur yang akan ditulisnya
2. Peserta didik menentukan satu pola pengembangan teks prosedur dari berbagai teks yang sudah diidentifikasi
3. Peserta didik merancang langkah-langkah teks prosedur dengan mempertimbangkan struktur dan kaidah kebahasaan.
Mencoba
1. Peserta didik mencoba menuliskan teks prosedur secara utuh dengan mempertimbangkan struktur dan kaidah kebahasaan.
Mengomunikasikan/menyajikan
1. Peserta didik mempresentasikan hasil karyanya
2. Peserta didik yang lain mengomentari dan memberi masukan.
Literasi
Rasa ingin tahu
Kerja sama (Collaborative)
Berpikir kritis (Critical thinking)
Kreativitas (Creativity)
Komunikatif (Communicative)
150 menit
Kegiatan Penutup
Kegiatan guru bersama peserta didik
1. Membuat rangkuman/ simpulan pelajaran.
2. Melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
3. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; dan
Kegiatan guru
1. Melakukan penilaian.
2. Memberikan tugas kepada peserta didik untuk Menyampaikan rencana pembelajaran yang akan dilakukan selanjutnya.
3. Menutup kegiatan belajar mengajar.
Kreativitas (Creativity)
HOTS
15 menit
I. Penilaian
1. Teknik Penilaian:
a. Penilaian Sikap :Observasi/pengamatan
b. Penilaian Pengetahuan : Tes Tertulis
c. Penilaian Keterampilan : Unjuk Kerja/ Praktik/ Portofolio
2. Bentuk Penilaian:
a. Observasi : Lembar pengamatan aktivitas peserta didik
b. Tes tertulis : Uraian dan lembar kerja
c. Unjuk kerja : Lembar penilaian presentasi
d. Portofolio : Pedoman penilaian portofolio
3. Remedial
a. Pembelajaran remedial dilakukan bagi Peserta didik yang capaian KD nya belum tuntas
b. Tahapan pembelajaran remedial dilaksanakan melalui remidial teaching (klasikal), atau tutor sebaya, atau tugas dan diakhiri dengan tes.
c. Tes remedial, dilakukan sebanyak 3 kali dan apabila setelah 3 kali tes remedial belum mencapai ketuntasan, maka remedial dilakukan dalam bentuk tugas tanpa tes tertulis kembali.
4. Pengayaan
Bagi Peserta didik yang sudah mencapai nilai ketuntasan diberikan pembelajaran pengayaan sebagai berikut:
a. Siswa yang mencapai nilai diberikan materi masih dalam cakupan KD dengan pendalaman sebagai pengetahuan tambahan
b. Siswa yang mencapai nilai diberikan materi melebihi cakupan KD dengan pendalaman sebagai pengetahuan tambahan.
LAMPIRAN: MATERI TEKS PROSEDUR
TEKS PROSEDUR
Contoh Teks Prosedur
Membuat Nasi Goreng Spesial
Jakarta Nasi goreng menjadi makanan khas Indonesia yang begitu populer. Di balik kesederhanaannya, nasi goreng mengandung berjuta rasa nikmat sehingga tak mengherankan jika menu ini memiliki banyak penggemar. Bahkan orang asing yang datang ke Indonesia pun menyukai menu ini.
Nasi goreng memiliki banyak variasi, begitu pula dengan cara membuat bumbu nasi gorengnya. Variasi yang Anda temui saat ini dikarenakan bahan yang digunakan tergantung pada masyarakat setempat. Di Indonesia sendiri variasi umum nasi goreng ada nasi goreng biasa, nasi goreng jawa, nasi goreng putih, dan masih banyak lagi. Menu tambahan yang disajikan pada nasi goreng pun beragam. Ada yang dihidangkan dengan telur mata sapi, atau nasi goreng yang dibungkus dengan telur omelet. Ada pula yang disajikan dengan sosis dan bakso. Nasi goreng bisa dimasak sesuai dengan selera Anda.
Bagi Anda yang ingin tahu cara membuat nasi goreng sederhana dan enak untuk 1 porsi maupun cara membuat nasi goreng spesial dengan telur, simak artikel berikut seperti yang dirangkum Liputan6.com (25/5).
Bahan:
Nasi 600 gr
Daging ayam 125 g, cincang halus
Telur 1 butir, kocok
Bawang merah 5 siung
Bawang putih 3 siung
Cabai merah 3 buah
Daun bawang 1 batang, iris halus
Kecap manis 2 sdm
Garam 1 sdt
Merica 1 sdt
Minyak
Cara membuat:
Masukkan bawang merah, bawang putih, dan cabai merah ke dalam cobek kemudian haluskan.
Goreng telur menjadi orak-arik lalu sisihkan.
Bumbu yang telah dihaluskan kemudian di tumis dengan minyak secukupnya.
Tumis terus hingga harum.
Masukkan ayam cincang, telur, dan daun bawang ke dalam bumbu.
Tumis lagi hingga merata.
Tambahkan kecap, garam, dan merica. Aduk hingga rata.
Baru kemudian masukkan nasi dan aduk hingga rata.
Nasi goreng telah jadi dan sajikan pada piring saji.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa nasi goreng banyak macamnya. Tidak hanya cara membuat nasi goreng rumahan saja yang bisa Anda praktikkan. Anda juga bisa mencoba cara membuat nasi goreng jawa, seperti pada resep di bawah ini.
B. Kiat Berwawancara Kerja
Bagi perusahaan, wawancara merupakan kesempatan untuk menggali kualifkasi calon pegawai secara lebih mendalam, melihat kecocokannya dengan posisi yang ditawarkan, kebutuhan dan sifat perusahaan. Wawancara pun menjadi ajang tanya jawab antara pewawancara dengan
calon.
Agar mudah dipahami oleh mitra bicara, kita harus berbicara dengan jelas. Jaga agar kita tidak berbicara terlalu cepat atau lambat, atur juga suara agar jelas terdengar. Suara yang terlalu pelan membuat kita terlihat kurang percaya diri, sementara suara yang terlalu keras membuat kita terlihat agresif. Penggunaan bahasa yang baik juga menjadi suatu keharusan.
Selain itu, perhatikan betul apa yang disampaikan pewawancara agar kita dapat memerikan jawaban yang relevan. Tak ada salahnya menanyakan kembali atau mencoba mengulangi pertanyaan yang diajukan untuk memastikan bahwa pemahaman kita sudah benar. Namun, jangan melakukannya terlalu sering karena justru akan membuat pewawancara mempertanyakan daya tangkap kita.
Bahasa tubuh pun ikut memegang peranan. Gerakan nonverbal seperti mengangguk atau sikap tubuh yang agak condong ke depan menunjukkan bahwa kita tertarik pada apa yang disampaikan si pewawancaraa. Pastikan pula kita menjaga kontak mata dengan pewawancara, karena kontak mata penting dalam proses komunikasi, termasuk dalam wawancara kerja.
Singkatnya, akan lebih baik jika kita mampu menampilkan sikap yang antusias secara verbal maupun nonverbal. Oleh karena itu, hindari bahasa tubuh yang dapat diartikan negatif, seperti menggoyangkan kaki, mengetuk-ngetuk jari, atau menghindari kontak mata. Cara berbicara
yang percaya diri namun tidak terkesan sombong dapat menarik minat pewawancara.
Pada saat berbicara, hindari uraian yang panjang lebar dan berteletele. Cobalah mengemas kalimat secara singkat dan terfokus, namun tetap menarik. Kita diharapkan mampu menunjukkan bahwa kita adalah orang yang tepat untuk posisi yang ditawarkan. Ceritakanlah kemampuan atau
pengalaman yang relevan dengan posisi tersebut. Hindari mengkritik atasan atau rekan kerja sebelumnya karena ini menunjukkan sikap yang tidak profesional.
Selama wawancara berlangsung, jadilah diri sendiri. Ungkapan ini mungkin terdengar klise, namun jauh lebih baik menjadi diri sendiri dan berbicara dengan jujur, daripada mencoba mengatakan sesuatu yang menurut kita akan membuat pewawancara merasa terkesan. Jangan
melebih-lebihkan kualifkasi kita, apalagi mengelabui dengan memberikan data yang tidak benar. Cepat atau lambat, pewawancara akan menemukan bahwa data tersebut hanyalah karangan. Tunjukkan bahwa kita mampu mengenali diri kita sendiri dengan tepat.
Pewawancara biasanya memberikan kesempatan kepada kita untuk mengajukan pertanyaan di akhir wawancara. Gunakanlah kesempatan ini secara elegan dengan cara menunjukkan rasa ingin tahu kita tentang lingkup dan deskripsi tugas posisi yang dilamar, kesempatan pengembangan diri, dan sebagainya. Ini wajar, karena bersikap pasif dan menyerahkan segala sesuatu kepada pihak perusahaan tidak akan menambah nilai kita di mata pewawancara.
Calon yang mau bertanya dalam porsi yang tepat menunjukkan kesungguhan minatnya pada posisi yang ditawarkan dan juga pada perusahaan. Di sesi ini biasanya muncul pula pembicaraan mengenai gaji dan tunjangan. Pewawancara sangat menghargai kandidat yang mampu menentukan nominal gaji yang ia harapkan, karena dianggap dapat melakukan penilaian atas kemampuannya dan tugas-tugas yang akan dilakukan. Tentu saja angkanya harus logis sambil tetap membuka kesempatan untuk negosiasi.
Dengan persiapan matang dan unjuk diri yang baik saat wawancara, kita telah meninggalkan kesan yang layak untuk dipertimbangan oleh perusahaan
(Sumber: Unjuk Diri yang Baik dalam Wawancara Kerja dalam Kompas dengan pengubahan).
B. Pengertian
Teks prosedur adalah Teks yang berisi langkah-langkah atau tahapan yang harus dilaksanakan dalam melakukan suatu kegiatan sehingga suatu kegiatan itu dapat terlaksana dengan baik dan berhasil..
C. Fungsi
Teks prosedur berfungsi untuk menjelaskan langkah-langkah apa saja yang harus kita lakukan dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan sehingga pekerjaan atau kegiatan itu dapat terlaksana dengan baik.
D. Struktur
Teks prosedur dibentuk oleh ungkapan tentang tujuan, langkah langkah, dan penegasan ulang.
1. Tujuan merupakan pengantar tentang topik yang akan dijelaskan dalam teks. Pada contoh teks berjudul Kiat Berwawancara Kerja, pendahuluan yang dimaksud berupa pengertian wawancara dan manfaat bagi suatu perusahaan (paragraf 1)
2. Langkah-langkah berupa perincian petunjuk yang disarankan kepada pembaca terkait dengan topik yang ditentukan (paragraf 2-9)
3. Penegasan ulang berupa harapan ataupun manfaat apabila petunjukpetunjuk itu dijalankan dengan baik (paragraf 10)
E. Aspek kebahasaan
Berikut aspek kebahasaan teks prosedur.
1. Banyak menggunakan kata-kata kerja perintah (imperatif). Kata
kerja imperatif dibentuk oleh akhiran kan, -i, dan partikel lah.
Bentuk dasar
Imbuhan/Partikel
Bentukan Kata
Perhati
-kan
perhatikan
Pasti
-kan
pastikan
Tunjuk
-kan
tunjukkan
Cerita
-kan
ceritakan
Hindar
-i
hindari
Jadi
-lah
jadilah
2. Banyak menggunakan kata-kata teknis yang berkaitan dengan topic yang dibahasnya.
3. Banyak menggunakan konjungsi dan partikel yang bermakna penambahan
4. Banyak menggunakan pernyataan persuasif
5. Apabila prosedur itu berupa resep dan petunjuk penggunaan alat, akan digunakan gambaran terperinci tentang benda dan alat yang dipakai, termasuk ukuran, jumlah, dan warna.
INTRUMEN PENILAIAN SIKAP
Nama Satuan pendidikan : SMA NEGERI 1 CIKIDANG
Tahun pelajaran : 2019/2020
Kelas/Semester : XI / 1
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Wajib
NO
WAKTU
NAMA
KEJADIAN/
PERILAKU
BUTIR SIKAP
POS/
NEG
TINDAK LANJUT
1
2
3
4
5
2
7
8
INSTRUMEN PENUGASAN 1
Satuan Pendidikan
:
SMA NEGERI 1 Cikidang
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia - Wajib
Kelas
:
XI
Kompetensi dasar
:
3.2
Menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur
Indikator
:
3.2.1
Mengindentifikasi struktur teks prosedur
3.2.2
Menelaah kebahasaan teks prosedur.
Materi
:
Teks Prosedur
Contoh Tugas:
Bacalah contoh teks prosedur! Secara berkelompok, tentukanlah bagian-bagian dari struktur teks tersebut. Kemudian, simpulkan pula struktur teks tersebut berdasarkan kelengkapannya!
Bagian-Bagian Teks
Uraian
Pernyataan Umum/Tujuan
..
.
Tahapan-Tahapan
..
.
Penegasan Ulang
..
.
Simpulan ..
..
2. Presentasikanlah pendapat-pendapat kelompokmu tentang struktur itu. Kemudian, mintalah teman-teman dari kelompok lain untuk memberikan penilaian atau tanggapan-tanggapannya berdasarkan ketepatan, kelengkapan, dan kejelasan!
Nama Penanggap
Tanggapan
Ketepatan
Kelengkapan
Kejelasan
Tugas Analisis Kebahasaan
1. Kerjakanlah secara berkelompok. Untuk berlatih, tulislah masing-masing lima contoh kalimat yang menggunakan kata kerja perintah, kata-kata teknis, konjungsi penambahan, pernyataan persuasif, gambaran tentang benda dan alat yang dipakai. Kamu bisa mengerjakan tugas ini pada buku kerjamu!
Kaidah Kebahasaan
Contoh Penggunaan
kata kerja perintah
kata-kata teknis
konjungsi penambahan
pernyataan persuasive
gambaran tentang benda dan alat yang dipakai
2. Perhatikan kembali teks prosedur yang telah kamu baca. Secara berkelompok, lakukanlah penelaahan terhadap kaidah kebahasaan yang terdapat di dalam teks tersebut. Kemudian, laporkanlah hasil diskusi kelompokmu di depan kelas untuk mendapatkan tanggapan dari kelompok lain!
Judul Teks : .
Penulis : .
Sumber : .
Kaidah Kebahasaan
Kutipan Teks
INSTRUMEN PENUGASAN 2
Satuan Pendidikan
:
SMAN 1 Cikidang
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia Wajib
Kelas
:
XI
Kompetensi dasar
:
4.2
Mengembangkan teks prosedur dengan memerhatikan hasil analisis terhadap isi, struktur, dan kebahasaan
Indikator
:
4.2.1
Menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur
4.2.2
Menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan
Materi
:
Teks Prosedur
Contoh Tugas:
1. Carilah bagian paragraph dalam teks prosedur, cermati, lalu amatilah teks tersebut dikembangkan dengan pola apa.
Cuplikan Teks
Topik
Pola Pengembangan
2. Susunlah kalimat-kalimat di bawah ini sehingga menjadi teks-teks yang utuh dan padu!
No
Kalimat-kalimat
Urutan yang Benar
1
(1) Kupas bawang bombai dan iris tipis-tipis!
(2) Haluskan semua bumbu!
(3) Campurkan semua bahan dengan bumbu yang sudah dihaluskan! .
(4) Masukkan bahan tersebut ke dalam cetakan!
(5) Hidangan siap disajikan.
(6) Panaskan dalam oven dengan temperatur 80°C selama 20 menit!
(7) Siapkan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan!
2
1. Jadilah Nasi goreng special siap di hidangkan..
2. Aduk aduk agar telur tercampurata 3. Setelah baunya harum, masukkan daging ayam yang sudah dipotong potong,udang yang sudah di cuci bersih, smoke beef,dan telur yang sudah dikocok
4. Lalu masukkan bawang bombay, bawang putih , bawang merah yang sudah dicincang
5. Kemudian masukkan kacang polong, jamur kancing, cabai merah yang sudah diiris
6. Aduk aduk semua bahan sehingga bercampur rata, tunggu hingga matang
7. Campuri dengan sambal terasi secukupnya, kecap manis secukupnya, saus tiram secukupnya,
Saus sambal, merica bubuk, garam dan kaldu bubuk.
8. Selanjutnya masukkan nasi putih 5 porsi kedalam wajan
9. Panaskan mentega kedalam wajan, tunggu hingga mentega meleleh.
Tugas Individu
Lakukanlah kegiatan berikut!
1. Daftarlah topik yang berkaitan dengan kegiatan belajar di sekolahmu!
2. Susunlah topik-topik secara runtut ke dalam struktur prosedur!
3. Kembangkanlah kerangka itu menjadi sebuah karangan prosedur dengan memperhatikan kaidah-kaidah kebahasaan yang benar!
RUBRIK PENILAIAN PENUGASAN
Nama Peserta didik/kelompok :
Kelas :
Tanggal Pengumpulan : ...............................................................
No
Kategori
Skor
Alasan
1.
1. Apakah teks prosedur yang ditulis lengkap ?
2.
3. Apakah terdapat uraian tentangstruktur prosedur?
3.
Apakah bahasa yang digunakan untuk menginterpretasikan lugas, sederhana, runtut dan sesuaidengan kaidah EYD?
Jumlah
Kriteria:
5 = sangat baik, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, dan 1 = sangat kurang
INSTRUMEN TES TERTULIS
Satuan Pendidikan
:
SMA NEGERI 1 Cikidang
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia Wajib
Kelas
:
XI
Kompetensi dasar
:
3.2
Menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur
Indikator
:
3.2.1
Mengindentifikasi struktur teks prosedur
3.2.2
Menelaah kebahasaan teks ekplanasi
Tes Tertulis
Disediakan teks prosedur
1. Identifikasilah struktur dan aspek kebahasaan dalam teks prosedur
2. Kemukakan hasil identifikasimu terhadap struktur dan aspek kebahasaan teks prosedur tersebut
Tertulis (soal HOTS)
a. Identifikasilah teks prosedur dengan memperhatikan struktur dan aspek kebahasaan dalam teks prosedur!
b. Buatlah rancangan teks prosedur dengan memuat struktur dan aspek kebahasaannya!
c. Presentasikanlah hasil kerjamu dihadapan teman-temanmu.
RUBRIK PENILAIAN
Soal
Aspek yang Dinilai
Skor
1
Peserta didik mengidentifikasi struktur dan aspek kebahasaan teks prosedur dengan sangat tepat
4
a. Peserta didik mengidentifikasi struktur dan aspek kebahasaan teks prosedur dengan tepat
3
b. Peserta didik mengidentifikasi struktur dan aspek kebahasaan teks prosedur dengan kurang tepat
2
c. Peserta didik mengidentifikasi struktur dan aspek kebahasaan teks prosedur dengan tidak tepat
1
Soal
Aspek yang Dinilai
Skor
3
Peserta didik mengemukakan komentar dengan sangat tepat
4
d. Peserta didik mengemukakan komentar dengan tepat
3
e. Peserta didik mengemukakan komentar dengan kurang tepat
2
f. Peserta didik mengemukakan komentar dengan tidak tepat
1
INSTRUMEN PENILAIAN KETERAMPILAN
Satuan Pendidikan
:
SMA NEGERI 1 Cikidang
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia Wajib
Kelas
:
XI
Materi
:
Menganalisis dan memerankan dialog prosedur
Kompetensi dasar
:
4.2
Mengembangkan teks prosedur dengan memerhatikan hasil analisis terhadap isi, struktur, dan kebahasaan
Indikator
:
4.2.1
Menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur
4.2.2
Menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan
1. Lembar Soal Keterampilan
Mari berlatih menyusun teks prosedur! Langkah-langkah penyusunan teks prosedur sebagai berikut.
a. Menginventarisasi macam-macam kegiatan yang pernah atau dapat dilakukan.
b. Menentukan tema kegiatan
c. Membuat kerangka dalam bentuk topik-topik kegiatan secara garis besar.
d. Mensistematisasikan kerangka dengan benar dan mudah dipahami pembaca.
e. Mengumpulkan bahan-bahan.
f. Mengembangkan kerangka menjadi sebuah petunjuk yang jelas dan lengkap.
Buatlah sebuah teks prosedur dengan baik dan benar!
Rubrik Penilaian
Aspek yang Dinilai
Skor
Peserta didik membuat teks prosedur dengan sangat baik
4
g. Peserta didik membuat teks prosedur dengan baik
3
h. Peserta didik membuat teks prosedur kurang baik
2
i. Peserta didik membuat teks prosedur tidak baik
1
INSTRUMEN PENILAIAN PORTO FOLIO
Satuan Pendidikan
:
SMA NEGERI 1 Cikidang
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia Wajib
Kelas
:
XI
Materi
:
Menganalisis Teks prosedur
Kompetensi dasar
:
3.2
Menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur
4.2
Mengembangkan teks prosedur dengan memerhatikan hasil analisis terhadap isi, struktur, dan kebahasaan
Indikator
:
3.2.1
Mengungkapkan kembali struktur teks prosedur
3.2.2
Mengungkapkan kembali aspek kebahasaan teks prosedur
4.2.1
Menyusun rancangan garis besar suatu prosedur
4.2.2
Mengembangkan teks prosedur dengan memperhatikan struktur dan unsur kebahasaan
Tugas I
1. Simpan setiap tugas yang diberikan ke dalam map individu peserta didik (warna map sesuai dengan kelas masing-masing/tiap kelas beda warna map
2. Buat rangkuman dari setiap tugas yang telah diberikan dan rangkuman dibuat pada kertas folio bergaris.
3. Batas waktu pengumpulan tugas adalah di pertemuan terakhir
PEDOMAN PENSKORAN:
KRITERIA YANG DINILAI
SKOR MAKSIMAL
Peserta didik menyimpan semua tugas yang telah dikerjakan dengan lengkap, dan tugas dikerjakan dengan benar, serta dikumpulkan tepat waktu
4
Peserta didik menyimpan tugas-tugas yang telah dikerjakan, dan sebagian besar benar tapi kurang lengkap, serta dikumpulkan tepat waktu
3
Peserta didik menyimpan tugas-tugas yang telah dikerjakan, namun sebagian besar salah, kurang lengkap, dan tidak dikumpulkan tepat waktu
2
Peserta didik menyimpan tugas-tugas yang telah dikerjakan, namun tugas yang dikerjakan salah, dan kurang lengkap, serta tidak dikumpulkan tepat waktu
1
Peserta didik tidak menyimpan satu pun tugas-tugas yang diberikan karena tidak pernah mengumpulkan tugas
0
LEMBAR PENILAIAN PORTOFOLIO
Jenis Tugas :
Kelas : XI
Semester/ Tahun Pelajaran : 1/ 2019 - 2020
No
Nama Peserta didik
Tugas KD
Nilai
Tanda Tangan
Ket.
(Tgl Pengumpulan)
Peserta Didik
Guru
KISI-KISI SOAL HOTS
Tahun Pelajaran 2019/2020
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Program : XI
Semester : 1 (dua)
Kurikulum : 2013
No
Kompetensi Dasar
Materi Pokok
Kelas/
Semester
Indikator Soal
Level Kognitif
Bentuk Soal
Nomor Soal
1
3.2 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur
Mengindentifikasi struktur teks prosedur
XI/1
Disajikan teks prosedur, peserta didik dapat mengindentifikasi struktur teks prosedur
C4
Uraian
1
2
Menelaah kebahasaan teks ekplanasi
XI/1
Disajikan teks prosedur, peserta didik dapatmenelaah kebahasaan teks ekplanasi
C5
uraian
2
3
4.2Mengembangkan teks prosedur dengan memerhatikan hasil analisis terhadap isi, struktur, dan kebahasaan
Menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur
XI/1
Disajikan teks prosedurpeserta didik dapat menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur
C2
Uraian
3
4
Menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan
XI/1
Disajikan teks prosedurpeserta didik dapat menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan
C5
Uraian
4
5
Mengomentari teksprosedur
XI/1
Disajikan penampilan siswa membaca teksprosedur, peserta didikdapat memberikan solusi terhadap pertanyaan teks prosedur dengan benar
C2
Uraian
5
KARTU SOAL HOTS
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : XI / 1 (satu)
Kurikulum : 2013
Kompetensi Dasar
:
Merancang pernyataan umum dan tahapan-tahapan dalam teks prosedur
Materi
:
Teks prosedur
Indikator Soal Nomor 1
:
Disajikan teks prosedur, peserta didik dapat mengindentifikasi struktur teks prosedur dengan benar
Indikator Soal Nomor 2
:
Disajikan teks prosedur, peserta didik dapat menelaah kebahasaan teks ekplanasi dengan benar
Indikator Soal Nomor 3
:
Disajikan teks prosedur peserta didik dapat menentukan pola pengembangan dalam menulis teks prosedur dengan benar
Indikator Soal Nomor 4
:
Disajikan teks prosedur peserta didik dapat menulis teks prosedur berdasarkan struktur dan kebahasaan dengan benar
Indikator Soal Nomor 5
:
Disajikan penampilan siswa membaca teks prosedur, peserta didikdapat memberikan solusi terhadap pertanyaan teks prosedur dengan benar
Cikidang, September 2019
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia
Dra. Hj.Eli Tarliah, M.MPd Anna Devara, S.Pd.
NIP. 196302131988032002
BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH
Zaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.
Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.
Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”
Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.
Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.
Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.
Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.
Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.
Zaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.
Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.
Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”
Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.
Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.
Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.
Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.
Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.
Langganan:
Komentar (Atom)
Memahami Wacana Sastra Melalui Kegiatan Membaca Puisi
Membaca Puisi diartikan sebagai kegiatan menyampaikan puisi didepan hadirin dengan sepenuhnya membaca teks puisi. Unsur gerak anggota tu...
-
Sepintas kilasan mengenai Instalasi Rindu Assalamualaikum….. Apa kabar pembaca? Semoga pembaca selalu dilindungi dan dirahmat...
-
Ketika Cinta Itu mati, Kamu Tidak Perlu Ikut Mati Bersamanya Cinta pertama ini s ebenarnya dimulai dari keisenganku de...