Pandangan-pandangan A.A. Navis
Ia
menyinggung tentang karya sastra yang baik. Yang terpenting bagi seorang
sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi
seperti kereta api; lewat saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi. Ia sendiri
mengaku menulis dengan satu visi. Ia bukan mencari ketenaran.
Dalam
konteks ini, ia amat merisaukan pendidikan nasional saat ini. Dari SD sampai perguruan tinggi, orang hanya boleh menerima,
tidak diajarkan mengemukakan pikiran. Anak-anak tidak diajarkan pandai menulis
oleh karena menulis itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca
karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Di perguruan
tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis, jadi terjadi
pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan.
Jadi,
menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang
merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap,
strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. "Tapi saya pikir
itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia
itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang
Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan
apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka
supaya tidak bodoh lagi," katanya.
Maka, andai
ia berkesempatan jadi menteri, ia akan memfungsikan sastra. "Sekarang
sastra itu fungsinya apa?" tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah
pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami
konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh
orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan
yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan,
tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Ia melihat, perkembangan sastra di
Indonesia sedang macet. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan
hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik
di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh
karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak
melihat orang-orang yang munafik, umpamanya.
Hal ini tak
terlepas dari mental korup para elit bangsa ini. Maka andai ia diberi pilihan
alat kekuasaan, atau menulis dan berbicara, yang dia pilih adalah kekuasaan.
Untuk apa? Untuk menyikat semua koruptor. Walaupun ia sadar bahwa mungkin
justeru ia yang orang pertama kali ditembak. Sebab, "semua orang tidak
suka ada orang yang menyikat koruptor," katanya seperti pesimis tentang
kekuatan pena untuk memberantas korupsi.
Perihal
orang Minang, dirinya sendiri, keterlaluan kalau ada
yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan. Sangat
tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat
pepatah "tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua" (terhimpit
maunya di atas, terkurung maunya di luar). Itulah A.A. Navis "Sang Kepala
Pencemooh".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar